Tepat satu tahun lalu. Di bulan yang sama, ada perlombaan di luar kota. Berbekal saat itu pimpinan yang cukup menyokong. Lomba ke luar kota pun bisa diikuti.
Saat itu posisi saya sebagai pendamping. Kemudian melihat rekan kerja saya mengikat sepatu dengan lakban putih. Iya, lakban putih. Lakban putih itu nggak cukup kuat akhirnya harus ditambah dengan lilitan lakban lagi.

Ngelihatnya miris banget, sedih.
Mengingat saya juga punya pengalaman yang cukup dramatis dengan sepatu di masa yang lalu. Intinya, sepatu-sepatu yang dimiliki sudah sangat tidak layak pakai. Lemnya sudah terkelupas dan bentuknya sudah nggak karu-karuan.
Keluhan anak-anak juga terdengar. Kalau banyak sepatu yang mereka pakai rasanya sakit.
Saya yang mendengar pun rasanya sakit.
Sedang daya dan upaya sebisanya tapi kayaknya masih belum memunculkan tanda-tanda positif.
Kemarin saya di sini, meminta bantuan dan sudah terkumpul 245.000 masih jauh dari keinginan setidaknya beli satu pasang cymbal dahulu. Barangkali teman-teman bisa bantu, hehehe.
Rasanya tuh kayak hidup enggan mati tak mau deh ekskulnya. Tapi doa dan usaha semoga membuat ekskulnya berjalan ke arah yang lebih baik.
Saya ingat kata Sabrang Mowo Damar Panuluh dimana hidup adalah membuat yang chaos menjadi order. Hidup saya banyak chaosnya, kemudian ditambah-tambah. Apalagi ada lomba nanti di desember yang mana sepertinya pihak anu nggak bisa kasih biaya penuh.
Guys, gimana saya nggak pengen jadi orang kaya yaaa? Ingin rasanya saya membantu anak-anak, nggak ngelihat kemana-mananya (yang sebenernya saya sebel juga), tapi soal semangatnya mereka yang masih bertahan. Detik ini, saya masih semangat ngurusnya, meski pusing banget aslinya, masalahnya banyak. Butuh biayanya nggak sedikit sama sekali.
Doain Mimin dan anak-anak yaaa. Bisa kuat latihan, dapat alat baru dan bisa menang lomba. Di rencana saya saat ini adalah bikin pembukuan yang rapi. Biar kalau butuh apa-apa nggak bingung.