Resensi Stanza dan Blues W.S. Rendra

Resensi Stanza dan Blues W.S. Rendra

Resensi Stanza dan Blues W.S. Rendra – Halo dunia, kali ini saya mau buat resensi kumpulan puisi Stanza dan Blues karya W.S Rendra. Cetakan pertamamanya juni pada tahun 2016 dengan penyunting Edi Haryono dan diterbitkan oleh Penerbit Bentang, berisikan 126 halaman.

Nah dengan embel-embel kumpulan puisi terbaik W.S Rendra, tertariklah sama kumpulan puisi ini. Beda banget sama kumpulan puisi cinta W.S Rendra yang pernah saya buat resensinya di sini, kumpulan puisi di Stanza  dan Blues lebih beragam temanya dan berbau atmosfer religius. Secara ketebalan juga kumpulan puisi ini jauh lebih tebal.

Resensi Stanza dan Blues W.S. Rendra

Setelah membaca Stanza dan Blues W.S. Rendra

Agaknya di puisi ini saya mesti lumayan banyak diajak berpikir tentang makna puisinya dan tentu saja saya menikmatinya. Rasa-rasanya seperti ditarik ke semesta tersendiri oleh puisi-puisi Rendra ini. Pokoknya pas baca, saya sampai kebayang-bayang bagaimana Rendra membaca puisinya saat dipanggung. Ah sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana Rendra dan bagaimana seorang Rendra membaca puisinya. Dan lagi-lagi saya harus percaya bahwa karya bisa lebih hidup daripada umur pembuatnya. Sebagaimana yang sudah kita tahu bahwa W.S Rendra sudah berpulang pada 6 Agustus 2006 akibat penyakit arteri korner.

Terkesima yang membawa pada doa

Tidak ada kata selain terima kasih untuk W.S Rendra terkait karya-karyanya yang baru dibaca oleh pembaca baru seperti saya. Oleh karenanya, saat menutup buku ini saya hanya bisa berdoa semoga Beliau ditempatkan di tempat yang baik oleh Tuhan dan keluarganya selalu diberkati.

Salah satu puisi W.S Rendra dalam Stanza dan Blues yang berjudul Lagu Duka

Ia datang tanpa mengetuk lalu merangkulku

Adapun ia yang licik bernama duka.

Ia bulan jingga neraka langit dadaku.

Adapun ia yang laknat bernama duka.

Ia keranda cendana dan bunga-bunga sutra ungu

Adapun yang manis bernama duka.

Ia tinggal lelucon setelah ciuman panjang

Adapun ia yang malang bernama duka.

Licik, laknat, manis dan malang bernama duka. Karena begitulah hidup yang selalu menyimpan duka ditiap sela-selanya. Begitulah duka yang bisa datang pada manusia kapanpun ia mau tanpa perlu mengetuk untuk kemudian memeluk dan merangkul manusia. Ahh agaknya, duka adalah sahabat sejati manusia.

Rendra Tidak Pernah Lepas dari Sajak, Begitu Pula Sebaliknya

Hidupnya, pemahamannya, pemikirannya seolah dirangkum dalam kalimat-kalimat pendek berupa sajak. Seperti seorang filsuf yang membuat tulisan panjang kemudian di ujung sebelum penutup ia membuat kesimpulan pendek. Begitulah W.S Rendra dalam mata saya usai membaca karyanya. Semua seperti punya tarikan tentang hidup dan tentu saja Tuhan di dalamnya.

Stanza dan Blues W.S. Rendra direkomendasikan?

Ya, saya merekomendasikan untuk kalian yang mau melihat bagaimana dan mengapa W.S Renda begitu dikenang lewat sajak-sajaknya. Kalian akan diberi tahu semua itu lewat sajak-sajak di dalam buku ini.

Kadang saya merasa, W.S Rendra itu seorang sufi, hehe.

W.S Rendra, semoga engkau damai di sana.

Advertisements

2 thoughts on “Resensi Stanza dan Blues W.S. Rendra”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *