Review Drama Korea My Mister (2018)

Review Drama Korea My Mister (2018) – Pagi yang demam, saya kembali menonton drama My Mister yang sudah entah beberapa hari saya lewatkan karena sakit. Hingga penghujung episode 16. Lama banget, durasinya sampai 1 jam 30 menit. Deman masih terasa, sakit kepala masih terasa, dan rasa haru itu masih terasa.

Tahun 2018. Entah berapa drama tahun 2018 yang saya tonton, drama ini adalah salah satu yang terlewatkan. Salah satu drama yang barang kali terbaik pada saat itu dari sisi “kedewasaan cerita.” Tunggu, kalian jangan pikir dewasa yang bagaimana. My Mister adalah drama korea yang nggak meledak-ledak lebay, drama ini mungkin menargetkan penonton dewasa yang “mau diajak ngobrol lewat drama.”

My Mister dapat penghargaan tahun 2019 Baeksang Arts Awards tanggal 1 mei 2019. Dengan membawa penghargaan best drama dan best screenplay. Emang semantul itulah dramanya.

My Mister hadir di TVN jumlahnya 16 episode. Tayang pada 21 maret sampai dengan 17 mei 2019. Punya para pemain besar diantaranya.

Lee Sun Kyun memerankan Park Dong Hoon. Dia yang jadi koki di pasta.

IU memerankan Lee Ji An.

Lee Ji Ah memerankan Kang Yoon Hee. Dia yang main The Ghost Detective di tahun yang sama.

Chang Ki Yong memerankan Lee Gwang Il. Dia yang mengejar-ngejar Lee Ji An.

Dan entahlah, dari komentar drama bagus apa nggak, saya mau nulis hal-hal yang saya rasakan saja. Saya juga nggak mau ngomong banyak sinopsis singkatya, yang jelas My Mister mengisahkan orang-orang yang hidup dan mencoba menemukan arti hidupnya, bukan meratapi, tapi berjuang di dalamnya.

  1. My Mister bukan tentang kehebatan tanpa cela

Pernah nggak nonton drama yang kaya raya, rupawan, masalah selesai dengan uang. Drama ini nggak kayak gitu, drama ini kesannya keseharian banget yang mengisahkan anak manusia dan kesulitan hidupnya. Makanya, drama ini kadang “kosong” tanpa dialog. Tapi nyampe banget.

  1. Drama ini tentang orang-orang dengan arena pertempuran masing-masing

Saat bekerja dan rasanya seperti orang yang dipaksa ke tempat jagal. Saat bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar. Saat banyak masalah dan berkata baik-baik saja. Saat diam adalah kata-kata berterbangan yang hendak mencari suaka hanya untuk sebuah pelukan. Saat tangis menjadi begitu mudah, mungkin bukan karena kesedihan, mungkin karena tangis ada karena berterima kasih pada kepahitan hidup.

  1. IU dan semua cast

Dibanding Hotel del Luna, IU di sini sangat terlihat “depresi”. Banyak sekali orang-orang dalam drama ini mengalami kesusahannya masing-masing, hidup dalam zona yang mereka sebut dengan zona pecundang. Semua ahjussi dalam drama ini main ok banget. Saya banyak banget nangis bahkan di momen yang kayaknya nggak perlu banget nangis.

bahkan dibanding del luna, saya lebih suka drama ini dari banyak sisi. yhaa walaupun beda genre. saya bandingin aja deh karena ada IU di keduanya. wkwkwkkw

  1. Drama My Mister nggak manis tapi lebih terasa dari yang manis

Nggak ada yang meledak-ledak. Semua kadang nampak normal, sama kayak saya hidup. Sama seperti kalian hidup. Sama seperti orang hidup pada umumnya.

Dan di ending. Drama ini… benar-benar hidup. Karena semua pemain melewati “kesedihannya” hingga tuntas menjalaninya.

Saya senang, masing-masing dalam cerita menemukan hidup barunya lagi. Bukan pencapaian tentenag menjadi kaya, bersatunya sepasang kekasih, atau hal-hal lain. Endingnya, sesederhana “pemainnya senyum lagi.”

  1. Saya suka merinding nonton My Mister

Bukan karena ada hantunya. Tapi tentang orang-orang tulus yang nggak sepenuhnya baik dalam drama ini. bukan tulus seperti sinetron Indonesia yang peran utamanya mudah dibodohi peran jahat. Tapi memang tentang ketulusan bahkan mungkin pemainnya nggak sadar.

  1. Saya nggak menyesal kenapa nonton sekarang

Dalam hidup, saya mencoba berbesar hati bahwa segala sesuatu datang di saat yang tepat. Mungkin, di kala sakit yang sedang saya alami, saya merasa drama ini mungkin lebih ngena. Mungkin kalau nontonnya kayak biasa aja, saya hanya bilang drama ini bagus untuk penonton yang lebih matang.

Secara emosional, drama ini dapat banget.

Kesedihan di awal. Keharuan saya pada Nona Lee Ji An yang membawa neneknya dengan troli belanjaan, dengan kemampuannya yang terbatas mencari uang, dengan kesedihannya yang tidak pernah dibagi orang lain.

Di episode 16. Saya sampai berhenti nonton sejenak saat menangis. Udah nggak kuat. Dan senyuman dari kedua peran utama dalam drama ini, begitu manis.

  1. Barang kali…

Barang kali, jika drama ini saya tonton tepat waktu, My Mister akan jadi salah satu drama terbaik tambahan untuk drama yang menyentuh dan nggak manya-menye. Nggak sekadar renyah, tapi mungkin kamu keselek saat “memakannya”. Mungkin juga kita sebagai penton, kita dipersilahkan “mengunyah” hingga kita merasa haru. Dan mungkin mengingat kesedihan kita masing-masing.

Kesimpulan Review Drama Korea My Mister (2018)

Drama yang indah. Itu saja. Adalah keindahan layak dinamai? *hehehehe ngutip salah satu novelis nih.

Sekian saja. Mungkin kalian sudah nonton. Eehh saya baru. Heheh…

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat