Resensi Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA

Resensi Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA

Resensi Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA – Kalau kupu-kupu bersayap gelap adalah kumpulan cerpen karya Puthut EA yang pertama saya baca. Maka Cinta Tak pernah Tepat Waktu adalah novel pertama kaya Puthut EA yang pertama kali saya baca. Dan saya membacanya saat pertengahan tahun 2017 disaat saya sedang menikmati masa patah hati saya yang sedang bener-benar sakit. *gila paragraf pertama malah curhat. Ah kayaknya saya salah judul?

Setelah ditelisik, awal mula cetak dari novel ini adalah pada tahun 2005 bulan mei. Tapi, saya dapat yang penerbitnya buku mojok dengan peyuntingnya adalah Eka Kurniawan. Tahu kan kalian siapa Eka Kurniawan dengan karyanya seperi O, Cantik itu Luka dll? Jadi, kalau bisa dikatagorikan, saya adalah pembaca baru Puthut EA pada zaman now. Karena kalau sesuai pada tahun awal terbit, maka saya adalah masih bocah ingusan yang mesti mikir keras untuk membeli nasi kuning dan bayar angkot dan pastinya boro-boro bisa beli buku. *paragraf kedua saya masih curhat.

Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA ini menceritakan tentang apa sih?

Tentang seorang pria yang merasa cintanya tidak tepat waktu, beralih dari satu kisah ke kisah lainnya tapi tidak bersatu juga. Pun juga menceritakan tentang seseorang yang berusaha move on dari kisah lamanya yang memilukan, dengan kisah lamanya yang acap kali perempuan itu sering ia rindukan.

Huh…

Seraut Wajah di Genangan Waktu (sebuah prolog)

Saya belum pernah membaca prolog seindah ini dalam sebuah novel. Terus terang saya amat sangat terkesan karena saya anggap kalimat penyusunnya begitu jujur dan demikan adanya. Dia hanya ingin hal-hal sederhana seperti seseorang yang menemani hidupnya.

Kemudian bolehlah saya kutip sedikit saja dari halaman 8.

Aku tidak ingin cinta sejati. Tapi, biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya.

Entahlah, saya pikir itu sangat religius. Hehe, ya sederhana sih alasannya. Cinta yang sejati hanya milik Tuhan. Karena Dia adalah pemilik sejati.

Menjejakkan ke bagian satu (percakapan di taman)

Bab ketemu mantan. Hahaha…

Lebih tepatnya lagi mamtan yang sudah berbahagia dengan kehidupan keluarganya dan seenak jidatnya nanya kabar ke mantannya yang belum punya gandengan baru. Menohok, terlalu. Ah sialan. *eh kok saya jadi ngomong kasar.

Kemudian kisah berlanjut. Berjalan mengalir dan menarik.

Resensi Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA

Bagian terakhir (ucapan terima kasih)

Jadi, ceritanya dia (Puthut EA itu sendiri???) mengatakan ucapan terima kasih pada orangtua sekaligus permaintaan maaf karena belum bisa menghadirkan menantu dan menjadikan novel ini sebagai pengganti menantu. Haha. Katanya jauh lenih mudah menulis daripada mencari seorang kekasih (oke fix kali ini saya amat sangat setuju dengan Om Panutanque yang satu ini).

Baca juga : Resensi kumpulan cerpen kupu-kupu bersayap gelap – Puthut EA

Ahhh, ini nih salah satu cara oke membuat kisah yang sebenarnya cukup memilukan namun sanggup mendulang royalti.

Buku Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA, hadir di dalam hidup saya dengan amat sangat tepat waktu. Ah lagi-lagi saya bersyukur pada Tuhan karena dapat bacaan yang bagus di waktu yang tepat. Karena buku ini memberikan sudut pandang baru mengenai kisah cinta dan kegagalan-kegagalannya.

Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA direkomendasikan?

Amat sangat rekomendasi deh. Mungkin kalian akan sebel sama endingnya. Tapi saya suka, karena begitulah adanya… Ahhh suka deh pokoknya.

Sekian ya Resensi Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Puthut EA yang lebih mirip cuthatan ini.

Terima kasih Puthut EA.

Eaaaaaaaaaaaaa….

 

 

Advertisements

You May Also Like

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!