Pernah Sedih Karena ditolak Seperti Yeom Gi-Jeong

Pernah Sedih Karena ditolak Seperti Yeom Gi-Jeong Yeom Gi Jeong dalam karakter drama My Liberation Notes sangatlah unik. Tiga bersaudara dalam drama ini emang unik banget. Kali ini, saya mau ngomongin Yeom Gi-Jeong dulu ya.

Pada episode pertama Yeom Gi-Jeong galaunya lebih vokal usai dibilangin sama duda ganteng Cho Tae Hun kalau momen menikahnya Tae Hun itu membahagiakan sebab ia punya anak.

Gibah.

Awalnya dari gibah. Yeom Gi-Jeong bersama dengan dua rekan kerjanya saling ngobrol di kedai. Tidak sadar di meja samping mereka ada Cho Tae Hun dan anak perempuannya yang mendengarkan semua ucapan Yeom Gi-Jeong.

Yeom Gi-Jeong ucapannya memang nyelekit dan cenderung merendahkan sebab ngomongin status hubungan dan tempat tinggal yang katakanlah mengenaskan baginya. Yeom Gi-Jeong sendiri pun merasa mengenaskan tinggal di Sanpo.

Di episode pertama, saya masih ingat. kalau Yeom Gi-Jeong mau sembarangan suka sama orang sebelum musim dingin. Ia mendengar suara jangkrik yang pengen kawin. Jangkrik sekecil itu tahu kalau akan musim dingin dan cari teman sebelum musim dingin.

Di depan kakak, adik, dan dua teman sedaerah. Yeom Gi-Jeong mengucapkan keinginannya. Ia bilang tidak akan mikir panjang-panjang. Pokoknya mau jatuh cinta secara sembarangan.

Beneran Jatuh Cinta

Eehh malah kesemsem sama si duda ganteng Cho Tae Hun. Sampai bela-belain ngambilin piringan hitam demi punya alasan ketemu sama Cho Tae Hun.

Menghimpun segala keberanian. Yeom Gi-Jeong mengatakan cinta pada Cho Tae Hun. Sayangnya ditolak. Sangat-sangat ditolak.

Uniknya Yeom Gi-Jeong. Dia minta adiknya Yeom Chang Hee dan Oh Du Hwan, ketika ia ditolak, masih pengen caper lagi. Yeom Chang Hee mendorong Noonanya sampai sang Noona jatuh. Yeom Gi-Jeong bener-bener lemes. Ia jatoh sampai tangannya cidera.

Yaah setidaknya nanti pengen diberikan perhatian lagi meski ditolak.

Tidak Cukup Sampai Pada Kisah Penolakan

Yeom Gi-Jeong punya penasehat asmara. Rekan kerjanya sendiri. Tapi Mamang Penasehat ini punya kekasih yang satu kantor juga. Yeom Gi-Jeong usai malu karena bilang kepada dua kakak Cho Tae Hun kalau dirinya sudah ditolak, malah dilabrak.

Si pacarnya Mamang Penasehat bilang kalau Yeom Gi-Jeong jangan deket-deket sama pacarnya agar orang-orang tidak salah paham.

Mengenaskannya lagi, ada perempuan yang gibah, “jangan-jangan lelaki yang diceritakan Yeom Gi-Jeong itu fiktif”.

Maka….

Ketika Yeom Gi-Jeong Menangis

Adalah hal yang wajar banget. Bahkan nangis banget di depan Pacarnya Mamang Penasehat.

Malu.

Merasa tidak berharga.

Merasa usaha sejauh apa, rasanya salah.

Merasa dunia sangatlah nggak adil.

Wis ngerasa ngenes banget.

Pada perjalanan pulang, Yeom Gi-Jeong galau nggak karuan. Ia menaruh kepalanya yang terlalu banyak pikiran macem-macem.

Yeom Gi-Jeong sangat tidak disukai anak Cho Tae Hun. Bahkan oleh dua kakaknya Tae Hun, terutama temannya sendiri, Cho Gyeong Seon.

Ngenes blasss…

Ditolak

Saya jadi ingat sama diri saya sendiri di masa lalu. Saya pernah naksir seseorang yang lebih muda dari saya. Dia lahir tahun 1993, sedangkan saya lahir tahun 1990. Saya udah bilang suka sama dia.

Tahu nggak dibalesnya apaan?

“Terima kasih.”

Wkwkwkwk.

Saya bikin tulisan-tulisan buat dia. Tapi nggak bisa.

Saya bilang lagi kalau suka sama dia. Tapi hatinya nggak pernah tergerak kepada saya.

Tahu nggak dia bilang apalagi?

Bilangnya, “Kamu terlalu baik buat saya.”

Jegeerr…

Saya ingat obrolan drama ini. Bahwa yang ditolak itu, biasanya yang menolak, merasa kualitas orang itu lebih rendah.

Iya. Rasanya begitu. Bukan ngerasa bener-bener baik. Tapi ngerasa saya sangatlah buruk.

Tiga Kali Saya Ke Dokter Usai Penolakkan Ini

Karena?

Asam lambung naik.

