Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 7 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 7 Part 1 – Episode sebelumnya bisa kamu baca di sini. Untuk selengkapnya di sini.

Ji Hun dan Soo Young melihat rekaman CCTV orang yang membeli arang di toserba.

“Ini An Seok Won, ini pakaian yang sama seperti saat dia meninggal. Kami melihat riwayat rumah sakitnya. Dia mendapatkan resep obat tidur selama tiga tahun ini. sudah pasti ini bunuh diri.” Ucap Soo Young.

***

Woo Kyung sangat kaget melihat sosok mayat yang duduk di depannya. Tak lama polisi dan petugas forensik pun datang.

Episode 7 – Rahasia Wanita Mumi

Ji Hun dan Soo Young lah yang menyelidiki kasus di pusat anak.

“Apa yang terjadi pada mayat ini?” tanya Ji Hun saat datang di lokasi TKP.

“Tempat ini sangat dingin dan dia berubah menjadi mumi.” Ucap petugas forensik. “Itu sebabnya dia terlambat ditemukan.”

“Sudah berapa lama sejak dia meninggal?”

“Kurasa lebih dari satu bulan. Karena kondisinya, aku penasaran apakah autopsi akan membantu.”

Soo Young menemukan sesuatu benda berwarna ungu. Petugas menjawab tanpa ditanya. “Itu respirator yang digunakan oleh penderita asma.”

“Apa dia terluka?” Tanya Ji Hun.

“Dia terlihat mengerikan, tapi lukanya tidak terlalu banyak.”

“Detektif Kang. Ini sepertinya KTP miliknya.”

“Lee Hye Sun.” Ji Hun membaca namanya.

“Siapa yang menemukannya di tempat ini?” Tanya Ji Hun lagi.

***

Woo Kyung ketakutan di ruangan kerjanya dan masih menatap langit-langit. Ji Hun dan Soo Young pun mendatanginya.

“Kamu melihatnya?” Tanya Woo Kyung.

“Melihat apa?”

“Puisi di dinding.”

“Apakah itu sebuah puisi?”

“Hidup yang busuk dan hancur lebur. Berat kejahatan.”

Soo Young melanjutkan. “Beratnya daging. Seharusnya daging, bukan kejahatan. Judulnya parjurit tidak dikenal oleh Cheon Sang Byeong. Aku mencari di internet.”

“Kita duduk saja? silakan duduk.” Ucap Ji Hun yang masih melihat Woo Kyung kebingungan dan terus saja menatap langit-langitnya.

“Kenapa kamu pergi ke sana?” Tanya Ji Hun. “Itu pusat budaya. Kudengar kamu tidak punya urusan untuk pergi ke sana.”

“Saat kebetulan berulang. Itu bukan lagi kebetulan.” Ucap Woo Kyung yang masih menatap langit-langit.

“Apa yang terulang?” tanya Soo Young.

“Puisi. Ada sebuah puisi lagi.”

“Tolong berhenti bicara tentang puisi. Beritahu kami alasanmu bisa menemukan mayat itu.”

“Ada puisi lain di TKP. Kita sudah membicarakan hal ini.”

“Cha Woo Kyung Sshi. Kenapa kamu pergi ke sana?”

***

Eun Ho turun dari truknya. Ia melihat garis polisi dan orang-orang ramai berkerumun.

Eun Ho bertanya, “Sedang terjadi sesuatu?”

“mereka menemukan mayat.”

Tak lama, petugas membawa mayat terebut keluar.melihat ada dua detektif dan Woo Kyung. Eun Ho pun langsung pergi.

***

Woo Kyung akan pulang. Ji Hun memaksa mengantarnya.

“Kamu baru saja melihat mayat. Kamu bisa menyetir malam ini?” Ji Hun mengambil kunci mobil Woo Kyung.

“Kembalikan.”

“Ini bisa sangat traumatis. Jika kamu mengalami kecelakaan, polisi akan disalahkan. Kami melihat An Seok Won membeli arang. Ada riwayat resep pil tidurnya. Kami mendeteksi pil tidur dalam darahnya juga. Hampir pasti dia bunuh diri. Kami menangkap orang yang membunuh Park Ji Hye. Kasusnya sudah ditutup untuk sementara.”

“Tidak ada alasan lagi untuk khawatir tentang puisi-puisi itu. kedua kasus telah diselesaikan.”

“Kamu bisa berkata begitu.”

“Jadi semuanya kebetulan.”

“Ya. semua ini kebetulan.”

“Kamu benar-benar percaya bahwa itu suatu kebetulan?”

“Apalagi yang bisa aku percayai? Tidak ada bukti itu bukan suatu kebetulan. Kita harus percaya.”

Dan Woo Kyung akhirnya diantar. Ibu dan Eun Seo sudah menunggu. Jadi Eun Seo sedang dititipkan di rumah ibunya.

“Siapa lelaki itu? kenapa dia mengendarai mobilmu?” Tanya Ibu.

“Dia seorang polisi. Akan aku jelaskan nanti. Masuklah.” Woo Kyung dan Eun Seo pun masuk kembali ke mobil.

