Kalau Saja Ada Satu Tulisan di Besoksore yang ditulis Anya Geraldine

Kalau Saja Ada Satu Tulisan di Besoksore yang ditulis Anya Geraldine – Saya sampai pada sebuah twit yang mana orang tersebut mengatakan pada videonya bahwa yang nonton harus kerja karena mereka miskin, jangan males.

Nggak tahu juga sama influenser tersebut. Konon, dia main tiktok dan lumayan “seleb” di sana. Kalau saya lihat sekilas, dia nampak lelaki yang keperempuan-perempuanan secara fisik.

Saya pernah ada di posisi bantuian jualan gorengan dan cilok punya Mbak saya. Bulan puasa saat itu, habis patah hati yang sangat. Salah satu cara menenangkan diri adalah banyak bekerja. Itung-itung melepas ingatan yang mengganggu sampai dapat pendapatan secara finansial.

Sudah goreng rajin sekali. Eehh yang sisa banyak sampai nggak balik modal. Karena sudah magrib dan nggak kunjung ada yang beli, akhirnya dibawa ke masjid. Kali aja di sana banyak yang mau gorengannya.

Mbak saya bagi saya adalah sosok nyata dimana rajin saja kadang nggak sejalan sama mementaskan kemiskinan. Ia pernah berjualan keliling dan nggak ada yang beli sama sekali. Tiap ada orang yang ditawari dagangan, mereka menggeleng.

Saya nggak perlu tiktok untuk tahu realitas ini kemudian jadi konten video. Konten ini lama mendekam dalam ingatan saya.

Mbak saya pernah sampai pada dimana dagangan laris. Pernah juga dalam keadaan terpuruk. Hidupnya kalau bisa dibilang sangatlah kontras.

Jadi, kayaknya kalau nyuruh-nyuruh si miskin untuk rajin kayaknya si miskin banyak sekali yang hidupnya rajin. Mereka meraih rupiah demi rupiah dalam jumlah yang nggak banyak. Boro-boro buat investasi. Buat makan sehari-hari saja kadang berutang.

Cukup sensitif yaa?

Orang miskin memang selalu banyak disalahkan dari banyak lapisan hidup.

Sampai Nanti, Sampai Mati

Sebuah lagu lama dari Letto, dimana kita sebagai manusia harus tetap berjalan. Masalah yang kita hadapi bisa jadi masalah yang pernah orang lain hadapi. Takut mati, sakit, sampai patah hati. Meski demikian, mereka tetap bertahan, berjuang sampai mati, demi hari-hari yang harus dilewati.

Lagu ini baru saya dengarkan. Mendengarkannya membuat saya ingat untuk tetap berjalan dan berjuang. Apapun hasilnya.

Alhasil, saya yang tadinya akan pergi mandi dan tidur. Menyempatkan membuat satu buah tulisan di sini.

Sampai nanti, sampai mati adalah salah satu lagu kesukaan saat SMA kelas X. Dulu sering denger di radio lewat hape teman. Tentunya saat jam kosong.

Tahun-tahun berlalu, saya juga mulai sadar bahwa lagu-lagu Letto memang punya pemaknaan yang dalam. Tidak melulu tentang persoalan cinta anak muda. Bisa diartikan demikian, tapi tidak menutup kemungkinan untuk diartikan lebih lebar. Bahkan tentang Tuhan.

Soal Perjuangan Hidup

Saya tahu. Kita saat ini sama-sama dalam kondisi yang sulit. Hampir-hampir banyak masyarakat di Indonesia terkena dampak pandemi. Sejauh mana kalian merasakannya? Atau mengalaminya?

Tidak hanya diterpa masalah kesehatan, namun banyak pekerja yang dirumahkan.

Pun saya juga selama hampir dua tahun ini sangat-sangat berjuang. Begitu pula dengan teman-teman sekalian. Saya yakin itu.

Saya kadang mencoba memberikan kalimat positif pada diri sendiri. Terlebih soal ngeblog. Saya sering bilang ke diri sendiri, “Kerja bagus. Selama ini kamu tidak menyerah menulis.”

Meski diterpa tulisan yang hampir semuanya dicuri.

Diterpa soal PHP tulis menulis yang nggak ada kabar.

Diterpa diputus hubungan kerja begitu saja. Dan pembayaran yang tersisa katanya jadi milik mereka. Sedih rasanya. Padahal mereka adalah perusahaan besar dan saya hanyalah penulis kecil.

Dulu, saya ingin menjadi orang yang berpengaruh di bidang blog. Saya ingin mengajak yang lainnya untuk mau menulis. Sebuah kegiatan yang pada pandangan saya ke sisi positif, membagi hal-hal kecil yang mungkin saja berguna bagi orang lain. Membangun ekosistem berselancar yang nggak cuma dijajah oleh sosmed.

Menulis itu ada momen besar untuk refleksi.

Sayangnya. Mimpi itu terlalu muluk dan besar untuk saya.

Jangankan jadi orang yang berpengaruh besar di dunia blog. Macam orang kayak Raditya Dika yang namanya besar awalnya dari blog malah meninggalkan blog.

Ada apa dengan blog?

Akankah Saya Bertahan?

Itu juga yang menjadi pertanyaan besar pada diri saya. Akankah saya mampu bertahan.

Keinginan untuk menulis bersama teman saja gagal. Saya sendirilah yang akhirnya masih menulis. Tumpukan ide itu menjadi rongsokan belaka.

Lalu, saya juga ditikung oleh pragmatisme tiap harinya.

Betapa ngenesnya harga iklan yang bernilai 1000 sampai 3000 perseribu klik. Kalau sehari ada 4rb klik. Maka hitung saja dapat berapa? Sedangkan pendapatan dari blog sangat saya tunggu-tunggu untuk bertahan hidup.

Doa saya, semoga pandemi segera berakhir.

Kalian juga harus tahu ganasnya dunia pencarian di internet. Google seakan-akan punya algoritma untuk menayangkan situs-situs besar dan mengesampingkan situs kecil.

Saya seperti ikan kecil bahkan mikroba diantara ikan besar.

Meski demikian. Lagi-lagi, harus saya ucapkan “Semangat” pada diri sendiri. Untuk tidak mudah kecil hati.

Orang jepang yang menekuni dunia origami, pada akhirnya membantu NASA untuk membuat satelit yang efisien agar ramping saat peluncuran dan membesar dengan lebar saat ada di langit. *ini saya kurang riset yaa. Cuma denger dari cerita kawan.

Mungkin ada momennya sendiri untuk yang tetap mencintai aktifitasnya.

Seandainya

Anya Gerlandine ketika endorse produk pasti mahal. Mungkin nggak kayak saya yang tulisannya ditawar hampir setengahnya padahal saya akan menulis dengan detail dan cocok dengan persyaratan.

Saking sedihnya ditawar dengan setengah harga. Saya banyak terdiam. Sedemikiankah saya tidak bisa meski hanya dihargai “segitu?”

Kemudian di momen yang lain, saya melihat twit dari Anya Geraldine yang bertuliskan:

“Panas Anying”.

Like sampai lebih dari 15rb.

15rb manusia membubuhi tanda hari pada twit dari Anya.

Tuhan, saya sampai berandai-andi. Seandainya Anya mau sekali saja menulis satu tulisan di blog saya. Kemudian mempromokan linknya di sosmednya.

Dan “waaaawwwwww”

Mungkin pengunjung blog saya akan mendadak naik.

Namun…

Kemudian saya paham kalau fantasi saya ketinggian. Anya Geraldine adalah makhluk yang hidup dalam gelembungnya. Dia indah secara visual, disukai banyak orang. Mungkin juga tulisannya yang perkata akan sangat mahal.

Bayangkan saja, dua katanya bisa menyentuh 15rb love.

Saya sering nulis dalam 1000 kata. Bahkan bisa lebih, harganya sudah murah. Kemudian ditawar sampe saya sedih. Bahkan mengsedih.

Saya sudah dipastikan tidak bisa membayar Anya Geraldine.

Saya hanya bisa bertanya-tanya. Apa yang membuat orang-orang begitu mudahnya membubuhi love pada tulisannya yang sering kali hanyalah umpatan belaka.

Pernah saya di dalam angkot. Saya diam saja, tbtb ada calo ngomong di pintu yang posisinya mobil yang saya naiki sedang berhenti.”

“Kamu mau nggak sama orang itu?” si calo tbtb menunjuk pria entah siapa dan saya terdiam. Saya tidak paham apa maksudnya.

Kesal dengan saya. Si Calo bilang, “Jelek saja sombong. Kayak yang cantik saja.”

Tuhan, saya hidup dalam zaman dimana diam saja bisa langsung dicela. Itu pun karena paras yang saya miliki.

Saya juga hidup dalam zaman dimana orang terkenal yang menuliskan dua kata umpatan mendapatkan love sebanyak 15k lebih dan RT sebanyak 1k lebih. Dikomentari 1300 lebih komentar.

Penutup

Tulisan ini cuma kepikiran. Kalau nggak ditulis langsung nanti idenya keburu ilang.

Kini saya tahu, kenapa orang-orang ingin dikenal orang lain dan berparas indah. Saya tahu. Sekaligus tersadar dan memaklumi.

Dunia memang kejam.

Anya kalau bilang cinta pasti diterima yaa?

Nggak kayak saya. Malah ditinggal kabur.

Buat yang mau trakteer mimin bisa di link ini. Buat beli ketoprak.

Terima kasih.

You May Also Like

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!