Efek Serius Terlalu Banyak Nonton Drama Korea

Efek Serius Terlalu Banyak Nonton Drama Korea  – Tulisan kali ini sifatnya akan sangat berpegang teguh pada pendapat dan pengalaman pribadi. Bukan berpegang teguh pada pembukaan UUD 45 dan Pancasila. Bukan cuy.

Jadi begini…

Entah sudah berapa tahun, hidup saya cukup tersentuh dengan banyak sekali judul drama korea. Mulai nontonnya dari zaman di stasiun TV, nonton pakai dvd bajakan yang sengaja beli atau minjam teman, dari undah sana sini atau dari cara-cara legal yang tentunya mudah dilakukan saat ini.

Entah pula sudah berapa judul saya lahap. Buktinya ada di blog ini guys. Saya sendiri enggan menghitung berapa jumlahnya.

*berapa lapiss?

*ratusan.

Ketika kalian membacanya bernada seperti iklan tango zaman dulu. Kita pernah ada di masa yang sama.

Kemudian Waktu Bergulir

Makin banyak orang nonton drama korea. Sepertinya drama korea bener-bener “laku” di Indonesia dari Sabang sampai Marauke tanpa melihat batasan usia apalagi agama. Hahah

*btw, saya pernah nulis tentang yang salah satu pemuka agama berkomentar tentang drakor di sini. Monggo kalau kalian mau baca.

Karena drama korea nggak kenal batasan. Banyak bocah juga yang nonton. Tentunya dengan selera mereka dan kebanyakan kalau remaja kalau dalam usia puja memuja itu sudah tahulah kayak apa.

Penggemar baru drakor yang lebih muda tentu akan terus muncul.

Kemudian saya merasa menjadi penggemar drakor pada level yang umurnya lumayan ini agak terdiam. Banyak sekali drama korea yang muncul tapi tema dasarnya nggak bener-bener baru.

Kadang saya merasa banyak di level “bosan”.

Terdiam di sini adalah kurangnya antusiasme saya pada drama yang biasanya sedang on going. Misalnya begini, saat drama populer kayak Start Up, di mana Dal Mi kisahnya antara dua pria yang itu Nam Dosan dan Han Ji Pyeong.

Beberapa orang menjadi terbelah menjadi Tim Anu dan Anu.

Emang!!! Writternimnya pandai membaca situasi bahwa manusia mudah terpecah belah. Dibuatlah karakter dua pria yang sama-sama kuat.

Han Ji Pyeong goblok karena nggak segera jujur juga sama wanita yang dia puja tentang siapa Dosan kecil yang suka kirim surat? Kalian gemes sama ini?

Saya nggak terlalu sih. Kisah seperti ini tuh cuma mancing penonton secara teknis saja. seperti yang saya ungkap tadi. Manusia memang mudah terpecah belah. *eeehh jangan kebanyakan ngomongin drama ini nanti pas bikin ulasan saya malah nggak punya bahan.

Saya Merasa Sulit Menemukan Drama Daebak

Sebelum ke sana… saya mau kasih tahu dulu.

Begini.

Saya pernah nonton diskusi antara Hanung Bramantyo di acara Humor Sufi. Hanung berkata bahwa dia pernah menggunakan Fedi Nuril dalam film A. Film A sangat laku keras dengan tema istri yang lebih dari satu itu.

Kemudian muncul lagi. Hanung masih menggunakan Fedi Nuril dengan tema film yang sebenarnya nggak beda jauh. Katakanlah film B.

Tenyata film B nggak sesukses film A.

Penonton punya momennya tersendiri untuk menikmati sebuah karya.

Itulah yang saya rasakan sebagai penonton guys.

Misalnya tentang cinta manis antara bos dan bawahan, kisah cinta orang kaya dan miskin, kisah anak yang kelahirannya misterius, kisah manis yang nggak lama kemudian hilang, kisah cinta bertepuk sebelah tangan, pria baik yang nggak dipilih sama peran utamanya dll.

Saya banyak merasa tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menggugah perasaan saya ketika menjadi penonton.

Semacam ada kalimat “itu lagi?”

Bahkan ketika yang main adalah aktor dan aktris dengan paras yang biasanya dipuja-puja sama orang lain. Itu kurang mempan di saya. Kalau saya nggak suka, saya akan tinggalkan begitu saja.

Dan terus terang banyak drama mengecewakan dengan pemain yang katanya banyak fansnya itu secara ide cerita.

Saya Kadang Merasakan Kehampaan

Uhuk.

Yaah guys. Kadang saya merasa kehampaan saat nonton. Kalau saya merasakan hal itu. Saya percepat kecepatan nonton.

