Ulasan Drama Korea Law School (2021)

Ulasan Drama Korea Law School (2021)

Ulasan Drama Korea Law School (2021) – Dibandingkan yang sedang on going lainnya, Law School saya nikmati cukup perlahan. Karena takut puyeng. Bagaimana tidak puyeng? Tema hukum seperti ini adalah tema yang nggak ringan. Untuk menghindari otak jadi berat. Saya nikmati perlahan. Kenapa demikian? Baca sampai akhir aja ya.

Saya buat poinnya. Seperti biasa. hal ini hanyalah pendapat pribadi tanpa mewakili siapapun.

Penulisnya Pasti Riset dengan Keras

Seo In. Seorang penulis yang karya sebelumnya tidak diketahui. Bagi saya adalah penulis yang bekerja sangat keras sekali.

Karena apa?

Dari awal sampai akhir, Law School sangatlah solid. Ada simulasi sidang dan anak-anak yang sekolah. Ada kisah beneran yang dihadapi juga.

Di beberapa momen ada istilah asing, soal pasal-pasal yang cocok dengan keadaan dan bagaimana eksekusi menurut jasa dan hakim.

Keren sama penulisnya. Kagum banget.

Seiring berjalannya kisah, drama ini nggak punya waktu untuk hal semacam kisah cinta.

Dulu di dr. Romantic aja ada kisah cintanya, meski dunia kedokteran juga dikisahkan begitu menonjol.

Cukup Nggak Nyangka Sama Rating dan Reaksi Penonton Kebanyakan

Nggak semua orang nyaman dengan genre hukum apalagi solid seperti ini. Kalau romansa yang dibalut kisah hukum kemudian yang main Ji Chang Wook wajar aja rame meski ceritanya nggak bagus.

Melihat keadaan rating stabil di angka 5 dan 6 sungguh kabar yang lumayan baik. Bahwa tema tidak terlalu familiar seperti drama hukum bisa diterima. Apalagi dikalangan anak muda. Yaaa meskipun salah satu motivasi mereka nonton adalah Kim Beom.

Sikap Hormat Terhadap Guru

Salah satu poin besar yang bisa diambil dalam drama ini adalah sikap murid yang menghormati gurunya. Sampai di level khawatir pun ada.

Di kelas, kita bisa melihat ada guru besar yang menyenangkan dan ada yang sangat tegas. Bagaimanapun mereka-mereka sangat dihormati oleh muridnya.

Melihat kondisi anak-anak didik juga cukup masuk diakal.

Ada Kang Sol A yang sangat realistis sebagai mahasiswi. Suka pusing kalau banyak tugas, ngemil dan makan mie instan sembarang, juga kekhawatirannya akan hal yang ia hadapi. Kang Sol A adalah wujud representasi murid kebanyakan.

Jika ada murid dengan level genius dan bagaimana mereka sungguh paham akan mareri serta ambisius. Itu masih bisa dibilang wajar sampai akhir.

Di ending. Saat mereka melakukan simulasi kemudian menemukan celah pada kasus yang mereka selesaikan kemudian akhirnya mereka harus ikhlas dengan hasilnya.

Mental mereka sudah jadi.

Lebih realistis jadi murid pokoknya, dengan komposisi kepribadian masing-masing. Beda dengan murid di Akademi Cheong A. Yang ribut terus. Padahal mereka seniman.

Konon seniman itu mencintai keindahan, bukan keributan. Tapi di drama sebelah jadi beda.

Di drama hukum malah lebih terlihat keindahannya. Yaaa meski ada dinamikanya juga.

Mungkin karena Law School adalah drama hukum kali ya? dimana hukum adalah landasannya adalah logika. Jadi lebih masuk akal tentang komposisi muridnya.

Agak Gemes Soal Intrik Masalah Internal

Biasalah. Ketika masalah muncul. Sekolah ada di bagian untuk melindungi β€œcitra”.

Musuh besar dalam drama juga ada juga yang dari dalam. Agak gemes soalnya nggak terlalu cepat eksekusi. Tapi yaa sudahlah yang penting ada eksekusi.

Emangnya hukum di Indonesia? Kalau orang punya duit dan jabatan bisa licin terhadap hukum?

Ulasan Drama Korea Law School (2021)
sumber: asianwiki.com

Lebih Bisa Dinikmati Saat Santai

Nonton Law School paling enak saat nggak buru-buru. Apalagi buru-buru mau selesai.

Mendingan dinikmati perlahan sambil makan-makan ciki atau ketoprak saja.

Nonton pun jangan dipercepat. Santai aja sesuai sama detik-detik waktu yang berlalu.

Penah nyobain mempercepat tayangan, terus saya puyeng. Akhirnya nonton santai aja. Meski di bagian-bagian akhir, saya nonton agak barengan. Mengingat tulisan saya yang lain harus selesai. *btw, saya mau ikutan lomba cerpen. doakan cerpennya jadi dengan cihuy yaa.

Kesimpulan Ulasan Drama Korea Law School (2021)

Solid banget sebagai drama hukum. Ibaratnya murni drama hukum.

Melihat kisah pertemanan, soal kesungguhan menuntut ilmu, banyak yang bisa diambil. Tidak melulu sempurna tentang hal-hal yang sungguh baik. Tapi soal bagaimana anak-anak belajar di dalamnya adalah tentang kesungguhan.

Tentang cinematografi juga enak dilihat. Transisi gambar enak banget dilihatnya. Kadang fokus ke bagian sudut tertentu yang menambah kuat suasana cerita.

Saya bukan orang yang ngefans banget sama drama sejenis ini.

Tapi 16 episode masih sangat bisa untuk dinikmati dengan lika-likunya. Semacam warna genre lain di tahun ini yang penuh dengan tema gelap.

Tahun ini tuh drama rumah tangga aja temanya seperti mati lampuu yaaa sayang. Seperti mati lampu…

Huh.

Dahla gitu aja yaaa.

Untuk trakteer mimin bisa di link yang ini. Nanti saya tambah-tambah karyanya lagi.

Terima kasih sudah membaca.

You May Also Like

5 Comments

  1. Kalau menurut saya kasus Yeseul (kasus pembelaan diri dan pelecehan/kekerasan) itu malah jauh lebih menarik dibanding kasus utama. Bener-bener eksekusinya greget dan intens, didukung pula sama duet penampilan Yangcrates dan Yeseul yang mantap. Pokoknya di eps 14-16 saya ngerasa jadi agak berkurang intensitasnya. Apalagi sidang akhir kasus utama yg rasanya “Hah gini doang?”. Tapi overall drama ini tetep seru dan cukup solid, apalagi ada Mba Yeseul yang cantik banget dengan mukanya yang sendu itu wkwk

    1. kalau sendu di saya jatohnya jadi seneng duit Dit.

      btw. ini komenmu biasanya paling gercep. rupanya nonton banyak drama dan film juga. πŸ˜€

  2. Sebenernya Seo In pernah nulis drama hukum juga judulnya Lawyer vs Lawyer. Gak tau kenapa gak kedeteksi asianwiki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!