Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 11 Part 2

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 11 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini….

“Kenapa kamu tidak memberitahu kami catatan parkir ini dari awal?” Tanya Ji Hun pada Ahjumma.

“Sudah aku bilang, aku bingung. Aku tidak bisa mengingatnya. Aku sudah memberitahumu semuanya.”

“Lalu kapan kamu mengingatnya? Kamu ingat saat asuransi menolak membayar?”

“Kamu yang tidak kompeten karena berpikir itu bunuh diri. Kenapa kamu menggangguku?”

“Aku ingin kamu bekerja sama. kamu mendapatkan uang asuransi sekarang. ada banyak hal yang kamu rahasiakan bukan?”

“Seperti apa?”

“Kurasa masih ada lagi.”

“Tidak ada. aku sudah memberitahumu semuanya. Sudah aku katakan semua yang aku tahu.”

“Ahjumma kamu tidak menyukaiku bukan? Aku mencoba membantumu menemukan penjahatnya tapi kamu marah kepadaku. Mana bisa aku berkata-kata?”

Ji Hun melihat ponsel sedang di isi daya. “Apa itu? kamu membeli ponsel baru?” ahjumma langsung mengambilnya.

“Ini ponsel lamaku. Sudah rusak.”

“Kenapa kamu mengisi daya jika sudah rusak?”

“Aku menggunakannya untuk wifi.”

“apayang kamu lakukan ketika ada wifi?”

“aku membaca berita, bermain gim, dan mengobrol dengan orang-orang.”

Karena masih merasa curiga. Ji Hun pun meminta Soo Young untuk melacak aktivitas ahjumma. Walaupun ahjumma yang meminta penyidikan ulang mendiang suaminya.

***

Ji Hun dan Soo Young pun pergi dari rumah ahjumma.

“Mereka menemukan tempat untuk hana di rumah kelompok.” *kebijakan agar satu wali tinggal dengan empat atau lima anak. “Haruskah aku menelpon Ibu Cha?”

“Tidak perlu, aku akan menelponnya.”

Eeehh yang mau ditelpon malah nelpon.

“Aku tahu siapa anak itu.”

“Anak? Anak apa?”

“Yang meninggal dalam kecelakaan itu. sebentar, bagaimana kamu menemukannya? Di mana kamu? aku akan datang.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Soo Young. Eeeh  Soo Young malah di suruh turun di jalanan gitu aja coba.

***

“Namanya Jung Seok Woo. Dia berumur 7 tahun. panti asuhan mengirimkannya ke Chunwason. Chunwason mengirimnya kembali karena namanya tidak ada di daftar. Sopir yang membawanya kembali menurunkan anak itu di gerbang.”

“Kapan kejadiannya?”

“Tanggal 28 maret.”

“Kecelakaan itu?”

“Itu terjadi 2 hari kemudian pada tanggal 30. Bocah itu melakukan perjalanan panjang dari Anseong ke Seoul sendiri selama dua hari. Ahh ini nomor ayah anak itu. aku tidak bisa menghubunginya.”

“Kami akan memeriksanya. Jangan berharap terlalu banyak. Orang memberi nomor palsu…”

“Jika ingin menyembunyikan identitasnya dia akan menelantarkannya, bukan membawanya ke panti asuhan. Kamu pasti akan menemukan sesuatu.”

“Baik. Aku harap begitu.”

“Maafkan aku. Aku seharusnya tidak mengganggumu dengan ini.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Ini pekerjaanku. Ahhh ada yang lain lagi, kami punya bukti An Seok Won dibunuh.”

“Apa?”

“Kami memiliki rekaman dasbor saat pembunuh menyalakan arang dan pergi. Kami baru saja mendapatkannya.”

“Apakah itu terkait dengan Ibu Ha Na yang terbunuh di gudang?”

“Kami menduga pelakunya satu orang. Itu bukan pernyataan resmi. Katamu mereka diadili karena melecehkan anak-anak. Itu bisa menjadi penyebab pembunuhannya.”

***

Kali ini CCTV bukti diperlihatkan pada Detektif Hong.

“Ini dia. itu terjadi setelah dia parkir di sana. Dia akan pura-pura minum dengan An Seok Won selama 2 jam dan memberikannya obat penenang. An Seok Won tertidur, dan si pembunuh menyelakan arang lalu pergi. Lalu ahn Seok Won tewas. Sudah kubilang itu terlalu aneh untuk bunuh diri.”

“Kamu senang kamu benar?”

“Ya. aku bangga.”

“Keluar dan tangkap pembunuhnya.”

“Bagaimana dengan rekanku yang tidak patuh?”

“Kamu ingin ditukar?tidak bisa.”

“Jika enggan menggantinya. Jangan mempermainkan kami.”

“Kapan aku mempermainkanmu?”

“Kamu melarangnya melapor kepadaku.”

“Itu karena kamu terus membuat kekacauan.”

“Apakah ini kekacauan?”

“Ji Hun…. kita punya banyak kasus dan kamu memperluas kasus yang sudah ada. aku merasa cemas, itu saja. kamu bekerja dengan baik, tapi terlalu banyak berpikir. Kamu merumitkan segalanya. Kasus adalah kasus. Tapi kamu membuatnya menjadi kisah.”

“Hyung. Penyelidikan adalah kreativitas. Siapa yang mengatakannya? Sepuluh tahun lalu, saat aku masih jadi pemula. Kamu mengatakan itu padaku. Kamu tidak ingat?”

“Tidak.”

“Kamu sudah tua.”

“Jangan bicara begitu kepadaku.”

“Baik Timjang Nim. Penyelidikan adalah kreativitas. Itu kutipan favoritku. Kenapa? karena senior yang paling aku hormati mengatakan itu padaku. Aku akan bekerja keras untuk kasus ini. bisa tolong percaya padaku? Jangan berusaha memainkan kedua sisi. Aku permisi Pak.”

***

Dari rekan detektif lainnya. Identitas anak yang ditabrak Woo Kyung diketahui.

“Nomornya milik Jung Gwang Yeon, pria yang lahir pada tahun 1995.”

“Kenapa tidak bisa dihubungi?”

“Dia menutup akunnya tiga bulan yang lalu.”

“Berapa umurnya?”

“Dia lahir tahun 1995, jadi kini berusia 23 tahun.”

“Terlalu muda untuk menjadi seorang ayah.”

“Itu benar. Ahh dia memiliki putri yang berusia 5 tahun.”

“Apa?”

“Dia cukup hebat untuk pria berusia 23 tahun. pernikahan, perceraian, lajang dengan dua anak.” Ji Hun langsung pergi dan rekannya bingung sebenarnya dia sedang mencari apa.

***

Kini Ji Hun pergi bersama Woo Kyung mencari pria itu.

“Dia memiliki anak pertamanya di usia 17 tahun dan yang kedua pada 19 tahun. anak-anak yang memiliki anak. Dia meninggalkan anak itu di panti asuhan sekitar waktu perceraiannya. Dia tidak bisa merawat kedua anak itu sendiri. ahh sepertinya banyak rumah kosong di sini. haruskah kita beristarahat sebentar?”

Mereka terus berjalan. Hingga menemukan rumahnya. Karena dipenuhi dengan sampah. Ji Hun tidak percaya bahwa itu adalah tempatnya. Sedangkan Woo Kyung masuk ke dalam rumah.

“Woo Kyung. Apakah ada orang yang tinggal di tempat seperti ini?”

“Ada yang kondisinya lebih buruk.”

“Dia berumur 20an. Dia akan menginap di motel, bukannya tempat seperti ini.”

Woo Kyung membuka pintunya yang tidak terkunci. “Tidak ada orang di sini.” Ucap Ji Hun yang masih ragu.

Mereka akhirnya masuk.rumah sangat berantakan dan penuh dengan sampah. Woo Kyung tidak sengaja menginjak mainan dan berbunyi. Saat ia oleng, ia menemukan sesuatu di antara tumpukkan barang.

Ada seorang anak. Ia langsung teriak dan memanggil Ji Hun.

Anak itu masih hidup dan langsung dibawa ke RS.

Saat menunggu sang anak diperiksa. Woo Kyung melihat anak kecil dengan baju hijau lagi.

Ia pun mengikutinya. Anak itu duduk di kursi panjang. Woo Kyung ikut duduk.

“Kukira kamu saudara perempuan bocah laki-laki yang kubunuh. Aku tidak tahu persis siapa kamu. aku rasa aku tahu alasan kamu di sini. kamu ingin menyelamatkan anak-anak, bukan?”

Bersambung. klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat