Saya kangen diri saya yang rajin membaca.
Saya kangen diri saya yang nggak pikir panjang buat beli buku meski uangnya pas-pasan segitu saja. Pokoknya saya kangen kebiasaan saya membaca.
Kemudian saya membuat semacam list buku yang ingin saya baca di tulisan yang ini. 35 buku sebelum 35 tahun. Yang mana jika sesuai target harusnya saya selesaikan setidaknya dua buku dalam sebulan, minimalnya.
Hingga 26 desember 2023, saya sudah membaca 3 buku yang ada di dalam list. Buku yang saya ulas ini sebenarnya adalah buku ketiga. Awalnya saya mau tulis di instragram saja. Tapi, malah kepikiran, eehhh gpp deh nulis di blog juga, dikit-dikit. Biar semangat nulis saya juga kumpul lagi.
Okehh… Nanti buku berikutnya yang masuk list, saya cicil tulis di sini juga.
Saya dan Karya Dee Terdahulu
Suka banget. Seri supernova saya pernah punya bukunya lengkap. Kemudian dijual karena butuh uang dan menyisakan satu buku saja. Petir.
Rajinnya nulis blog di tahun 2017 dan banyak buku yang saya lepaskan saat itu. Membuat semangat membaca saya tanpa disadari dengan jelas melemah, mengendor, dan bahkan seperti terlupa.
Maka beberapa karya Dee jelas saya masukkan ke dalam list wajib.
Rapijali 1: Mencari, Tentang Apa?
Tentang anak-anak muda yang masih SMA dalam meniti kehidupan mereka. Ping adalah peran utama. Ping awalnya tinggal berdua dengan Kakeknya Yuda di pinggir pantai Jawa Barat. Ping tidak punya Ibu, Ibunya telah lama berpulang. Ia punya teman kecil dan keluarga tetangga yang dekat dengannya.
Kakek Yuda datang ke Jakarta sebelum meninggal, ia mencari Ayah biologis Ping yang merupakan orang kaya dan pejabat yang mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI. Setelah Kakek Yuda meninggal, Ping datang ke Jakarta dan bergabung dengan keluarga Guntur. Guntur, ayah kandung Ping tidak bilang pada anaknya bahwa dirinya adalah sang ayah, istrinya tahu, anak kandungnya dengan sang istri tidak tahu. Ping punya saudara lelaki yang beda bulan dengannya, tapi Ping adalah kakaknya. Yuda lebih dulu menghamili orang lain dan menikahi perempuan lainnya.
Ping masuk sekolah swasta elit. Bermimpi punya band dan menjalin pertemanan dengan teman Bandnya, ada Rakai, Inggit, Buto, Jema dan Lodeh. Pada kisahnya, satu persatu masing-masing anggota band dibentuk, terbentuk, saling belajar dan menunjukan diri.
Buku pertama adalah buku pengenalan karakter. Ngalir gitu aja.
Saya Kaget dengan Kecepatan Saya dalam Membaca
Buku itu dibeli hanya satu, tanpa buku lainnya. Dibeli dengan harga 80rban, via online dan jelas ori. Hhehe, dapat yang ada ttd penulisnya juga, alhamdulillah.
Sore hari, sepertinya pukul 4, buku itu sudah ditangan. Langsung dibaca. Buku setebal 350 halaman itu selesai pukul 10 malam. Saya kaget dengen kecepatan membaca yang sama sekali nggak perlu ganti hari untuk membaca kembali.
Saya jadi optimis nantinya bisa menyelesaikan target membaca buku yang sudah di list setidaknya dua dalam satu bulan. Doakan yaaa. Doakan panjang umurnya juga.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Karena penulisnya mampu membuat saya merasa tidak terbebani dengan kisahnya yang mengalir, tidak ada istilah yang asing, tidak ada cerita magis, semuanya murni kisah remaja yang tidak manya-menye tapi mampu mengisahkan adegan dengan sangat baik.
Musik dideskirpsikan dengan sangat indah, seolah kita dituntun untuk paham. Menyenangkan.
Ping bagi saya sendiri masih banyak menyimpan misteri dalam ceritanya. Ia anak muda yang tidak tahu pria yang ia anggap kayak “majikan” adalah ayahnya sendiri. Ping cenderung pendiam, sopan, dan jenius namun masih mau belajar.
Dan usai membaca kemarin. Hari ini saya terngiang-ngiang sampai mencicipi 12 halaman pertama rapijali di web milik dee lestari. Makin penasaran namun harus bersabar. Saya nggak nemu di perpusnas yang bisa dibaca online. Adanya di marketplace dan harganya lebih dari 100k untuk 1 buku. Dan serinya ada dua lagi. Hehehehe. Sabaaarrr yaaa sabarrrrrr cinta.

Jujur, sebenarnya saya sedang banyak bersedih belakangan. Setahun rasanya sangat cepat dan sehari rasanya sangat lama. Saya kehilangan banyak antusiasme pada banyak hal. Termasuk nonton drakor. Kadang saya nonton dengan tatapan kosong. Berkali-kali dalam diri saya berkata, kalau saja saya tidak dilahirkan. Iya, bukan ingin mati. Tapi pikiran untuk berimaginasi andai saya tidak hidup. Maksudnya tidak pernah ada. Saya sering berharap begitu.
Saya lagi belajar menemukan antusiasme lagi. Sedikit melihat ke belakang betapa antusiasmenya saya.
drakor skr emang ngbosenin.. jd pindah ke drachin hehe. boleh dicoba