Ulasan Film To All The Boys: Always and Forever (2021)

Ulasan Film To All The Boys: Always and Forever (2021) – Untuk ulasan film yang pertama ada di tulisan yang ini yaaa. Sebenarnya sudah nonton juga yang kedua, cuma waktu itu kepotong sebab hapenya rusak. Jadi, malah kelupaan dan langsung masuk ke yang ketiga.

Nanti kapan-kapan saya nonton kelanjutannya supaya jelas.

Kali ini? Apa kisahnya?

Jadi, di Netflix itu ada semacam kisah tematik gitu guys. Bulan dua kan identik dengan bulan cinta. Yaaa banyak gitu film cinta-cintaan yang muncul. Apakah bagus?

Lara Jean Covey akhirnya mau masuk kuliah. Dia memimpikan satu kampus yang sama dengan kekasihnya Peter. Peter sudah diterima di kampus impian. Namun tidak dengan Lara yang masih menanti.

Hari itu tiba. Pengumuman menyatakan bahwa Lara nggak diterima. Ia malah diterima di kampus yang letaknya nggak jauh dari rumahnya, dekat sekali. Tapi dia sejujurnya sangat senang dengan itu.

Emmmm Untuk Kisah Awal Ada di Korea Lho…

Salah satu yang memanjakan dari trilogi film ini adalah visualnya. Kali ini satu keluarga sempat main ke Korea dan menemukan gembok yang ditaruh mendiang ibu mereka di sana. Oh yaa. Buat yang belum tahu, Bapaknya Lara kan ceritanya mau nikah lagi gitu.

Tapi yaa nggak terlalu spesial sih ya? entah kenapa kalau ngomongin Korea, seorang Lana Condor sama sekali tidak mencerminkan ras korea. Malah lebih kayak orang asia yang deket-deket sama Indonesia (dan emang gitu, keturunan emang nggak salah).

Saya juga agak bingung sama saudari Lara yang lainnya. Kayak kakak pertamanya yang entahlah seperti orang mana. Dan adiknya Kitty yang sungguh bule sekali.

Emang kalau hasil kawin campur bisa kayak gitu yaa?

Ah sudahlah.

Secara Cast, Saya Merasa Mereka Terlalu Tua

Ayo dong Netflix…. kenapa sih yaa kalau buat cast itu suka jauh dari karakter aslinya. Lana Condor dan Noah Centineo terlalu tua untuk 17 atau 18 tahun. Sumpah deh. Tapi yaaa sudahlah ya. namanya aja film dari tahun-tahun lalu juga.

Dahla dahla lupakan.

Secara Ide Cerita Tidak Lebih Bagus dari yang Pertama

Yang kedua saya belum rampung nonton ya. Sudah saya kasih di atas. Jadi, saya bisa bandingkan dengan yang pertama. Untuk yang pertama saya cukup suka.

Ide ceritanya juga cukup menarik. Dimana adiknya Kitty mengirimkan semua surat cinta Lana pada semua pria yang Lana maksud sampai jadian sama Peter. Keresahannya terasa.

Di sini?

Hadeehhhh.

Resah sama pria yang nantinya nggak kuliah bareng itu berasa gimana gitu ya?

Kuliah ya kuliah ya? cari ilmu.

Ah Tapi Emang Beda…

Sebuah keresanan anak muda amerika yang beda dengan saya. Beda dengan saya yang lebih resah tentang kehidupan baru di dunia kampus pas masuk kuliah. Tentang biaya kuliah juga.

Aah yaaa mereka anak-anak mampu di sini. Kamar mereka bagus-bagus. Baju mereka juga bagus-bagus.

Intinya. Kurang suka aja jadinya.

Agak kecewa ditutup dengan kisah yang seperti ini.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!