Ulasan Drama Korea Lost (2021)

Ulasan Drama Korea Lost (2021) – Sejauh mana sebuah drama menggetarkan hati kalian?

Saya makin mengukuhkan diri jika drama korea yang bagus menurut saya bukanlah bagaimana tentang konflik yang naik turun kayak naik kora-kora. Melainkan konflik yang “intens”.

Eemm.

Lost ternyata punya judul lain yang mana judulnya adalah No Longer Human atau Human Disqualification.

Gila. Jadi judulnya sebenarnya sungguh menarik.

Tentunya saya sudah nonton di hari akhir pekan. Hanya saja karena pekerjaan lainnya dan sempat sakit selama satu minggu, saya benar-benar baru menuliskannya.

Lalu bagaimana setelah 16 Episode Habis?

Bagus banget.

Pernah nonton drakor dan penasaran sama endingnya?

Drama lost malah memberikan kesempatan pada saya untuk banyak berdoa jika para peran utama di dalam drama Lost menjadi orang-orang yang “lebih baik.”

Lebih baik di sini bukan soal keburukan sebelumnya, melainkan soal mereka yang “gamang” akan hidup mereka.

Yang paling saya suka pada drama Lost di ending adalah adegan saat Lee Bujung ngobrol sama suaminya di kasur. Bahwa sang suami, rela melakukan apapun untuk istrinya. Bahwa Lee Bujung menjadi sangat terbuka akan apa yang ia alami dan rasakan.

Tidak ada pelukan yang menenangkan. Keduanya bahkan bicara tanpa saling menatap mata. Tapi, semuanya “nyampe”.

Lagi nih, sebuah drama yang ditulis dengan baik.

Anak Muda yang Merasa Nggak Jadi Apa-Apa

Pertanyaan besar manusia adalah tentang dirinya sendiri. Bagaimana dirinya menjadi atau bagaimana tindakan yang akan dilakukan.

Lee Bujung dan Lee Kang Jae adalah dua insan kebanyakan, yang mematok tentang kepemilikan.

Misalnya, Bujung punya mimpi. Ia punya setidaknya satu atau dua anak. Punya buku yang disampulnya bertuliskan namanya dan tinggal di pinggiran kota.

Ternyata? Hal itu tidak terjadi.

Lee Kang Jae. “Aku tidak tahu apa hidup. Aku tidak tahu apa itu mati.” Ia mendapati kenyataan bahwa dalam perjalanan hidupnya yang begitu bajingan, tidak ada sesuatu yang menjadi miliknya.

Sebuah Kegelisahan yang Merupakan Kewajaran

Hal-hal seperti ini bisa dialami oleh banyak orang. Pada usia apapun.

Eksekusinya pun sama sekali tidak ada kesan menggurui. Perubahan perilaku ada para pemain juga tidak drastis 180 derajat.

Bagi saya, melihat keduanya masih hidup dan menjalani hidup saja sudah bagus.

Toh begitu bukan?

Jangan-jangan pencapaian tertinggi manusia hanyalah “bisa bertahan” juga sudah bagus.

“Bun, hidup berjalan seperti bajingan.”

Perpisahan dan Persatuan Tidak Menjadi Sesuatu yang Primer

Seringkali penonton dipecah menjadi dua kubu untuk urusan siapa yang akan dipilih oleh pemeran utama.

Kemudian saling ribut.

Di drama ini ada nggak?

Ada nggak yang ribut mengenai pilihan Bujung? Memilih bersama dengan suaminya yang menghabiskan waktu bersama mantan kekasihnya yang masih ia sukai. Atau bersama Kang Jae tempatnya menghabiskan waktu?

Nggak ada ‘kan?

Karena letak dimana bersatu atau berpisah tidak menjadi primer atau utama. Utamanya adalah perjalanan karakter masing-masing.

Makanya adegan kesukaan saya di episode 16 adalah ketika Bujung mau mencurahkan hati dan pikirannya pada sang suami.

Dialognya itu mantep banget pokoknya.

Kayak Kebanyakan Orang

Drama biasanya menceritakan orang kaya, sukses di dalam karir, sukses di dalam percintaan. Tentang kehidupan raja, orang-orang yang mencoba sukses kemudian berhasil, atau dendam yang seperti rindu yang terbayarkan tuntas.

Lost, sesuai judul lainnya yang artinya manusia yang diskualifikasi, adalah titik yang yang biasa dialami siapapun.

Lost bagus karena dialog yang kuat, akting yang bagus dan intens banget dalam membangun jalan cerita yang emang enak diikuti.

Kita nggak jadi membenci suatu karakter tertentu.

Kita nggak jadi terlalu memuja karakter utamanya.

Mereka hanya indah dalam perjuangannya masing-masing. Barangkali belum menjadi sosok yang benar-benar mereka inginkan. Tapi mereka masih hidup dan menjalani hidupnya setapak demi setapak.

Hidup memang akan tidak ideal bukan?

Ketemu OST Sondia dan Lagu Bagus Lainnya

Termenung dibawanya.

Terhanyut didalam melodinya.

Meski nggak ngerti artinya. Heheh.

Banyak momen dimana saya benar-benar menangis. Bukan soal karena dramanya, karena emang kena banget di hati.

Kesimpulan Ulasan Drama Korea Lost (2021)

Diantara kesibukan yang bajingan.

Diantara kehidupan yang berjalan.

Diantara lelah. Akhir pekan pernah menjadi waktu yang saya tunggu untuk melihat kisah mereka. Kisah yang tidak jauh dari kehidupan manusia pada umumnya.

Lalu.

Apakah saya atau kalian masih mementingkan mau jadi apa?

Padahal yang terpenting adalah hal apa yang kita lakukan. Bukan “menjadinya”.

Gimana kabar kalian?

Penutup

Link trakteer mimin masih di sini yaa.

Terima kasih.

You May Also Like

2 Comments

  1. selalu skip di part yang ada bapaknya lee bu jeong,,,
    pasti nangis kalo pas bagian itu, gk bisa nonton TT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!