Yang Kaya Makin Kaya Yang Miskin Nontonin Aja (Fenomena)

Yang Kaya Makin Kaya Yang Miskin Nontonin Aja (Fenomena) – Semalam. Saya menonton video di youtube dengan judul yang sama. Tulisan ini pun sebenarnya terinspirasi dari ilustrasi yang diberikan oleh tim narasi di kanalnya.

Silakan coba cari tahu buat yang kepo. Tapi alangkah lebih baiknya kalau baca tulisan ini sampai abis dulu.

Tulisan saya kali ini di luar tema drama-drama korea. Tapi menyoal fenomena yang ada.

Dikisahkan dalam ilustrasi. Seorang youtuber yang depan namanya At itu memamerkan mobil barunya. Sang pemuda baru bangun dan ucek-ucek mata. Pas nonton jadi terhambat karena kuotanya habis.

Langsung ia ke konter beli kuota. Kemudian lanjut nonton lagi.

Ternyata profesi pemuda ini adalah tukang cuci mobil. Saat pulang, ia dapat uang 20.000 rupiah. Karena lapar, si pemuda pergi ke warteg. Ia melihat label harga 10.000. Si pemuda masih dengan gawainya, ada dua anak orang kaya sebuat saja Sisca dan adiknya yang makan makanan jutaan rupiah.

Si pemuda pun melihat berita acara kriminal di TV warteg yang memberitakan kejahatan karena ingin mendapatkan uang yang mudah.

Apa yang Kalian Pikirkan?

Saya agak tertampar sih.

Untuk Youtuber At itu saya adalah jenis manusia yang sama sekali tidak tertarik sub apalagi nonton kanal youtubenya.

Segala tentang At adalah hal-hal yang membuat saya mengernyitkan dahi. Seperti kisah pernikahan di TV nasional sampai pemberitaan masalah keguguran yang ditumpangi oleh “iklan”.

Nahhh untuk yang Sisca nih. Saya lumayan sering ngelihat dia wara wiri di explore IG milik saya. Bagaimana ia memasak dengan alat ajaib membuat saya makin yakin kalau saya miskin.

Bagaimana ketika Sisca makan dengan harga jutaan rupiah yang nanti jadi energi dan eek. Membuat saya makin yakin pula kalau saya miskin.

Saya tidak benci Sisca kok. Pada beberapa kontennya yang pernah saya lihat, ada perasaan muncul bahwa meski kita hidup di bumi. Saya dan Sisca adalah semacam makhluk dengan kelas yang berbeda.

Nyatalah hal itu pasti adanya.

Ternyata orang itu macam-macam. Ada yang bisa mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk makanan. Sedangkan, penghasilan untuk masuk kata “juta” aja sangat sulit.

Hal itu sangat saya rasakan.

Maka jelaslah sudah. Manusia di bumi itu macam-macam.

Setelah menonton video itu. Kini saya paham dan akan membuat sikap.

Saya nggak akan lagi nonton hal-hal tentang mengumbar kekayaan. Saya harus membuat banyak filter untuk tontonan. Kalau tujuannya hiburan, saya sudah tahu larinya kemana. Emang bener-bener yang ditunjukkan untuk hiburan. Drakor dll misalnya.

Konteks mereka memang jualan ide kreatif dalam sisi cerita yang memang kita sama-sama tahu fiksi.

Lain dengan dua kasus yang disuguhkan di atas.

Bertanya Pada Diri Sendiri

Ada kebingungan juga.

Kenapa orang-orang suka sekali dengan hal-hal bodoh. Misalnya saat seorang pria mengaku dirinya mengandung. Mereka sempat berkomentar.

Saya tahu dari mana? Dari IG yang saya lihat sekilas saja.

Pada yang sekilas ini lucunya sempat saya lihat komentar yang bilang ini adalah “humor”.

Saya tidak merasa ada kelucuan di dalamnya. Sungguh. Bahkan untuk humor yang “jatuh-jatuhan”, ejek-ejekan, itu sudah bukan humor menurut saya.

Sudah sedemikian mengenaskannya kah cara berpikir manusia?

Adalagi yang sedang jadi bulan-bulanan. Di eksplore IG sempat saya lihat, mantan suami DP yang namanya Aldi menjual dirinya di dunia hiburan dengan cara-cara sensasional.

