Komentar Setelah Membaca Dilan

Komentar Setelah Membaca Dilan

Komentar Setelah Membaca Dilan  – Entah ada angin apa yang membuat saya membaca Dilan (dia adalah dilanku tahun 1990) dan postingan kali ini adalah murni komentar setelah membaca dilan dengan tebal sekitar 300an dan mampu saya baca kurang dari 4 jam saja. Kilat. Super kilat kaya cetak foto, hehe.

Saya dapat buku ini dari salah seorang teman yang penasaran mengapa Dilan begitu populer? Temen saya ini beli berdasarkan kepopuleran novel Dilan dan ia beli pada pertengahan tahun 2017. Dibilang telat juga boleh. Kemudian saya minjem pada akhir tahun ini.

Kenapa saya membacanya begitu cepat?

Komentar Setelah Membaca Dilan
sumber : pribadi

Fix, ini adalah masalah selera. Saya ingin cepat-cepat baca Dilan karena saya tidak ingin berlama-lama menderita. Lho kok menderita, kok bisa? Mungkin ini sudah masuk kondisi umur yang sudah menua ya? agaknya bacaan novel remaja sudah tidak tepat lagi untuk saya, yha walaupun ada beberapa bagian yang saya nikmati kok. Kan Dilan itu lucu dan pemikirannya aneh. Tapi untuk saya yang usianya menjelang 30 tahun dan membaca novel remaja rasanya ingin jambak-jambak rambut.

Novel ini ditulis oleh Pidi Baiq dengan sudut pandang Milea yang hanya seorang gadis remaja kelas 2 SMA yang ditaksir oleh anak genk motor yang sedikit nakal bernama Dilan. Menjalin hubungan dengan Dilan dan ditaksir oleh lelaki macam Dilan di usia remaja memang asyik kali ya? itu juga sebenarnya pangsa pasar buku ini lebih banyak dibaca remaja. Anggaplah saya ini hanya orang yang ikut-ikutan saja.

Oh iya, ini juga tulisan Pidi Baiq yang saya baca pertama kali, sebelumnya saya belum pernah membaca karya Pidi Baiq. Duh kuper ya saya? Maklumlah sudah tua.

Dari sisi cerita, novel Dilan kok saya merasa ini hanya tentang kegalauan Milea dan kisah kasmarannya sama Dilan ya? Untuk sisi nilai sepertinya kurang. Saya mungkin agak jahat ya ngasih komentar? Tapi gimana lagi dong, lagi-lagi masalah selera.

Tapi, ada tapi lagi nih. Saya juga pernah kok baca Novel Remaja yang ditulis oleh Dee Lestari berjudul Perahu Kertas dan saya merasa jatuh cinta sama kedua karakter tersebut dalam novel. Kugy dan Keenan bagi saya lebih punya nyawa, lebih punya tujuan untuk mimpi-mimpi mereka. Sedangkan Dilan dan Milea? Saya masih meraba bagaimana cerita ke depan. Memang sih saya belum baca semuanya hingga akhir di novel yang ketiga. Dan entahlah apa saya masih tertarik untuk membaca cerita selanjutnya.

Eh tapi, Dilan manis kok.

Tentang filmya yang dengar-dengar akan segera diputar dengan pemain yang mantan anggota CJR itu. Saya sama sekali tidak tertarik. Membayangkannya saja saya sudah tidak bisa.

Ahh… mungkin karena usia saja yang sudah tua ya.

Hehe…

Inilah komentar setelah membaca Dilan. Bagaimana menurut kalian?

Advertisements

You May Also Like

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!