Memikirkan Pernikahan Adalah Kemewahan Bagi Saya

Memikirkan Pernikahan Adalah Kemewahan Bagi Saya – Tulisan kali ini sangatlah personal. Tujuan saya menulis adalah mengudar apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Bukan sesuatu untuk diikuti karena semua orang punya pegangan hidup masing-masing.

Izinkan saya menulis. Mengkisahkan sepojok cerita.

Saya saat ini berusia 31 tahun. Belum menikah. Tidak punya pacar atau seseorang yang dekat dengan saya. Belakangan, makin santernya urusan cobaan hidup. Saya merasa memikirkan pernikahan saja sudah menjadi sesuatu yang mewah.

Kenapa demikian?

Bapak saya sudah meninggal pada usia 64 tahun. Saya pernah cerita pada tulisan yang lampau bahwa Bapak dan Ibu saya adalah penjahit. Tapi, keduanya punya keahlian yang jauh berbeda. Bapak saya jauh lebih ahli dan bisa buat apa saja. Sepanjang hidup Bapak, mendiang jarang sekali pegang uang. Semua uang dikelola oleh Ibu.

Saat Bapak benar-benar ke pelukan Pencipta. Mulailah terlihat bawa Ibu saya terlalu banyak mengandalkan Bapak. Ibu tidak bisa bekerja sebagaimana profesinya seperti dulu. Karena banyak hal yang ternyata tidak dikuasai.

Salah dari Ibu saya adalah menganggap tidak perlu banyak belajar menjahit karena ada Bapak.

Bapak saya meninggalkan banyak utang. Ibu saya juga punya banyak utang. Utangnya di bank keliling. Rentenir keliling. Menggunakan kartu-kartu berwarna, ada yang mingguan, ada juga yang harian, sampai bulanan.

Belum utang di saudara. Belum lagi utang di leasing atau pegadaian.

Nominalnya saya tidak tahu pasti. Yang jelas banyak sekali.

Buat apa utangnya?

Karena gagal bayar. Akhirnya utang untuk menutupi utang. Hingga bunga berbunga ini sudah menjadi taman bunga. Begitulah ilustrasinya. Jadi tidak ada bentuk jelas untuk apa uang-uang itu.

Di depan rumah ada warung. Punya Mbak (Kakak saya). Pernah laris dan mendatangkan penghasilan kotor 3 sampai 7 juta tiap harinya. Tapi semuanya kisah masa lalu. Mbak saya lagi-lagi punya masalah klasik bernama utang. Terlebih, sertifikat tanah rumah menjadi agunan. Warung yang dulu ramai kini menjadi sepi.

Saat ini sedang diisi kembali dengan dagangan seadanya. Sebisanya saya dan sedang jualanan makanan kucing.

*tolong doakan semoga laris.

Lika liku masalah keuangan membuat saya harus berpikir keras dan bekerja kerasa mengenai bagaimana menyambung hidup. Bagaimana uang makan? Bagaimana uang untuk bayar utang.

Kalian tahu? Pernah suatu hari saya minta tolong dua saudara. Meminjam uang. Kemudian mereka seperti “menghardik” dan keberatan.

Ada juga saudara yang kaya. Dipinjami uang sedikit saja dibalas dengan diam tanpa kata.

Saya sadar. Mungkin inilah mengapa keluarga saya lebih memilih meminjam uang ketika dalam kesulitan pada pihak lain daripada keluarga sendiri. Karena ada rasa “sakit hati” ketika diabaikan.

Posisi saya dalam keluarga adalah anak bungsu (meski bukan bungsu asli. Adik saya sudah meninggal). Punya tiga orang kakak.

Satu kakak sibuk dengan hidupnya. Dengan keluarganya.

Satu kakak sedang susah dengan kehidupannya.

Satu kakak malah masih merepotkan. Tidak berpikiran dewasa. Pengangguran dan tidak mau bekerja.

Alhasil. Saya saat ini yang kelihatan jarang update. Sibuk mencari tambahan di bidang lain. Saya jualan apa saja yang bisa memenuhi kebutuhan hidup. Mulai dari mengantar minyak dll.

Sempat minta bantuan minjam modal dan untuk bayar utang. Tapi, lagi-lagi, sulit. Yang ada malah sakit hati duluan.

Meski demikian. Saya masih semangat. Saya ingin keluarga saya bebas dari jeratan utang. Baik Ibu saya, Mbak saya, dan bahkan saya.

Kadang, saya merasa sendirian menanggung beban. Sangat sendiri. Tapi katanya Tuhan bersama dengan orang sabar bukan?

Ketika saya sedikit curhat dengan teman saya. Dia malah mensolusikan untuk segera minikah dan bebas dari masalah-masalah ini.

Chat itu tidak saya balas. Saya diamkan saja.

Tapi saya pikirkan.

