Buku terus yaaa Min?
Hehehe.
Ini juga cara mimin menikmati liburan yang seperti biasanya tidak kemana-mana.
Ulasan Buku Le Petit Prince: Pangeran Cilik Karya Antoine de Saint-Exupéry
Awal Mula Ingin Baca
Jadi, buku ini masuk ke 35 list buku yang mau saya baca. Intinya bacaan yang dipaksakan saya baca oleh diri saya sendiri. Listnya di bagian sini.
Pernah saya baca di tempat ilegal. Kayak unduhan pdf itu. Tapi saya bacanya tidak nyaman karena terjemahannya yang sangat buruk. Jadi, bukunya semacam rasa penasaran yang masih ada di dalam dada.
Alhamdulillah stok bukunya ada di ipusnas. Mimin langsung unduh dan selesai baca buku ini selama dua harian. Malamnya baca. Paginya baca. Kemudian selesai. Bukunya tipis. Bacanya bisa cepat.
Suka Sama Bukunya?
Suka.
Saya merasa buku ini hadir dari kegelisahan.
Misalnya, menggambar sesuatu di dalam kotak. Kemudian, bilangnya di dalam kotak itu ada domba. Orang dewasa yang berpikiran logis, gampang curiga, bisa tidak menerima hal-hal seperti ini.
Pemikiran pemikiran pangeran kecil mengingatkan saya pada potongan video yang saya lihat di instagram mengenai pertanyaan, “apa yang akan kamu ubah di wajahmu?”
Kemudian ada kontras jawaban yang berbeda, yang mana orang dewasa menginginkan perubahan nyata dengan operasi yang logis. Kemudian anak-anak menginginkan tubuh mereka punya sayap seperti kupu-kupu, bisa punya kaki yang cepat larinya seperti cheetah, bahkan ada anak yang sangat menyukai tubuhnya dan tidak mau menjadi orang lain. Tidak mau merubah apapun.
Pangeran kecil merasa pikiran orang lain, yang dalam hal ini adalah orang dewasa baginya tidak masuk akal. Pangeran kecil yang punya planet kecil, dengan dua gunung aktif, satu tidak aktif, bunga dengan empat duri, jalan-jalan ke planet lainnya.
Bertemu raja yang suka memerintah.
Bertemu orang sombong yang melihat orang lain adalah pengagumnya.
Bertemu pemabuk.
Bertemu pengusaha yang menghitung bintang.
Seorang penyulut lentera yang mengeluh tentang siang dan malam.
Kakek tua sebagai ahli bumi namun enggan menuliskan tentang bunga karena baginya bunga sangatlah temporer. Tidak seperti gunung yang tidak akan kemana-mana, sedangkan pangeran kecil sangat mencintai planetnya, bunga dan gunung-gunungnya. Tidak terkecuali.
Emang Gitu. Mikir. Aneh Nggak Sih?
Metode mikir lambat. Itu yang saya rasakan saat membacanya.
Misalnya, orang dewasa sangat menyukai hal-hal yang bersifat angka daripada gambaran-gambaran. Orang dewasa mampu memikirkan rumah dengan harga 2 milyar misalkan. Kemudian tidak bisa membayangkan rumah dengan definisi seperti, nanti punya pagar rendah yang berdecit, rumah dengan udara yang enak dihirup karena ada pohon mangga di depan rumah, rumah dengan kucing yang lucu, atau penggambaran-penggambaran manis lainnya sesuai dengan isi kepala. Layaknya anak-anak yang bersenang-senang.

Btw, ini analogi saya dari beberapa bagian saja yaaa.
Banyak hal-hal nyentil di dalamnya. Menyentil orang dewasa yang lama-lama hidupnya makin seragam karena tuntutan, rasa keinginan yang membuat kita jauh dari diri sendiri, menginginkan sesuatu tanpa kesadaran, dll.
Barangkali nggak aneh kenapa buku ini diterjemahkan dalam banyak bahasa. Karena bukunya bisa dibaca anak-anak dan orang dewasa.
Barangkali pula kita harus belajar kembali pada anak-anak. Kepolosan mereka melihat kehidupan yang nggak rumit-rumit, kadang bikin iri yaa.
Penutup
Link trakteer mimin ada di sini. Terima kasih.