27 Desember 2023, saya baru pulang absen online sebentar kemudian pulang lagi. Iya, sebenarnya saya masih libur karena belum masuk jadwal piket.
Urusan liburan, tentulah saya jauh dari jalan-jalan. Segala kaitan tentang jalan-jalan bukan serta merta menggunakan kaki doang, tapi menggunakan uang untuk dibelanjakan dalam perjalanan. Entah siapa yang membuatnya menjadi rumit seperti ini.
Lalu, mengupayakan liburan saya tidak sia-sia. Membaca bukulah saya. Dengan modal list buku yang saya baca, di sini. Saya tahu ke mana arah. Tapi ketika belum punya uang cukup untuk membelinya dan di perpustakaan online tidak ada stoknya. Saya pun akhirnya hilang arah juga.
Ipusnas dan Pencarian Perpustakaan Online Legal Lainnya
“Jangan jahat dengan membeli buku bacakan.” Kata seseorang.
Urusan bajakan, saya nggak murni malaikat. Apalagi urusan drakor. Zaman sulit nonton dan hape yang ada dalah samsul galaxy young dengan usia yang young, membeli DVD bajakan adalah kemewahan. Meski ketika dapat DVD butut yang nggak bisa diplay adalah urusan kemalangan yang perih juga.
Pun saya nyari tempat baca buku legal. Gara-gara ngebet baca rapijali dua, saya pun mengetik nama buku itu dan nampaknya kosong. Beberapa buku yang masuk list ada di dalam antrean.
Emmmm.
Nampaknya list buku saya itu semacam dilema tersendiri karena banyak buku populer yang enaknya sih dibeli aja dan punya koleksinya.
Mencoba untuk tidak berputus asa dalam menjajal apikasi ipusnas, saya pun menuliskan nama Prie GS di kolom pencarian. Nyatanya ada beberapa buku beliau, dan yang belum saya baca adalah mendadak haji.
Tersedia dong. Saya langsung pinjam. Rekor sejarah, buku pertama yang saya pinjam adalah buku mendadak haji, gpp mungkin nanti Allah mengundang saya untuk naik haji secara mendadak juga. Yaaaa kan kita tidak tahu masa depan seperti apa.
Oh Kalian Belum Tahu Siapa Prie GS?
Prie GS sebenarnya sudah meninggal. Beliau saya kenali secara tidak sengaja pada buku diskonan gramedia (bukunya sudah saya kasih ke sekolah lama) kemudian lebih tahu lagi dari acara Djarum Cokelat di Youtube, nama acaranya adalah humor sufi.
Acara humor sufi begitu memikat hati saya. Dua bapak-bapak lucu bersama dengan Candra Malik benar-benar membuat saya banyak belajar tentang kelegaan hidup. Tentu saya sedih juga ketika Prie GS meninggal dunia.
Oh iya, Prie GS adalah seorang kartunis, wartawan, dan konon motivator.
Kalau kalian pernah tahu cara bicaranya Prie GS, kemudian baca bukunya. Rasanya nggak beda jauh. Prie seperti bicara dalam bukunya, ceplas-ceplos dan banyak kata-kata unik.
Mendadak Haji dan Pengalaman Berhaji
Prie GS mendapatkan kesempatan berhaji secara gratis dari kantornya. Ia menggambarkan dirinya sebagai anak bungus miskin nan manja kemudian ada momen di mana Prie GS banyak dilayani kemudian merasa sedikit gelisah ketika akan berhaji.
Proses sebelum haji, kisahnya mengurus surat sehat, saat ibadah itu sendiri dan pulangnya.
Urusan yang barangkali nampak biasanya tentang orang berhaji. Tapi bisa dibuat dengan ngalir semua dan seperti biasanya sebagai pembaca saya diingatkan kembali bahwa seorang penulis bisa menulis apapun, termasuk kehidupan mereka yang dianggap simple. Apalagi kisah berhaji yang mana merupakan momen besar dalam hidup manusia.
