Ulasan Buku Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Ulasan Buku Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga – Mungkin banyak yang nggak tahu, bisa jadi nggak sadar pula. Kalau sejak lama, ada kategori komentar buku di besoksore.com. Isinya nggak banyak. Karena saya bagi-bagi juga dengan blog lain. Tapi kalau nemu sesuatu yang bagus, ingin sekali saya ulasa dimanapun.

Btw, meski sudah diulas di beberapa tempat lain. Saya sekalu coba untuk menulis dengan berbeda.

Ribut-Ribut yang Pernah Saya Lihat di Sosmed

Kalau cara menjadi kaya dengan cepat adalah kemustahilan.

Maka cara mencari orang ribut-ribut adalah keniscayaan ketemu kalau mainnya di sosmed.

Belum lama saya lihat berita kalau Lesti salah satu penyanyi dangdut akhirnya minta maaf kepada Siti Badirah. Sedikit kepo dengan apa sih penyebabnya dan bagaimana responnya.

Saya melihat Lesti menjawab pertanyaan dari Boy di kanal Yutub dan Lesti menjawabnya. Kalau saya jadi Lesti. Mungkin saya juga akan punya versinya sendiri.

Saya membayangkan seseorang bertanya dengan menyebut nama aktor korea misalnya. Kemudian sebuah nama saya sebut paling akhir. Saya pikir hal itu adalah kewajaran.

Tapi bukan Indonesia namanya kalau segala sesuatu bisa digoreng. Menjadi bulan-bulanan masa. Ribet emang, konten orang nggak punya dikatain ngemis, sangat tidak ramah. Mungkin akan ramah kalau kontennya bedah dan grebek rumah artis yang kayak istana.

Siti Badriah memberikan responnya lewat video. Juga ada yang dengan kata-kata lewat orang terdekatnya.

Saya jadi ingat salah satu buku yang lagi saya baca. Judulnya Berani Tidak Disukai

Saya Setuju Soal Manusia yang Merindukan Superioritas

Dalam bukunya dibahas terus menerus. Bahwa manusia secara tidak sadar ingin dirinya menjadi pusat, macem-macam caranya. Misalnya, penggunakan kalimat dengan nada tinggi, biasanya mengandung arti komunikasi yang sederhana, “bahwa dirinya tidak mau kalah dan ingin didengar.”

Orangtua yang meninggikan suara pada anaknya suatu ketika, pas anak punya salah. Kemudian ada tamu datang dan nadanya berubah.

Perkataan dengan nada tinggi, adalah alat komunikasi untuk menunjukkan “siapa bosnya”.

Pada buku ini terdapat dialog antara pemuda dan seorang filsuf. Pada buku, tema besarnya berakar pada Psikologi Adler dan beberapa pandangan soal pemikiran filsuf. Betapa kecenya ketika psikologi dicampur dengan ilmu filsafat.

Pertanyaan yang dibawa oleh pemuda begitu mudah kita temui dalam kehidupan pada umumnya, soal menjadi bahagia, soal pengakuan, soal hubungan dengan orangtua dan yang lain, dll.

Saya lumayan cepat menghabiskan bacaan ini karena menarik.

Sebuah buku dengan antitesis banyak kejadian yang ada, seperti trauma itu sebanarnya nggak ada, kita bisa bahagia saat ini juga, bahwa manusia mau tidak mau memang begitulah adanya, ingin disukai semua orang dan sering menjadi masalah diujungnya.

Saya membayangkan ketika Sibad sudah membaca buku ini ketika pernyataan Lesti dikeluarkan. Maka saya yakin responnya akan berbeda.

Bahwa merupakan suatu kewajaran mengenai pendapat orang lain, bahwa tidak perlulah memberikan respon yang berlebihan.

Pernah ada salah satu bloger yang membahas sebuah nama. Saya lupa namanya, salah satu karyanya adalah Rintik Sendu.

Saya nggak tahu dia siapa. Tapi bukankah itu soal kewajaran saja. Bahwa seterkenal apapun, maka akan ada orang-orang yang tidak tahu siapa dia. Bahwa sebesar apapun namanya, akan ada orang yang benar-benar tidak tahu.

Bahwa sebagaimanapun saya menulis, adalah sebuah kewajaran orang-orang tidak menyukai tulisan-tulisan saya. Mungkin sampai ke level benci kali yaa? karena saya dibilang nggak pantas menulis ulasan. Setelah membacanya, hal itu adalah kewajaran semata.

Wajar juga kok kalian nggak suka drama yang trending seperti Reply 1988.

Tidak menyukai sesuatu adalah kewajaran. Kemudian menjadi tidak disukai juga adalah kewajaran. Yang menjadi tidak wajar adalah ketika responnya berlebihan. Apalagi tidak disukai orang membuat kita merasa lebih rendah.

Saya pernah ada di posisi itu. Betapa sedihnya saya ketika “diminta pergi” oleh seorang pria yang saya suka. Saya merasa dunia menjadi tidak menyukai saya. Saya berandai-andai ada di posisi ideal dan dia tidak meninggalkan saya.

Menyedihkan.

Tapi kalau dilihat kembali. Perasaan itu adalah perasaan “goblok” saja.

“Buku yang Menohok”

Beberapa pernyataan yang diutarakan filsuf pada pemuda seakan memencundangi di beberapa bagian. Tapi setelah diudar masalahnya, bagian-bagian konstruksi berpikirnya masih sangat masuk akal.

Sebuah pernyataan bahwa trauma tidak ada bisa jadi merupakan titik pandang dimana kita bisa bahagia meski banyak hal terjadi di masa lalu.

Ada juga tentang posisi kita dengan orang lain sebenarnya sama-sama berjuang tanpa melihat siapa yang lebih unggul satu sama lain melalui titik-titik tertentu lainnya.

Ada juga tentang yang penting adalah kontribusi kita pada orang lain. Menjadikan diri bermanfaat bagi yang lain.

Beberapa hal lebih mendalam saya tulis di bagian bawah ini. klik saja kalau pengen lebih tahu soal bukunya.

Kesimpulan Ulasan Buku Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Menjadi berani tidak disukai. Mungkin terkesan kalimat sederhana. Tapi ketidakberanian untuk tidak disukai adalah sebab banyak masalah dalam hidup.

Berani tidak disukai bagi saya adalah salah satu jalan ikhlasnya hidup.

Salah satu buku bagus yang saya baca di tahun 2021. Mau lebih jelasnya di link yang diatas yaa. tenang, bukan tulisan berbayar kok. Ini sesuatu yang bagus dan kalian bisa dapatkan dengan membaca.

Next Post

No more post

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!