Terang-terangan juga ia mengatakan hal itu dilakukan untuk cari makan.

Lepas tahu itu. Saya cukup tahu saja.

Untuk masalah komentar di internet. Saya kebagian orang yang cukup males. Kalau nulis panjang-panjang kayak di blog saya cukup semangat. Tentunya dengan ada tambahan refleksi di dalamnya.

Makin dapat perhatian, makin cuanlah mereka.

Sebagai pengguna internet aktif. Saya tidak bisa bersih dari berita atau konten seperti di atas. Ada saja hal baru yang muncul yang saya tahu juga akhirnya.

Tapi mencari tahu lebih dalam atau sangat ingin tahu adalah hal-hal yang saya puasai.

Kalau selentingan dengar itu adalah gaung-gaung yang saya dengar kemudian tidak dapat perhatian khusus.

Sayang sekali hidup kita kalau hanya berurusan dengan hal-hal semacam ini.

Mereka Itu…

Tahu kalau posisi dalam kekayaan adalah market bagus. Karena orang-orang miskin tidak pernah tahu rasanya makanan makanan jutaan rupiah.

Pun saya saja beli yogurt sampai mikir banyak. Ceritanya di bawah.

Orang-orang bisanya tidak terbiasa dengan barang-barang yang harganya di luar nalar dan pendapatan mereka.

Lucunya, ada kalimat hal ini bisa menjadi penyemangat.

Semangat sampai ke posisi yang setara seperti mereka? Ingat, ada kemiskinan stuktural yang sangat memeluk erat banyak manusia.

Saya malah merasa banyak hal tidak manfaat di dalamnya. Kecuali untuk pembuat kontennya sendiri yang nambah cuan.

Kalau soal konten orang bodoh.

Di situlah poin beratnya mencari ilmu. Konten yang cerdas untuk menghibur dengan cara elegan atau bisa menginspirasi lewat cara-cara wajar sangatlah butuh perjalanan panjang.

Tidak ada yang instan.

Coba lihat saja bagaimana konten edukasi sangatlah kering peminat.

Menjadi bodoh dengan segala gimiknya memang tidak sepenuhnya soal kebodohan. Para pembuat konten setidaknya bisa membaca pasar.

Ada hal yang miris lagi.

Saat ada orang biasa dengan konten biasanya yang cenderung kekurangan malah dihujat abis-abisan.

Dibilangnya konten “mengemis” dan tentu saja dugaan mencari panggung.

Katakan harus bagaimana netizen?

Yang Kaya Makin Kaya Yang Miskin Nontonin Aja (Fenomena)

Segala yang Viral Pada Akhirnya Akan Terganti

Maka berjalanlah sewajarnya saja.

Kalau tujuan manusia hanya untuk mendapatkan perhatian yang ujung-ujungnya cuan. Hal itu bagi saya adalah dijajahnya cara berpikir.

Saya juga pembuat konten kok. Cuma beda popularitas saja. Toh tulisan saya masih kalah dengan web besar.

Tapi saya selalu tanamkan hal ini ke diri saya.

Belajarlah dari Tukang Becak. Tukang Becak hanya sebentar saja memikirkan soal uang saat bertransaksi dengan penumpang. Selebihnya adalah kesungguhan mengantarkan penumpang selamat sampai tujuan.

Bagaimana kalau Tukang Becak terus memikirkan uang saat ia mengayuh becaknya.

Bisa-bisa penumpang tidak selamat. Begitu juga dengan Mamang Becaknya.

****

Di hari ini. Sudah sampai di hari ke 30 saya menulis rutin. Saya tulis di Goal di trakteer dengan judul (30 hari menulis dengan cinta, di sini). Di dalamnya saya belajar bahwa tanggung jawab pelayanan ada pada diri saya.

*meski sudah lewat 30 hari. Saya akan biarkan goal itu tetap ada begitu saja.

Maka urusan cuan. Menjadi sesuatu soal kewajaran saja. Wajar jika ada yang trakteer, begitu juga sebaliknya. Tercatat sudah 20 orang mentrakteer saya selama sebulan ini. bersyukur banget.

Terima kasih untuk semuanya. Di bagian karya akan saya update sambil jalan.

Sekali lagi terima kasih.

Saya ingin pembaca dapat sesuatu yang positif meski sedikit pada tulisan saya. Meski aja saja yang bilang katanya tulisan saya kritik dan ngeluh terus. Sehingga kayak dijadikan status FB saja.

Saya nggak mau sendirian kalau dapat sesuatu yang bagus. Kalau ada ilmu, saya nggak segan untuk membaginya.

Doakan saya sehat dan masih bisa nulis. Itu saja.

*dadah.

You May Also Like

6 Comments

  1. Mungkin komentar saya agak nggak begiu berkaitan, tapi baru sekali sekitar 2-3 hari lalu, kanal yang saya subscribe buat feeds youtube yang bilang terima kasih karena live youtubenya tiba tiba rame (waktu saya cek, sekitar 1,3 ribu views di live terbaru). Kanal ini dikelola satu orang, kak angie tanaja, dan dia dari tahun lalu kalau tidak salah, rutin live (livenya bahkan bisa sampai 2 jam seingat saya) beberapa kali dalam seminggu + video-video singkat yang berseries (sampe 150 video per season) untuk bantu persiapan utbk (semua saintek kecuali biologi), dan jujur cara menjelaskannya enak sekali, videonya juga kelihatan ‘mahal’ karena memang pakai device pendukung yang bagus. Sayangnya memang yang nonton live jarang sampai angka ratusan. Dari sini memang kelihatan pakai banget kalau konten edukasi di Indonesia itu kering bin kerontang.

    Saya tipe orang yang males banget kalo buka Youtube eh kepencet salah satu video trending indo, karena kalau sudah begitu, isi beranda saya nanti unfaedah hahaha. Malah saya sampe bersyukur kalau yang trending seputar olahraga, musik (sayangnya sih kebanyakan K-Pop ya, musisi lokal masih jarang yang awet di trending), dan selain konten gimmick artis pokoknya. Sepertinya bisa dibilang, warga kita ini haus akan cerita orang alih-alih menuju ke cerita itu (alias jadi berduit dan ga rebahan mulu), haus cari sensasi … Ini mengkhawatirkan mengingat sekarang bonus demografi sudah terlihat tapi anak-anak muda malah banyak yang begini

    1. merinding saya kalau ingat kata bonus demografi.
      karena akan sangat berakibat panjang pada tahun 2045, akan seperti apa wajah negeri kita bener-bener penentunya ada di masa saat ini.

      yes. saya suka konten edukasi, biasanya suka sama bedah buku sampai filsafat dan kebudayaan. lagi-lagi konten mereka nggak banyak “diserbu”.

      kadang, saya seperti sedang menjalankan jalan sunyinya ketika membahas soal tontonan di media.
      *lap pakai tisu.

  2. selalu senang ‘membuang buang waktu’ di Besoksore , saya sependapat dengan isi tulisan ini. Terimakasih banyak buat karya tulisannya , semoga sukses …

  3. aku tertarik baca dari judulnya
    yang kk admin sedang bahas adalah youtube
    platform video gratis yang pake iklan
    klo jaman baheula, tivi
    nonton dan ada iklannya
    dulu pas SMA, saya pernah dikasih tau sama guru saya
    televisi adalah racun
    kita hanya membuang-buang waktu untuk menonton,
    tivi jaman dahulu kalah saing dengan alat baru
    beralih ke youtube
    ketika ada pertanyaan akan jadi seperti apa Indonesia
    jawabannya, tidak akan berubah
    Indonesia akan tetap seperti ini,
    tapi mungkin platformnya beda
    kemiskinannya akan teregenerasi jika para orangtua (yang saat ini baru memiliki anak) tidak punya persiapan khusus untuk menghadapi perubahan dunia
    kemarin baru aja baca tentang beberapa generasi muda yang puasa smartphone demi kesehatan mental
    kayaknya balik ke jaman batu, lebih bahagia
    hahahaha

    1. berat yaa emang jadi orang tua. kita akan bertemu dengan anak-anak yang merupakan “anak zamannya”.

      saya juga sempat puasa smartphone tapi dalam artian hape rusak dan belum sanggup beli sampai 50 hari lamanya. ahahaha. rasanya aneh aja suka dimarahi teman-teman sebab mereka susah menghubungi saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!