Prie GS membuat saya suka banget sama gaya penulisan yang ngalir, jujur, dan banyak bikin kaya akan kosa kata yang unik-unik. Prie GS bisa meromantisasi sesuatu dan juga membuat segalanya penting dan nanti kapan-kapan jadi tidak penting.
Urusan ihram yang kedodoran saja bisa menjadi dramatisasi cerita yang baik, masuk akal, dan muhasabah diri. Prie GS adalah penulis yang unik. Sangat unik. Kalau kalian suka yang lucu-lucu. Prie GS juga sering lucu tapi bisa bijak.
Semua tulisan di dalamnya dibuat mengalir. Bagaimana dirinya resah, berterima kasih pada abon, ketakutannya dalam mengantre, keribetannya dalam urusan sarung, sampai pengen pipis di dalam perjalanan yang mengandung unsur-unsur doa nan serius.

“Saya merasakan penderitaan setapak demi setapak. Doa-doa lenyap dari mulut saya, kecuali doa, “Selamatkan aku dengan kandung kemihku agar aku tidak ngompol!”
“Akhirnya, dengan bantuan teman-teman, pakaian ihram itu terpakai juga. Kedodoran memang, tetapi relatif aman. Risiko melorot yang saya khawatirkan itu, alhamdulillah, tidak terjadi. Keren juga rasanya ketika sudah berihram. Rasanya seperti orang saleh saja. Memang haru rasa, tetapi saya mulai paham teori rasa…”
“Jadi, perasaan-perasaan mengada, perasaan bereksistensi yang salah dalam menakar profesinya, menimbulkan macam-macam derita kejiwaan. Nah, sampai berhaji saja, gradasi perilaku saya soal yang begini ini mulai mengalami pelembutan, tetapi belum sepenuhnya habis. Naluri-naluri primitif pada masa lalu itu masih hidup. Naluri ingin diperhatikan, naluri sok ngartis, dan naluri sok penting masih terus meminta ruang.”
Prie GS dalam bukunya mendadak haji bukan saja dengan jujur menguras isi kepalanya, namun juga perasaanya. Lalu kita bisa melihat bahwa dalam momen yang akan dikenang, momen indah seperti pergi haji, akan selalu ada kekhawatiran dalam kepala. Tapi mencoba tenang, juga melihat lebih lebar tentang sesuatu akan selalu menjadi keharusan hidup.
Prie GS mengungkan segala keluh kesahnya, termasuk masalah stamina. Ia dengan jujur layaknya manusia dengan segala kegundahannya.
“…Namun, bagi saya, tawaf adalah hampir pingsan yang tidak ketemu pingsan. Tuhan mengirimi saya seorang nenek renta yang karenanya saya malu jika harus pingsan.”
Sudah berapa kali saya melihat orang berhaji kemudian pulang. Mereka bercerita seadanya. Tentu juga karena kami tidak dekat betul. Bagi saya buku ini bukan sekadar ngomongin perjalanan haji, tapi diingatkan kembali bahwa hal apapun bisa menjadi otentik tulisan kita kalau kita mau sepenuh hati nulisnya, meski idenya sederhana, meski idenya hanya kebelet pipis doang.
Yha. Ingatan bahwa ide nggak harus fantastis dan bombastis. Melainkan kelengkapan kita bercerita dengan baik dan tulus.
Melihat cover kayaknya nggak banget. Bapak-Bapak berkumis nan estetik ada terpampang nyata. Hahaha. Mungkin inilah yang orang bijak bilang, jangan melihat buku dari covernya.
Bagi saya, membaca buku ini adalah membaca sejarah satu manusia yang pernah hidup, tidak saling kenal pribadi dengan saya, tapi saya bisa dapat pelajarannya ketika beliau hidup. Doa baik untuk Prie GS yang sudah dipanggil Tuhan.
Catatan; Di bagian judul tidak saya kasih nomor karena buku ini bukan yang masuk list 35 buku itu.
Terima kasih telah membaca. Kalian bisa trakteer mimin di sini.