Resensi Daur 1 Anak Asuh Bernama Indonesia Emha Ainun Nadjib

Resensi Daur 1 Anak Asuh Bernama Indonesia Emha Ainun Nadjib

Resensi Daur 1 Anak Asuh Bernama Indonesia Emha Ainun Nadjib – Bagi kalian yang sudah sering membaca tulisan caknun di caknun.com, kalian pasti tidak asing lagi terhadap tema berjudul Daur dan buku Daur ini ada sampai nomor 4. Kali ini saya mau mengulas yang nomor satu terlebih dahulu ya…

Daur muncul cetakan pertamanya pada tahun 2017 bulan mei dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Tebal 394 halaman dan nomor ISBN nya adalah 978-602-291-398-6.

Pada pengantar buku ini Salman Faridi berdoa semoga buku daur ini membantu kita berjalan pada jaln cahaya. Untuk suatu masa yang tidak dihuni oleh kita. “Untuk anak cucu.. seperti wejangan Cak Nun.

Pada pengantar lainnya,  dikatakan bahwa ; Ruang slulup bernama Daur pada gilirannya mendorong para pembaca setia untuk menorehkan pengalaman dari slulup tersebut. Bisa berupa perenungan, apresiasi, pengasahan diri, penemuan jawaban atas pertanyaan, clue pemahaman hidup, pemaknaan diri, pembacaan situasi sosial, dan dimensi tak sadar lainnya yang membuat daur menjadi sparring patner bagi mereka (pembaca).

Resensi Daur 1 Anak Asuh Bernama Indonesia Emha Ainun Nadjib

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisannya dalam Daur merupakan upaya pengembalikan mata kita dari keterjeratan pada materialisme, baik secara fisik maupun cara berpikir.

Saya bersyukur

Entah bagaimana, saya merasa bersyukur Cak Nun masih menulis hingga saat ini. Setelah saya membaca tulisan lamanya tahun 80 – 90an akhirnya saya menemukan sesuatu yang baru. Tulisan-tulisan itu disebut Daur, sebenarnya dalam web caknun.com juga sudah ada. Tapi, berbeda dengan buku, dalam buku dijelaskan lebih dalam lagi, lebih panjang lagi dan terkadang ada yang bikin nangis, bikin nggak ngerti dan bikin takjub.

Bertemu lagi dengan Markesot, DKK

Untuk yang sudah pernah membaca karya dari Cak Nun, maka kita tidak asing lagi dengan nama Kiai Sidrun, Markesot, Brakodin, Junit, Sapron dan makhluk-makhluk lain pada semesta Daur.

Baca juga : kumpulan nasehat-nasehat Cak Nun.

Jadi, saya merasa kembali ke ingatan saya saat membaca Markesot atau Slilit Sang Kiai. Atmosfernya agak mirip tapi daur lebih kuat dikarenakan Daur punya masalah-masalah yang cukup identik dengan zaman now.

Saya Tidak Bosan Membaca Daur

Terkadang membaca saat membaca daur sepertinya otak saya sedang mengunyah permen karet, terkadang saya sulit menerka apa maksud dari tulisan Cak Nun ini, tapi entah bagaimana ada suatu keindahan di sana, di dalam daur. Dan seperti yang sudah saya katakan di awal, terkadang saya menangis membaca Daur entah mengapa, entah di koordinat mana daur ini membuat hati saya bergetar. Terkadang saya membaca ulang dibeberapa bagian, mencoba memahami, dan lagi-lagi sepertinya semesta daur begitu cair. Ketika membaca ulang, saya menemukan hal baru padahal saya membaca bagian yang sama.

Daur adalah biji

Seperti yang dikatakan Cak Nun, daur itu bukan buah manis yang bisa siap santap dimakan. Ia hanyalah pelok (biji) yang bisa ditanam dan bisa entah kapan tumbuhnya. Entah di mana tumbuhnya. Jadi, dalam Daur. Kita diajak untuk berpikir dan belajar.

Daur 1 Anak Asuh Bernama Indonesia Emha Ainun Nadjib direkomendasikan?

Sangat. Sangat rekomendasi. Membaca buku ini merupakan salah satu metode untuk jiwo nguntal rogo.

 

 

Advertisements

You May Also Like

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!