Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 30 Part 2

Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 30 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini yaaa…. masih tentang demo yaaa… “Kami menginginkan kompensasi dari perusahaan iblis! Jadikan pegawai alih daya sebagai pegawai alih tetap!!! Kami juga butuh jaminan kerja.”

Jung kemudian kembali ke kerumunan Demo. “Kenapa kamu kembali?” Tanya Nona Bo. “Kukira kamu tidak akan kembali.”

“Maafkan aku soal tadi. Aku khilaf.”

“Kami yang seharusnya minta maaf. Andai tahu akan dipecat, kami pasti sudah memberitahumu.” Ucap Ha Ra Ri.

Ahjumma Koo menambahkan. “Setidaknya kamu tidak dipecat, syukurlah. Kamu bilang kamu meneken kontrak dengan Direktur Do, bukan? Kapan kontraknya berakhir?”

“Tertulis bahwa kontrak akan berakhir jika si pegawai mau… tapi….”

“Waaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… baguslah. Artinya kamu tidak akan dipecat. Kalau dipikir-pikir, kini dewi fortuna memihakmu. Belum lama ini kamu dipecat dan membuat masalah. Dengan mengatakan kamu ingin membunuh bosmu.”

Jung ponselnya berbunyi. Bosnya membahas tentang makan malam. Tapi Jung melihat tentang tema mogok makan sehari.

“Pergilah. Kamu tidak suka membuat bosmu menunggu.” Ucap Nona Bo.

“Kamu sebaiknya pergi, Direktur Do pasti sangat kecewa. Kamu sebaiknya menenangkan dia.” Ucap Nona Lee.

***

Jung dan Do Min Ik pun makan bersama. Makan mewaaah cuyy… tapi Jung nampak murung mengingat teman-teman mereka.

“Kenapa? Kamu tidak menyukai makanannya?”

“Bukan begitu.”

“Kalau begitu. Cobalah ini.” Jung diberikan makanan lagi. Tapi diam saja. “Kenapa kamu tidak makan?”

“Karena…. aku berjanji akan membenci mereka. Tapi maafkan aku. Aku tahu nasibmu seperti ini gara-gara USB itu. Setelah mengetahui kamu terluka gara-gara itu. Aku sangat marah kepada sekretaris lainnya…. tapi, aku pernah menjadi babu TnT mobile yang selalu takut akan dipecat dan kontrak kerjanya tidak terjamin. Dan saat aku dipecat, sekretaris lainnya ada untuk menghiburku. Tapi saat ini, mereka dipecat dan kelaparan. Hanya aku yang… rasanya aku tidak bisa memakan apa pun.”

“Kamu boleh pergi.”

“Apa?”

“Aku tidak memaafkan Eun dan para sekretaris itu. Tapi aku kemari untuk memberimu makanan enak. Bukan untuk melihatmu bersedih. Aku akan berada di sini dan membenci kalian. Maka kamu boleh bergabung dengan mereka dan membenciku.”

****

Jung Gal Hee kembali ke teman-temannya.

“Sedang apa kamu di sini? Aku menyuruhmu menemani bosmu.” Ucap Nona Lee.

“Begini. aku ingin berpuasa karena berat badanku naik. Lalu, kurasa ini tempat yang cocok untuk berpuasa. Aku ingin berpuasa dengan teman-temanku.”

“Yakkk… kami bukan temanmu.” Kwkkwkw.

“Harus kumulai dari mana?” Ucap Jung yang bersemangat.

Jung akhirnya ikut melakukan demo.

****

Min Ik di rumahnya malah galau. “Kenapa dia tidak kunjung menelepon? Tidak mungkin… kuharap dia tidak masih di luar.”

****

Demo masih dilakukan hingga malam hari. Min Ik pun mendatangi Jung.

“Direktur Do… ini….”

“Kamu sudah makan?”

“Kami sedang mogok makan.”

“Di situkah kamu tidur?” *di tenda.

“Aku akan menginap di sini malam ini, tapi akan kupastikan untuk datang ke kantor tepat waktu. Maafkan aku Direktur Do.”

Do memakaikan jaketnya pada Jung. “Udaranya dingin.”

****

Esoknya Jung kembali bekerja. “Kamu sudah datang sepagi ini?” Ucap Jung pada Do Min Ik.

“Hei,,, masuklah sebentar.” Wajah Min Ik amat serius.

“Kejuataaannn….” Ucap Min Ik yang menyediakan banyak daging.

“Jokbal.”

“Tidak ada yang melihat saat ini. Jadi, cicipilah sebelum berunjuk rasa.”

“Tidak. Aku tidak bisa.”

“Jangan seperti itu. Satu suap saja.aaaa”

“Ini baru hari kedua mogok makan. Aku tidak boleh makan. Para sekretaris melakukan ini karena mereka terpaksa.”

“Kalau begitu, jangan pergi. Kamu boleh menjerit dan menuntut mengundurkan diri atau menginginkan aku mati. Aku tidak peduli dengan kegiatanmu di luar sana. Tapi aku tidak suka melihatmu berdiri di sana dengan perut kosong. Dan kamu harus tidur kedinginan hanya dengan kardus. Aku juga tidak suka melihat orang lain mengasihanimu saat mereka lewat. Jadi, makan satu suap saja.”

Jung tetap menolak. “Asal kamu tahu… aku memang memakai kalung papan itu. Tapi aku terus merasa tidak enak padamu. Dan itu membuatku gila karena aku terus memikirkanmu. Tapi, bagaimanapun, kamu harus tetap makan teratur. Jangan cemaskan aku. Aku berjanji akan tetap sehat sampai unjuk rasa berakhir agar kamu tidak perlu mencemaskanku.”

Lanjut ke bagian 3 yaaa… klik di sini.

 

Advertisements

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!