Saya nggak bisa makan. Saya demam. Saya kena flu. Bener-bener sakit fisik. Saya memandang langit-langit kamar yang busuk ini lama banget.

Saya banyak melamun.

Nangis juga sering.

Dan goblok.

Yeom Gi-Jeong senang banget saat Cho Tae Hun kirim pesan dan janji ditraktir makan lagi, di tempat lain.

Saya pernah senang banget dia komen di blog saya. Saya pernah senang saat dia ngirim pesan dengan stiker yang tulisannya “mati lu?”

Saya pernah senang hanya dengan mendengarkan suaranya.

Kemudian. Saya tahu diri. Dia sudah punya pacar yang tentunya sesuai dengan standarnya. Lebih tahu diri ketika ia sudah menikah di tahun lalu.

Kalau bisa saya gambarkan. Rasa-rasanya dia tuh makhluk langit. Terus saya makhluk bumi. Cuma bisa “nyawang” dari bumi. Tidak pernah bener-bener ada di semesta yang sama.

Tiap kali nonton drama korea, yang posisi peran perempuannya ditolak, di jantung saya, tiba-tiba langsung merasakan hal aneh. Sakit rasanya.

Perasaan nggak nyaman ini, kadang sering akrab ketika nonton drama yang isinya ditolak atau dicampakkan.

*tarik napas.

Bisa Nggak?

Kadang mikir, bisa nggak suka sama orang?

Kok saya malah menormalisasi ketika orang lain mencampakkan saya karena merasa rendah diri.

Serius, rendah diri.

Dengan segala yang terjadi di keluarga. Kemudian menjadi lapisan-lapisan tebal. Bahwa sepertinya saya didiskualifikasi sama kehidupan.

Buat yang sering baca tulisan saya.

Tahu kan saya pernah suka sama orang lagi? Nggak sampai sebulan. Eeehh orangnya malah nikah.

Wkwkwkwk.

Ingin saya tertawakan diri ini.

Sungguh.

Mungkin saya sudah bosan bersedih.

Btw, ini tulisan curhat. Dalam dramanya, saya harap, mereka berdua jadian. Hati Duda Gantengnya luluh.

You May Also Like

4 Comments

  1. Hallo
    Jujur, saya mengikuti dan menikmati membaca curhatan mbak. Serasa bercermin ke diri sendiri, walaupun saya tidak seberani soal bagian menyatakan perasaan ke lelaki yang disukai. Terkadang berpikir, apakah saya sampai tidak semenarik itu sampai tidak ada yang menyatakan suka ke saya? Tapi malah nanti dibilang tidak bersyukur. Terkadang ingin merasa diharapkan, disukai atau dirindukan oleh seseorang yang bukan dalam lingkungan keluarga atau pertemanan. Tapi melihat keadaan sekitar dengan hiruk pikuk masalah cinta dan rumah tangga, merasa bersyukur masih sendiri, bebas dan tidak berpikir hal hal rumit.

    Kok jadi malah saya yang curhat?

    Terima kasih dengan tulisan – tulisan mbak yang membuat saya menikmati membacanya dan ikut terbawa suasana.

    1. hahahaha, apakah kamu adalah saya?

      betul. belakangan kan liburan tuh yaaa. saya diam sejenak. merasa menikmati kesendirian saya. tanpa kerepotan.
      kemudian bertanya berulang-ulang. apakah saya benar-benar menginginkan lelaki dalam hubungan romansa, menikah, kemudian punya anak.

      otak saya malah bingung sendiri.

      merasa tenang dan bertanya-tanya dalam waktu yang sama.

      tapi soal penolakan ini, saya nggak nyesel sama sekali.
      malah bersyukur. sebab dapat ilmu baru, yaitu belajar bertahan dalam penderitaan.

      kemudian ternyata saya bisa melampauinya. aahh yaaa.

  2. aduh, aku belum nonton My liberation Note karena akun Netflixku belum diperpanjang..
    jadi penasaran euy,
    sesungguhnya aku belum pernah ditolak.
    tapi aku punya pengalaman nembak cowo, diterima sih, tapi selama jadian tuh ya kayak bukan orang pacaran.
    aku pacaran sama orang itu 7 bulan, dalam waktu 7 bulan itu cuma ketemu 5 kali.
    belum jaman whatsapp, kalo mau tanya kabar atau mau diskusi susah banget.
    udah jaman facebook sih, tapi pas dia online dia gak kirim/balas pesan aku.
    intinya mah pacaran, tapi ditelantarin, dicuekin, gtu lah.
    sampe aku mikir, apa ini orang nerima aku karena ngerasa gak enak doang ya bwt nolak aku.
    soalnya punya pacar, tapi berasa gak ada yang merhatiin.
    aku pernah ke rumahnya, bahkan untuk foto bareng aja dia gak mau.
    trus aku putusin kan.
    kepikiran, padahal tolak aja dari awal kalo gak demen ama aku. tapi yah, bener kata kakak admin, jadi dapat pengalaman baru.

    1. waaahh terima kasih sudah berbagi.

      itu kayak disia-siakan nggak sih? memilukan juga. kayak pelan-pelan tapi pasti ditenggelamkan dalam ketidakpastian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!