Review Drama Jepang Tokyo Love Story (2020)

Review Drama Jepang Tokyo Love Story (2020) – Biasa guys. Cuma nambahin komentar aja dari bagian kesan pertamanya. Yaahh akhirnya selesai juga, padahal cuma sisa satu episode yang belum diselesaikan. Sebab, kalau udah kebanyakan yang ditonton kepala sampai pening.

Drama Jepang Tokyo Love Story (2020) ini episodenya sama sekali nggak panjang. Hanya 11 episode saja. durasinya juga kebanyakan nggak sampai 1 jam. Punya genre romance. Dan inilah pendapat mimin besok sore yang hanyalah pendapat pribadi saja. Masing-masing orang bisa jadi punya perbedaan pendapat atas drama jepang yang satu ini.

Langsung aja ya.

  1. Saya Suka Sama Aktingnya Ishibashi Shizuka yang memerankan Akana Rika

Saya suka keceritaan dan suasanya hatinya kalau lagi bagus. Berasa sedang melihat musim semi. Lewat akting dan parasnya, saya bisa lihat bahwa perempuan jepang punya cantiknya sendiri dan beda banget dengan perempuan korea. Ketika dia melompat lompat dan membicarakan tentang apa mimpinya. Perempuan ternyata bisa secantik ini. Saya juga suka sama pembawaannya yang cerdas.

  1. Drama Jepang Tokyo Love Story (2020) bukan kategori romance kesukaan saya

Makin nonton dari pertengahan menuju akhir, saya malah jadi kesal sendiri karena tarik ulurnya drama ini yang bagi saya “nggak banget.”

Emang sih, saya tahu perasaan manusia itu mudah terbokak-balik. Hati manusia pagi hari suka sama ini, malam hari suka sama itu.

Tapi, apa nggak dipikirin lagi? Semudah itukuah seseorang menggunakan hati dan kepalanya?

Sorry aja, Secara ide cerita, buat saya nggak banget.

  1. Penokohan Karakter yang Banyak Orang Menyebalkan

Kayaknya satu-satunya karakter yang nggak saya sebelin cuma Rika doang deh. lihat peran utama prianya yang plin plan dan nggak bisa tegas saya kesal.

Lihat kelakukan dokter muda yang nggak kelar-kelar Si Mikami itu kesel juga. Ternyata Mikami nggak bisa memberikan keamanan pada kekasihnya Sekiguchi Mikami. Eeehhh dia malah menjalin hubungan dengan perempuan lainnya.

Lihat Sekiguchi yang kayaknya polos tapi nyerobot juga sama Kanchi. Dia paling nggak peka dan mau menang sendiri sama perasaannya. Nggak tengok kiri dan kanan tentang perasaan orang lain juga. Main korban tapi pelaku juga. Hih.

Edaannn.  Apa mereka ini nggak ada akhlak atau bagaimana?

  1. Too Much adegan wik wik

Harus gitu yaaa ada adegan beginian. Ternyata Jepang lebih berani ya? dan banyak banget. Untuk bagian ini saya malah merasa drama ini terlalu “bebas” dan agak yaaahh mengernyitkan dahi.

Saya lebih suka perasaan emosional yang dijalin dengan baik. Bukan kontak fisik yang nyatanya nggak terlalu banyak berarti ketika di skip.

Coba deh guys. Kalian kalau puyeng sama adegan wik wik bisa skip. Dan itu nggak jadi soal sama cerita inti yang sedang coba kamu pahami.

Beda kalau perasaan yang dijalin dengan tindakan sederhana dan emosional, tiap di skip, penonton jadi nggak paham tentang “hubungan yang sedang dibangun.”

  1. Endingnya Anjay

Saya kecewa pol sama endingnya yang nggak banget dalam menyelesaikan masalah. Kesannya kok? Apa itu maksudnya cerita yang dibangun sepanjang 10 episode. Hanya jumlah episode? Kemudian endingnya demikian?

Saya sampai geleng-geleng nggak paham kenapa ending kayak gini kok dijadikan ending. Kok saya malah jadi sakit hati sama kelakuan mereka.

Huft….

Kesimpulan Review Drama Jepang Tokyo Love Story (2020)

Saya nggak pernah nonton versi lamanya. Kurang berminat juga. Tidak pula bisa membandingkan. Untuk versi 2020 secara keseluruhan saya nggak suka dengan tema romancenya yang manya-menye suka gonta ganti pasangan, semudah itu? Sebebas itukah?

Jadi, intinya. Setelah nonton sampai 11 episode. Saya nggak suka. Hikss.. padahal saya nonton dengan cukup antusias di awal. Banyak kekecewaan yang terjadi. Tapi sudahlah yaaa. namanya aja drama. Mau gimana lagi.

Mungkin bukan seleranya sama romance yang begini.

*sekian dari mimin besoksore.

 

Advertisements

You May Also Like

8 Comments

  1. Saya setuju miiin.. antusias di awal tapi tidak suka bgt sama ending nya ih jadi bikin nyesel nontonnyaa.. Rika yg terlihat spt perempuan gampangan, dia sedih tp kenapa harus berhubungan sama waga sampai hamil?? Kanchi juga plin plan, bikin kesel sama dua pemain utama nya. Jadi gak berkesan..

      1. Paraaah emang ini drama, makan hati gegara saking keselnya ini udah keos apalagi di 2 episode akhir berasa sia-sia nontonin dari awal dan Sex nya juga anjay sampe kepikiran sebebas ini kah jepang main colok sana sini, eww

  2. ya ampun kirain cuma aku doang yg gk suka sma cerita dr drama ini, ternyata ada juga yg gk suka. drama ini juga bukan tipe aku bgt min, aku gk suka bgt sma alur percintaannya. tp jujur aku malah gk suka sma si Rika. sifatnya bikin jengkel asli, maunya dia aja yg bener dan dimengerti, tp gk mau mengerti sma perasaan si kenchi. setiap dia salah selalu balik marah sma kenchi. kadang aku paham sma mksd amarahnya si Rika, tp cara penyampaiannya gk bgt parah. dr episode awal sampe 10 aku gk pernah liat Rika menyesali kesalahannya, selalu kenchi yg ngalah yaampun rasanya pengen nampol. terus aku ngerasa bgt klo kenchi kyk gk dihargai gitu, Rika klo ngambil keputusan gk mikirin perasaan kenchi, walaupun wataknya “bebas” tp menurut aku dlm hubungan kyk gtu perlu komunikasi 2 arah yg baik, gk maunya sendiri aja. aku jd kasihan sma kenchi. tp emang semua karakter di drama ini pada plinplan gk jelas. pokoknya gk masuk bgt ceritanya buat aku. bahkan mau lanjut episod 11 aja aku udah males. gk minat bgt mau lanjut 😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!