Sinopsis Beautiful Love, Wonderful Life Episode 15 Part 3

Sinopsis Beautiful Love, Wonderful Life Episode 15 Part 3 – Episode sebelumnya di sini. Selengapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti yaa…

“Aku hanya mengingat hal-hal berguna. Kamu, jangan sampai ada di depan keluargaku.” Ucap Seol Ah.

“Keluarga kakak?”

“Jangan ikut campur sebagai teman atau wali. Jangan mendekati rumah sakit. Kamu lebih tahu daripada aku. Kamu seperti bom bagi keluargaku. Begitu meledak, semuanya akan berakhir. Bukan hanya aku, seluruh keluargaku akan meledak. Bocah yang meninggal saat itu. Maksudku, sepupu ipar. Kamu mungkin sudah melupakannya, tapi aku tidak pernah melupakannya. Aku selalu merenungkannya. Tiap langkah yang kuambul bak ranjau dan rumahku seperti ladang ranjau. Ini bukan hanya soal melukai kakiku, kamu mengerti? Dia mati karenamu. Kamu dan Omma yang membuat itu terjadi. Jika mereka tahu dia bunuh diri, kamu dan aku…. bibi Jin U tidak akan berpikir jernih. Jadi, aku memohon kepadamu…. jangan turut campur dalam kasus ini. dia sedang koma.”

“Apa?”

“Aku akan melompat ke neraka sekarang. Jadi, aku tidak butuh kamu mendorongku. Aku mohon kepadamu. Jangan beritahu Omma tentangku. Jika kamu memberi tahu Omma, tidak akan ada perdamaian. Aku tidak akan membiarkan temanmu lepas baik-baik. Kamu harus lebih berhati-hati.”

*****

Di rumah, ayah Moon sangat sedih. Ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa berbuat banyak saat Hae Rang ingin sekolah di LN dan menari balet. Ayah kurang mampu sebagai polisi biasa, bahkan ke pulau Jeju pun mereka tidak pernah.

***

Untuk menghibur ayahnya. Pa Rang pergi tidur dengan Pak Moon.

“Katanya tidur adalah obat terbaik. Ayoo kita tidur.”

***

Cheong Ah melihat nama Joon Kyum.

“Menurutmu bagaimana aku harus bersembunti? Seperti kata Unnie, aku seperti bom waktu bagi keluargamu. Jika menjadi aku, besok kamu mau bagaimana? Haruskah aku tidak menemui Baek Rim? Bagaimana mungkin aku tidak menemuinya? Aku harus bagaimana? Katakan apa yang harus kulakukan. Aku akan menuruti perkataanmu.”

Tiba-tiba buku jatuh dan membuka sendiri halamannya.

Di halaman itu, ada paragraf dengan stabilo menyala. Tidak angin padahal.

“Aku berjalan sampai ke pojok jalan. Entah ada apa di pojok sana. Tapi aku percaya bahwa hal terbaik menanti”

Begitulah tulisannya.

“Benarkah ini kamu, Joon Kyum?” Cheong Ah pun menangis.

***

Di rumah sakit. Seol Ah masih menunggu. Kemudian datanglah Hae Rang. Saat Seol Ah sudah sedikit cair dengan Hae Rang, ehhhh Hae Rang nggak peduli dan lewat begitu saja. wkwkwk…

Hae Rang melihat dari jendela.

“Tidak ada respon dari mereka. Aku merasa aneh karena begitu marah.”

“Kamu di sini selama ini?” tanya Hae Rang. “Kenapa tidak pergi ke ruang tunggu? Kamu lebih bodoh daripada kelihatannya.”

“Aku lebih licik daripada kelihatannya.”

“Apa?”

“Nggak… lupakan saja. aku lebih suka di sini. Ruang tunggu selalu ramai. Kenapa kamu di sini selarut ini?”

“Aku tidak bisa tidur. aku tidak bisa membaca atau melakukan hal lain.”

“Kamu pasti sangat mencintainya.” Ucap Seol Ah.

Tae Rang tersenyum. “Ya.”

“Dia tidak membalas cintamu.”

“Tidurlah. Aku akan menjadi orang-orangan sawah.”

“Di mana aku bisa tidur?”

“Jika tidak suka motel. Pergilah ke sauna terdekat.”

“Motel? Sauna? Aku Kim Seol Ah. Istri pewaris inter market.”

“Ya ya aya…”

“Hidupmu mudah sekali. Kamu bisa pergi ke mana sesukamu.”

“Hidupmu sulit sekali. Kamu tidak bisa pergi ke mana saja sesukamu.”

Lanjut ke bagian 4 klik di sini yaaa…

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat