Halo Agustus 2022

Halo Agustus 2022

Heheh. Bikin tulisan curhat lagi.

Puji Tuhan saya punya sepeda, jadi, saya kerja bolak balik naik sepeda. Baru sepeda yang mampu saya beli. Nanti kalau bisa beli kendaraan bermotor barulah beli. Itu pun uang beli sepeda saya pinjam dari koperasi. Heheh. Puji Tuhan lagi, nggak ada bunga. Cicil sepuluh kali.

Juli adalah bulan kelahiran saya. Entah kenapa selalu nampak berjalan dengan ugal-ugalan.

Hidup saya biasa saja. Membayar yang harus dibayar, belajar dan bekerja. Menulis sedikit demi sedikit.

Untuk agustus ini, Puji Tuhan lagi kalau pembayaran sewa hosting dan domain sudah terbayarkan lunas. Jadi satu tahun kedepan, blog ini akan masih mengudara. Meski biaya tahunanya makin naik aja hiks. Sedangkan pendapatan menurun.

Tapi saya gpp.

Sama kayak banyak hal lainnya, bersyukur aja masih dikasih hidup untuk belajar lebih baik dari kemarin.

Bulan Lalu Saya Pikir…

Akan ikut jadi mahasiswa PPG. Namun belum rezeki, belum terpanggil, tidak tahu kapan. Perlahan bahkan lambat, saya cicil-cicil buat belajar, supaya nggak kagetan kalau pas kuliah daring.

Bulan lalu juga saya belajar dari peristiwa, bahwa yang bukan rezeki itu bisa pergi kapan saja. Bahkan hanya hitungan menit, cepat sekali, sebuah barang yang menemani saya dari tahu 2014 pergi.

Tapi kembali tidak apa. Mungkin karena bukan sepenuhnya saya yang membayar.

Tapi kalau dipikir lagi, barang-barang yang terjual dan tergadai tanpa kembali lagi juga saya beli dengan jerih payah saya sendiri. Tapi lagi-lagi bukan rezeki saya.

Tidak apa.

Orang cerdas tahu bagaimana caranya mendapatkan hal yang ia inginkan. Orang bijak tahu kapan hal dilepaskan, dan kebijaksanaan nggak bisa diajarkan, bahkan oleh orang-orang yang rajin mengumpulkan pengetahuan sekalipun.

Saya di usia menapaki 32 tahun, sedang diminta Ikhlas sama Tuhan tentang melepaskan.

Lucu lho. Saya sering khawatir tentang bagaimana tidak punya kendaraan. Tapi setelah dijalani, saya bisa juga. Tidak telat datang kerja karena tahu diri lebih baik berangkat pagi agar udara lebih segar dan jalanan tidak terlalu padat.

Akhirnya…

Lewat banyak kekurangan. Saya jadi cukup tahu diri. Kalau kekurangan saya adalah bodoh, maka jawabannya adalah belajar.

Tabahkan Tuhan. Saya bisa melewati semuanya.

Kadang, saya pikir, hampir selalu saya sendirian. Tidak punya orang-orang yang mendukung, menelan bulat-bulat segala kegelisahan dan kegundahan seorang diri. Jika perlahan sesuatu saya bangun, bangunannya cepat ilang lagi. Kayak bikin istana di pinggir pantai.

Harus Bagaimana?

Begitu pertanyaan saya tiap hari. Menikung pikiran-pikiran negatif dan mencoba tetap waras.

Bersyukur dengan tubuh, bahwa tidak masalah lebih capek, mungkin Tuhan sedang menagih saya karena punya tubuh yang sehat.

Kemudian yang saya minta pada Tuhan adalah jauhkan saya dengan perasaan iri hati.

Ketika melihat banyak hal di sosmed atau seseorang yang berkata, “gaji kemarin belum habis, eeh sudah gajian lagi.”

Saya minta dikuat-kuatkan dalam kondisi apapun. Jauhkan pikiran bahwa kebahagiaan dan kecukupan hanya milik orang lain. Saya pikir, cuma urusan waktu nantinya kehidupan saya lebih baik lagi. Lalu, barangkali menemukan seseorang yang saya anggap teman hidup. Yang kepadaku ia begitu sayang, begitu juga sebaliknya.

Tapi, kalau hal itu belum diizinkan Tuhan, izinkan saya tidak habis-habisnya punya alasan kalau Tuhan Maha Pengasih, yang cahayanya menembus sendi-sendi tulang dan hati yang mudah bersedih.

Tahun Lalu…

Saya kehilangan Bapak saat varian Delta mengganas.

Satu tahun ini. Saya sekuat itu. Jatuh bangun. Memperbaiki hal-hal yang tidak saya pahami dengan baik.

Membayar banyak hal yang bahkan uangnya tidak pernah saya makan.

“Pak, utang Bapak belum lunas sampai saat ini. Tapi sebagian sudah. Sebagian belum. Maaf Pak, belum bisa sat sit set bayarnya. Semoga Tuhan mudahkan rezekinya. Damailah Bapak yang baik, di tempat yang baik.”

Penutup

Manusia punya rencana. Manusia punya keinginan. Dan Tuhan adalah sebaik-baiknya Penulis.

Salam damai di hati buat pembaca sekalian.

Terima kasih sudah membaca.

You May Also Like

4 Comments

  1. Halo mba..
    Semoga makin kuat & sabar ya..
    Agustus yang mana di bulan sy kehilangan bapak sy.
    Rasanya sedih kalo inget tentang bulan Agustus.
    Mengikhlaskan yang “hilang” memang berat ibarat seperti menggenggam pasir,semakin erat digenggam malah makin ngga ada yang tersisa.
    Hidup kadang lucu ya mba, diminta mencari begitu mendapatkan malah diminta melepaskan.
    Manusia hanya bisa “ikut” jalan kemudinya Tuhan karena semua memang milikNya.
    Semangat ya mba, semua indah pada waktunya.
    Sy selalu mantengin blog mba setiap hari apakah ada tulisan baru apa ngga.
    Sehat selalu ya mba..
    Terima kasih

  2. Insya Allah hatinya selalu tabah ya kak.. semoga Allah SWT selalu menyertai hidup kakak. Karena ini hanya dunia, ini hanya dunia.. 💗🌌

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!