***

“Omma.. apakah polisi menangkap kita?” Tanya Eun Seo. Woo Kyung pun nampak melamun saat ditanyai.

“Ibumu lelah. Itu sebabnya ahjussi yang menyetir. Polisi hanya menangkap orang jahat. Kami melindungi orang baik.”

“Omma kapan ayah kembali? Sudah lebih dari 100 malam.”

“Ayah akan segera kembali. Kita tunggu sebentar lagi.”

“Kuharap ayah segera kembali. Aku merindukannya.”

Saat sampai di rumah. Ji Hun bertanya. “apakah orang lain mengurus anak bungsumu?”

Woo Kyung hanya terdiam. Ji Hun pun memberikan kuncinya. “Aku tahu ini sulit. tapi beristirahatlah.”

“Suamiku dan aku bercerai. Aku belum memberitahu putriku.”

Woo Kyung pun memberikan gantungan foto yang ada mantan suaminya dan Yeon Joo pada Ji Hun. Ji Hun pun terdiam. “Aku pikir kamu akan penasaran.” Ucap Woo Kyung.

***

Kali ini Eun Ho sedang ditanyai oleh Soo Young.

“Kamu melihat orang mencurigakan datang beberapa bulan terkahir?”

“Banyak orang berlalu-lalang di tempat ini. itu pusat budaya, jadi selalu penuh dengan anak-anak dan para ibu.”

“Kamu satu-satunya yang bertugas?”

“Aku satu-satunya yang melakukan pemeriksaan malam. Mereka membiarkan aku tinggal di sini sebagai gantinya. Saat luasnya diperkecil, penjaga malam diberhentikan. Awalnya, aku bertanggung jawab mengelola fasilitas.”

“Tolong buatkan salinannya untukku.”

“Baik.” Eun Hoo ke monitor CCTV dan mengkopi datanya.

Sementara Soo Young melihat kamar yang didiami Eun Ho.

“Ini sedikit berantakan bukan?” Ucap Eun Ho.

“Kamu memiliki banyak mainan anak-anak.”

“Beberapa anak-anak dari pusat datang ke sini untuk bermain. Kami memperbaiki mainan atu membuat mainan baru.” Diska lepas pun diberikan. “Kami hanya bisa menyimpan rekaman untuk sebulan, jadi apapun di masa sebelum itu telah dihapus.”

“Ketika berkeliing di malam hari, kamu pernah merasakan ada seseorang di dalam gedung?”

“Tidak. Kenapa?”

“Di gedung tempat kami menemukanmayat, ada tanda yang menunjukkan orang menetap untuk sementara.”

“Aku tidak tahu.”

“Pernahkah kamu ke gudang itu?”

“Kami jarang menggunkannya. Itu di daerah terpencil, jadi pasti beberapa staf kami tidak tahu tentang itu.”

“Gudang itu tidak diketahui oleh anggota staf, tapi mendiang wanita itu tahu.”

“apakah mayatnya wanita?”

“Ya, seorang wanita.”

***

Ji Hun memeriksa foto di depan Soo Young dan satu rekan detektif lainnya.

“Kamu yakin itu Lee Hye Sun?”

“Jika tidak memercayainya. Kamu bisa lihat ini.” CCTV pun diputar. Dan langsung cocok dengan data di KTP. “Kecocokannya 97. 034 %. Kita beruntung. Kita mendapatkan rekaman dua hari sebelum dihapus. Ini mungkin kali terakhir dia terlihat sebelum meninggal. Kini kemungkinan waktu untuk kematiannya lebih kecil.”

Soo Young berkata. “tidak ada yang tahu ada tunawisma tinggal di gedung. Aku bertanya dengan fotonya, tapi tidak ada yang mengenalinya.”

“Orang mungkin tidak memperhatikan. Karena banyak orang berlalu-lalang, dia memanfaatkan hal itu.”

Foto tulisan di dinding diperlihatkan. “Sulit mengidentifikasi tulisan tangannya karena itu ditulis dengan cat semprot. Bahan ini pun mengering hanya dalam tiga jam. Waktu penulisannya juga tidak mungkin kamu ketahui.”

“Mungkin saja itu ditulis pada saat kematiannya, atau bahkan sebelum itu.” Ucap Detektif. “Artinya, tulisan aneh itu mungkin tidak relevan dengan kasus ini.”

“Kita tidak tahu apa-apa.” Ucap Ji Hun. “Jika orang menginjak bumi, mereka pasti meninggalkan jejak. Tapi mendiang Lee Hye Sun meninggalkan dua jejak yang membuktikan dia hidup di bumi.”

“Jasad muminya dan suaminya bukan?”

“Kamu pikir itu mungkin?”

“Dia bahkan tidak punya cacatan telpon. Aneh bukan?”

“Jika tidak ada bukti, kita harus menemukan jejak. Carilah hal yang bisa membuktikan keberadaan Lee Hye Sun.  Periksa setiap sekolah dan panti asuhan di negara ini. bisa teman sekelas, guru, atau sekadar tetangga. Temukan siapapun yang mengenali Lee Hye Sun.”

Lanjut ke bagian 2. klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat