Ulasan Drama Korea Crash Course in Romance (2023)

Untuk yang mau baca kesan pertamanya bisa ditulis di sini.

Tulisan ini murni merupakan pendapat dan tidak diminta orang/badan untuk harus menulis yang begini dan begitu. Pun besoksore.com adalah blog pribadi dan cuma ditulis sama satu orang.

*yaaa barangkali ada pembaca baru.

Awal mula saya cukup kesal karena peran utama wanita dikatain jelek dan tua. Pokoknya adalah yang bilang gitu di salah satu sosmed. Jujur aja, saya suka sedih sama hal-hal begini. Mbak Jeon Do Yeon itu bisa akting lhoooo. Film yang beliau mainkan bahkan lebih banyak dari dramanya.

Pokoknya bukan orang baru dan salah satu dramanya saya suka banget.

Nahhh khusus untuk drama Crash Course in Romance, setelah nonton rutin kayak makan obat. Saya simpulkan bahwa jenis drama ini ada di tengah-tengah.

Usia yang diceritakan pada kisah udah relatif nggak muda. Masing-masing sudah punya pekerjaan yang “sudah jadi”. Bahkan Mbak Nam dikisahkan punya keponakan yang manggil dia Omma.

Bisa dibayangkan jadi drama apa?

Jelas bukan drama tentang kesalahpahaman renyah. Tapi urusannya tentang “anak” juga. Nam Hae E pun ada di usia “krisis” di mana ia menghadapi ujian akhir sebagai anak SMA di akhir tahun. Urusan les-lesan matematika sampai pengen masuk dunia kedokteran.

Okelah. Bisaaa bisaaa.

Ada masalah yang nggak banget di akhir.

Sampai sini saya mau spoiler. Jadi, pada drama dikisahkan ada semacam kasus kriminal yang mana pelakunya nggak jauh dari karakter utama pria. Kemudian endingnya adalah budir.

Hiiiiiiiii.

Berasa dimunculkan tanpa “tensi” yang bener-bener “nyampe” gitu. Menguap begitu saja. Rasanya aneh dan ngerasa “HAAAHHH GINI DOANGGGGG?”

Beberapa masalah Omma-Omma yang punya keinginan anaknya moncer di bidang akademik juga sudah sering dibahas di drama korea. Bukan hal baru. Yang mana korbannya nggak jauh-jauh dari anak.

Lagi-lagi kurang “sreg” aja. Mungkin karena sudah terlalu biasa masalah ini diangkat.

Kesimpulan Drama Korea Crash Course in Romance (2023)

Nggak terlalu suka.

Rada membosankan.

Sempat kecewa di masalah tentang pelaku kriminal itu. Bahkan masa lalunya yang dikisahkan sama sekali nggak bikin dramanya jadi “unik”. Malah jadi “mbulet”. Ehhh gimana yaaa bahasa Indonesia yang baiknya.

Endingnya rada menjengkelkan. Misalnya diberikan karakter yang baru muncul. Yaitu Ibu kandung dari Nam Hae E, emmmmmmm…. Terkesan rada maksa biar dramanya punya “plot” sampai 16 episode. Makin di ujung, rasanya kurang asyik.

Happy ending untuk semuanya. Bahkan semua karakter menjengkelkan dari para Omma.

Bahkan adiknya Mbak Nam aja punya pacar.

Akhirnya….

Kerasanya nanggung aja.

Beneran nanggung.

Kurang seru.

Romancenya agak kurang. Drama orang tua dan anak SMA kelas 12 terlalu generik. Luapan kisah kriminalnya terkesan hadir kemudian ilang dengan “cara gampang”. Konflik tambahan nggak bikin dramanya jadi menarik.

eemmmmm.

Yaaa begitulah.

Sekian.

Penutup

Link trakteer mimin ada di sini. Terima kasih.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!