Omma

Saya nonton drama yang bagus banget tentang hubungan anak dan ibu. Menggambarkan emang nggak ada ibu yang sempurna. Tapi Ibu dari Kang Ho mampu menempuh cobaan hidup yang datang dengan terus membersamai anaknya.

Omma…

“Mi. Saya capek.”

Sore tadi saya melihat ibu saya transaksi kembali pada bank keliling (bank plecit). Nampak uang 50rban beberapa lembar diterima oleh Ibu saya.

Saya melihatnya dari dalam rumah. Karena jendela saya cukup besar dan transaksi terjadi di rumah tetangga, saya melihat dengan jelas kejadian itu.

Kalian tahu? Saya dapat pinjaman 26juta+1 juta kurangan dari Bibi saya. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah membayar 5,5juta. Saya janji bayar utang 1juta perbulan. Utang itu benar-benar tanpa bunga. Ibu saya janji nggak akan utang kembali apapun yang terjadi. Namun apa yang terjadi?

Itu semua bohong. Saya merasa dipecundangi. Jika sudah begini, siapa lagi nanti yang akan menanggungnya?

Ditambah beberapa hari yang lalu Ibu saya datang sendirian ke leasing untuk mencicil motor. Survey datang ke rumah dan Ibu saya memaksa saya untuk membuat nama saya sebagai penghutang. Saya lakukan itu. Ibu saya yang membayar uang DP 2 Juta menggunakan uang miliknya dari THR. Sepanjang 35 bulan, saya harus membayar setidaknya 770k sekian. Motor seharga 19juta. Karena kami miskin dan hanya bisa mencicil, harus kami bayar sebesar 29jutaan (cicilan+DP).

Saya menghadapi dunia dengan perasaan kecil hati. Acapkali demikian.

Kalian tahu? tahun kemarin saya cicil utang laptop di koperasi dan tahun ini ada cicilan hape di sopi (itu pun saya alhamdulillah banget dapat 12x cicilan dengan bunga 0%). Saya nggak beli hape yang waahhh cuma xiaomi yang saat itu emang lagi promo pakai pinjaman.

Sedih?

Ya.

Tapi saya juga harus menyusun strategi pengelolaan keuangan yang baik. Demi tujuan terbebas dari utang.

Nggak cuma itu, saya juga harus berusaha lebih untuk dapat tambahan penghasilan.

Tidak cukup itu.

Kalian ingat Kakak saya yang menyebalkan itu? Dia nampaknya iri karena cicilan motor itu. Dia pengen nyicil senapan yang tentunya siapa lagi yang harus membayar?

Sore ini, manusia itu *kakak saya, melemparkan baso yang dibeli ibu saya. Ngamuk-ngamuk katanya dia BAB darah dan minta obat. Beberapa hari belakangan, tantrumnya kumat. Ngamuk-ngamuk minta ini itu.

Saya punya kehidupan yang mengerikan. Yang lucu dalam hidup cuma tiga kucing yang saya miliki.

Saya sedih.

Saya nggak tahu cerita sama siapa jadi saya tulis di sini.

Semoga kuat, karena saya merasa makin harinya, kehidupan saya makin berat saja. Rasanya sulit bernapas dengan lega.

Saat Ibu saya sungguh dikejar-kejar penagih utang. Saya minta ibu saya dititipkan ke luar kota tempat kakak pertama saya. Tapi kakak saya yang itu menolak.

Pas nonton Good Bad Mother tadi pagi, saya nangis. Saya mendadak membayangkan bagaimana jika ibu saya sakit. Sementara dalam kondisi sehat, minta menginap beberapa hari saja ditolaknya. Saya sudah cerita mengenai kondisi. Tapi kalian tahu? Hingga detik ini tak ada satu kalimat pun pertanyaan tentang bagaimana Ibu saya hidup dengan utang-utangnya.

Memang betul, orang yang sudah berkeluarga. Keluarganya yang utama. Tapi kadang pertanyaan tulus juga hal yang berharga, nggak bisa dibeli. Menandakan ada nasib yang dipikirkan. Meski nggak bisa dibantu banyak.

Sungguh. Saya tahu, ketika meminta bantuan kepada manusia, jika terus-terusan, manusia itu akan sebal dan perlahan akan membenci kita. Berbeda dengan minta tolong pada Tuhan.

Tuhan membuka pintuNya, pelukanNya, dan menjawab doa-doa.

Tapi Tuhan, saya merasa hidup ini berjalan dengan sangat berat sekali.

Sudah dua bulan saya nggak mens, muka saya banyak jerawat, pikiran saya kemana-mana. Sering merasa sedih dan menangis tbtb.

Tuhan, saya minta bantuan. Tolong jangan terlalu keras. Saya merasa sendirian. Saya merasa semua beban dibebankan kepada saya.

Pada doa-doa. Saya minta dikuatkan. Saya minta diwakilkan pada Tuhan karena terlalu berat saya rasakan.

Lucunya. Perilaku kakak saya itu berulang. Seakan jika semua ujian, tidak lulus. Seakan jika peringatan, tidak juga ada di posisi yang lebih baik.

Apa ini hukuman?

Dosa apa yang telah diperbuat hingga saya dan keluarga saya yang pikirannya masih waras mendapatkan hukuman seperti ini?

Jika memang sebagai penggugur dosa. Semoga ada cahaya yang datang kemudian setelah badai ini mereda.

Bismillah saya bisa melunasi semua.

Bismillah nanti saya punya rumah sendiri dan pergi jauh dari muka kakak saya itu. Aamiin.

You May Also Like

15 Comments

  1. πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—
    pls dont die

    aku menunggu apdet tulisanmu setiap hariβœ¨πŸ™πŸΌ

  2. Semoga Mimin sllu diberikan Allah kesehatan & kekuatan. Semoga doa2 Mimin dikabulkan Yang Maha Kuasa. Aamiin πŸ€—πŸ€—πŸ€—

  3. kok gk beli yg second aja yg penting normal jalan kak. tp udah terlanjur. Kalo cicilan 700an dan tidak ada cicilan lain masih bisa ‘idup dg ngirit’ masih cukup. tp kalo ada cicilan lain + nanggung kebutuhan keluarga sehari2 yaaaaa berat. kakaknya suruh kerja. di pabrik kek,, jadi kurir kek yg penting ada pemasukan. itu kakak apa gk ade tanggung jawab , merasa jadi beban atau gengsi dikit2 kek ‘orang udah gede tuh harus ada pemasukan..”

    1. sifat “pengen cepet” dari ibu saya kayaknya bener-bener sudah jadi.
      kalau beli seken harus nunggu untuk nabung karena emang nggak ada tabungan.

      saya sudah ada di level bingung soal bagaimana membuat kakak saya itu sedikit lebih dewasa.

      semoga saya ditolong Tuhan.

  4. semangat mimin … anda adalah manusia tangguh menurut saya
    keren banget dengan segala cobaan hidup itu
    saya pengikut setia blog besok sore loh meski hanya rajin baca aja πŸ™‚

  5. minnn, kenapa aku gak bisa klik trakteeer kamu minn, aku sukak bgt liat tulisan kamu setiap mau mulai nonton drakor atau film. apapun itu.

    min tolong kirim no.rek/akun dana/ovo apapun itu. aku tunggu ya minnπŸ₯Ή

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!