Saya tidak mau membebani orang lain dengan drama saya yang setumpukan ini. Kalau saya menikah dan keadaan saya masih seperti ini. Saya tidak akan tenang.

Lagi pula, rasa-rasanya keterlaluan membuat pernikahan sebagai ajang untuk “kabur”. Saya lebih memilih menjalani hidup yang sekarang apa adanya tanpa ngoyo.

Ya.

Tujuan hidup saya kali ini adalah bangkit kembali dari keterpurukan. Terutama dari segi ekonomi. Saya mau keluarga saya bebas utang dan hidup dengan damai.

Kedamaian.

Drama saya sudah berat. Menikah adalah membawa drama suami pada hidup saya. Terlebih saya juga sudah cukup tahu diri. Tidak mau merepotkan. Dan tentunya bakalan banyak yang tidak mau direpotkan dengan kehidupan seperti saya.

Kedepannya. Saya tidak mau nanti anak-anak saya menanggung akibat dari keadaan saya sekarang. Saya tidak bisa membayangkan jika anak saya sama susahnya dengan kehidupan saya.

Akan sangat berat bagi saya.

Pun saya juga menengok bagaimana saya dibesarkan. Saya bertanya-tanya sekaligus takut menjadi orangtua seperti orangtua saya.

Saya tidak terlalu percaya diri akan menjadi orangtua yang baik.

Konon, jangan takut. Bismillah saja.

Tapi saya ada di realitas. Saya hidup dalam kenyataan yang mana sering memukul saya sampai bener-bener babak belur.

Saya sampai ada dititik perkataan, “ingin budir saja” pada Ibu saya.

Dan Ibu saya hanya bilang “itu dosa.”

Tenang. Saya hanya ingin beban saya sedikit teruraikan. Saya masih mencintai kehidupan. Belajar bagaimana menghargai hal-hal kecil.

Saya sering kecil hati.

Memandang bisa jatuh cinta saja sungguh sulit.

Berpikiran tentang pernikahan saja sudah kemewahan. Hidup saya saat ini masih banyak terbelit masalah-masalah yang harus dipecahkan satu persatu. Berjuang satu demi hari.

Sampai jika tidak “betah”. Saya bilang ke diri sendiri, “bertahanlah satu hari saja”. begitulah seterusnya.

Saya tahu hidup harus tetap semangat.

Konon, kalau orang masih menulis. Jiwanya masih hidup. Saya percaya akan hal itu. Masih ada power dalam diri saya.

Minta doanya kawan.

Minta doanya agar saya dikuatkan.

Minta doanya agar tetap berpikiran jernih.

Minta doanya terus tegar.

* minta doa terus yaa. heheh.

Salam hangat dari Mimin.

Next Post

No more post

You May Also Like

12 Comments

  1. Semoga dikuatkan….
    Semoga ada jalan kluar terbaik segera

    Saya pernah ada pada titik itu min…

    Rasanya semua gelap, tidak ada jalan kluar
    Saya tidak berani memikirkan apa yg akan terjadi besok krn saat itu menjalani hari saja sudah gelap dan membuat tersiksa. Tidur yg harusnya jd momen istirahat dari beban pun saya mengigau ketakutan

    Minta tolong ke saudara, dilecehkan
    Ke sahabat, ditolak

    Akhirnya satu2nya yg mau mendengar hanya Allah.

    Dulu saat ada yg bilang, “semakin gelap malam berarti fajar kan datang”, saya bilang itu teori, gak benar. Saya rasa hidup saya sdh tiada harapan

    Skarang 7 thn berlalu. Alhamdulillah sy survive. Dan saat menengok masa lalu, sy merinding dan takjub sendiri, oh saya pernah berada pada saat segelap itu, kok bisa survive ya.

    Allah bantu sy dgn cara yg tak terpikirkan oleh sy. Memang berharap sama Allah sudah satu2nya yg bener, berharap sama manusia bikin sakit hati.

    Min, ini serius. Minta norek dong. Saya ga bisa bantu byk tp mau belikan pizza biar mimin happy ^_^

  2. Jadi inget kata dokter Yang Seokhyeong kepada pasien yang mengalami musibah..
    “Bad things at times do happen to good people”
    Aku yakin ini semua ujian untuk kaka admin,
    dan aku yakin kaka bisa melewati semua ini..
    Kalau kaka belum menikah di usia 31 tahun, kaka ingat aja kata-katanya Nam Sehee ke Yoon Jiho,
    “That’s the plague of the neocortex.
    Cats do not have cortexes unlike humans. For cats, only the present exists; they neither have a future nor a past.
    Because I’m in my twenties, my thirties, and soon to be forties. Only humans lock themselves in time.
    Only humans draw on the weakness of age, ending up spending money and emotions. That is the catastrophic disaster that man has earned in return for evolution.
    Thirty or forty in age is just the same as today for cats.”
    Jalani hidup kaka saat ini yang terbaik,
    mungkin menikah memang sebuah kemewahan, tapi kita harus tetap hidup
    menabung agar bisa membeli kemewahan itu.
    Aku juga dikasih quotes sama mantan, dia bilang
    “jika berjodoh, semesta mendukung”
    Bahkan jika nanti kaka bertemu dengan jodoh kaka, kemewahan itu dapat kaka beli dengan uang yang kaka punya, meski kaka tidak mengeluarkan uang sepeser pun..