Kemudian saat selesai dramanya, saya sulit sekali bilang drama bener-bener bagus.

Mungkin karena saya sudah pegang drama bagus di zaman lalu dan memegang kriteria tertentu. Ketika dihadapkan dengan kualitas drama yang nggak sebagus dulu, saya merasakan kehampaan.

Atau mungkin saya sudah ada di titik bosan pada drama korea.

Entahla.

Yang jelas ketika ada yang daebak. Saya nggak akan segan bilang daebak. Namun lagi-lagi kebanyakan drama berjalan biasa saja dengan tema lama yang sedikit dipoles.

Alternatifnya…

Saya sedang memeras diri saya sendiri untuk tetap rajin menulis apapun temanya. Nggak meski harus drama atau film. Mungkin saya nulis hal lain juga. Bahkan menulis tentang filsafat.

*huh.

Btw, buat yang belum tahu. Tulisan saya yang lain tentang kehidupan biasa yang saya alami bisanya dituang di sini.

Beberapa cerita pilihan diantaranya adalah…

  1. Soal Humor.
  2. Kamu (1)
  3. Tentang Rumah dan Manusia yang Mengalir
  4. Penulis Rentan Bunuh Diri. Bloger Apa Kabar?
  5. Hal Terbaik dalam Menulis.

Yahhh… barangkali kalau besoksore.com jarang update atau mendelegasikan pada penulis lain. Kalian bisa main ke blog sebelah. Bukan ngomongin drama khususnya, tapi lebih ke hal gado-gado bahkan nggak terlalu penting.

Pada dasarnya, menulis adalah soal menangkap momen dan saya nggak mau momen terlewat begitu saja tanpa arti yang berarti.

Dan saya ingin tetap menulis. Tentang apapun itu. Soal ulasan drama hanyalah salah satu bagian saja.

Kembali ke soal Efek Serius Terlalu Banyak Nonton Drama Korea adalah kelelahan karena tema biasanya nggak lebih bagus dari drama sejenisnya di masa lalu. Ekpektasi saya sebagai penonton maunya yang lebih bagus terus.

Sumpah saya merasa sungguh rewel kalau nonton drama.

hufff….

 

Advertisements
Next Post

No more post

You May Also Like

4 Comments

  1. maaf min sebelumnya.. kalo saya salah kasi komen…

    sebenarnya, kalo dilihat dr sudut padang aku.. si mimin lg kehilangan passion nonton drakor, karena dikejar dateline nulis… akhir nya sdh ga bs menikmati drama itu sendiri secara santai… yg dipikirin, gmn caranya target nulis nya dapet. jadi, momentum nya ga dapet lg…

  2. Terkadang waktu dan situasi jadi pendukung kayaknya min. Kemarin kemarin pas Do You Like Bramhs tayang, saya anti banget gak mau nonton, cuman mama saya aja yg setia nunggu tiap episode. Saya pikir drama apaan pemeran utama keliatannya lemah banget, cerita cuma ya jatuh cinta, masalah, putus, balikan, gak ada yg baru. Terus sebulan kemudian selama beberapa hari saya tuh merenung terus, rasanya koq hampa banget hati, pengen punya kekasih (haha kesannya gimana banget, tapi memang ada fase dimana kita kesepian kan?) terus kepikiran nonton dan akhirnya yg saya anti gak mau liat ditonton juga. Dan terlepas dari cerita “biasa”nya itu, rasanya kesepian di hati cukup terpenuhi. Tapi karena memang ini kerja min, mungkin memang di tahap jenuh. Coba kalo bisa rehat mungkin seminggu dua minggu, mungkin dengan begitu rasa penasaran dan keinginan nonton muncul kembali.

    1. setuju jo. kadang situasi juga mendukung apa nggak. tentunya yang berhubungan dengan suasana hati.
      kayak nonton My Mister itu, di mana ada kegigihan untuk tetap hidup dalam situasi sulit, beberapa diantaranya saya merasa terwakili.
      makanya saya jadikan drama terbaik yang pernah saya tonton sejauh ini.

      bagi saya. drama harusnya adalah semacam refleksi hidup juga. Di dalamnya ada semacam kehidupan kecil. Bukan sesuatu yang mudah datang dan mudah pergi aja euforianya.

      atau mungkin ekspektasi saya terlalu besar kali ya.

      Kalau dibilang libur. Saya bisa aja nggak nonton dan cuma nulis dengan bahan yang sudah ada. Biasanya ngomongin drama lama atau hal lain. Tapi yaaahh sekali lagi. Ada kalanya penat melanda. Penat yang kearah kualitas dari drama on going.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!