  3. Tetap semangat Kakak…

    Tulisan2 Kakak selanjutnya sungguh kami tunggu, jujur Web Besok Sore ini buat patokan saya sebelum menonton drama drama korea yang sekarang banyak banget judul dari berbagai genre juga…

    tetap jaga kesehatan juga Ka <3

  4. Terima kasih banyak… saya pikir itu yg pertama hrs dikatakan pada diri mimin sendiri. ujiannya hebat, berat, tdk mudah.. tp bs bertahan sampai detik ini, itu sudah luar biasa,tdk semua org bisa. merasa kecewa, gagal, sedih itu manusiawi.. jd boleh kok, kalo mau nangis, menerima yg sedang terjadi, jg termasuk salah satu proses utk bangkit. kl misal kuatir bikin ibu sedih, berlagak kuat aja di depan ibu, tp nanti sedihnya, nangisnya, dicurahkan saja pas sholat. Pasti ada jalan keluarnya.. Krn Allah menguji hambanya sesuai dgn kemampuan hambanya, jd krn mimin diberi ujian ini, berarti pasti mimin bisa melaluinya.. Sama seperti quote di My Mister “jika kamu pikir itu bukan masalah besar, maka itu bukan besar” gwaenchana..

  5. Semangat min, aku gak bisa bantu apa pun selain ngasih semangat. Aku jg hampir di keadaan seperti mimin tapi aku ketambahan trauma. Pelarianku nonton drama misteri sama ngeliatin kucing. Kucing aja semangat, masa aku loyo, pikirku kalau lagi down.

    Mari berjuang bersama min ❤️

  6. Saya notice banget skrg jrng update ternyata lg berjuang di kehidupan nyata. Semangat mimin! Sebesar dan sedashyat apapun suatu badai tidak ad yg selamanya, pasti akan surut jua. saya jg merasakan betapa hidup yg sbenarnya itu baru dimulai setelah lulus kuliah, sy pun 28th blm menikah dan tdk punya org dekat berasa senasib aplg sekeliling teman2 sudah pd nikah dan sukses..

  7. Setelah baca review drakor di web ini kupikir miminnya type yang cuman hobi nulis dikala santai, hidup kayak raditya dika. Ternyata setelah baca ini gak nyangka hidup miminnya berat banget kayaknya, saya yang cowok mungkin gak sanggup kalau diposisi miminya. Semoga selalu dikuatkan untuk miminnya dan tidak lelah berusaha

  8. Yang related dari curhatan mimin di atas dengan saya:

    1. Belum kepikiran nikah walaupun umur >25 karena untuk diri sendiri aja masih survive, dan masih punya utang walaupun bukan di bank keliling. Intinya kita bukan princess yang percaya kalau masalah bakal kelar kalau ada sosok laki-laki yang melamar.
    2. Merasa berjuang sendiri, dan bingung mau berbagi beban ke siapa, cuma ada Ibu yang ngandelin kita, dan kakak yang masih ngerepotin keluarga.
    3. Saya pernah diposisi dipinjami uang oleh saudara bahkan tetangga yang kelilit hutang bank keliling. Mereka juga hutangnya tidak jelas untuk apa, dagang gak, anak-anak mereka juga masih gak keurus, masak aja jarang, bahkan seragam sekolah anak saja sampai gak keurus, intinya kayak mereka utang bukan buat anak. Saya diposisi memberikan pinjaman tetapi lama-lama saya merasa jengkel juga. Karena bukan sekali dua kali, dan bukan karena saya pelit, saya lebih senang meminjami uang untuk anaknya makan, sekolah

    Sebenanrnya saya suka baca tulisan mimin di blog ini setelah saya baca curhatan mimin yang patah hati itu. Karena saya pernah mengalami juga, hingga saya tahu bahwa mimin bukan penganut mendambakan kehadiran laki-laki sebagai jalan keluar masalah.

    Intinya semangat ya min.

  9. Haloo admin, terimakasih telah bertahan hingga saat ini😊. Mungkin takdir Tuhan yang membawa saya pada tulisan ini, saya pun saat ini sedang terbebani oleh hutang yang jumlahnya tidak sedikit, untuk makan pun harus meminjam lagi uangnya. Membaca tulisan ini, sejenak membuat hati saya hangat karena saya merasa tidak sendirian lagi menghadapi cobaan serupa. Semoga rezeki kita segera dibuka kan ya min. Aamiin ☺

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!