Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 25 Part 5

Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 25 Part 5 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini yaaa… terima kasih. Bagian kali ini adalah bagian yang terakhir dari episode 25 yaaa… selamat membaca. Masih di adegan Veronica Park yang berbincang dengan Do Min Ik.

Veronica pun menjawab. “Itu satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengan Ki Dae Joo.” Suaranya memelas gitu guys.

“Andai tidak memulai hal itu sejak awal. Ini sulit dimaafkan.”

“Dia melakukan semua itu karena begitu menyukaimu. Aku tahu kamu marah, dan kamu berhak memilih apakah ingin memaafkannya, tapi kamu harus mengetahi satu hal ini. Saat kamu menyatakan perasaan kepadanya. Dia sangat bahagia. Bahkan dia bilang dia merasa mual. Karena jantungnya terus berdebar. Dia bilang tangannya mengalami cidera, tapi dia merasa jantungnya yang cidera.”

***

Ki Dae Joo menaruh kembali mainan kapal putih di kantor Do Min Ik.

“Kamu bilang mau hengkang. Kenapa kamu terus datang ke kantor?” Tanya Min Ik.

“Aku lupa memberi tahu Sekretaris Lee soal itu. Aku harus memberi tahu dia sebelum suratku diterima. Sepertinya, suasana hatinya buruk belakangan ini.”

“Ahhhh kamu ingat file yang kutemukan di ruanganmu? Aku agak bimbang karena namamu ada di situ. Jadi, aku belum melakukan tindakkan apapun. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan mengirimnya ke divisi audit.”

“Baiklah. Kirimkan file itu kepadaku juga. Aku akan meninjaunya.”

“Baiklah.”

“Soal Sekretaris Jung, kamu tidak memecatnya selamanya bukan?”

“Untuk apa aku melihatnya lagi?”

“Kamu tidak bisa melihat wajah orang lain. Bagaimana kamu melakukan persiapan untuk rapat dewan?”

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Min Ik… aku melihatnya.”

“Melihat apa?”

“Wajahnya saat dia bilang ingin bersamamu selama satu jam saja.” *ini pas ketahuan nonton subuh-subuh itu. “Wajahnya saat bilang setidaknya ingin menjadi sekretarismu.” *ini saat di atap. “Mungkin Sekretaris Jung telah memberitahumu itu. Bahwa dia ingin berterus terang dan bahwa dia menyukaimu. Tapi kamu gagal melihat pesannya.”

“Aku sebaiknya pulang. Kamu terus mengoceh.”

“Seperti itulah menyukai seseorang. Meskipun orang yang kamu sukai itu mengecewakan dan menyaktimu. Kamu tetap memaafkan orang itu. Maafkan dia. Seperti hanya dia memberimu kesempatan lagi saat kamu memecatnya.”

****

Min Ik pulang. Ibunya mengomel. “Bagaimana kamu mengelola perusahaan jika tidak bisa mendapatkan wanita? Ibu menemui Pimpinan Park hari ini dan heran sekali dengan ucapannya. Kamu tahu siapa yang Veronica Park kencani?”

“Jangan usir Ki Dae Joo karena hal itu, kumohon.”

“Bisa-bisanya kamu membiarkan orang seperti dia mencuri pacarmu.”

“Omma… aku tidak bisa makan kacang.”

“apa?”

“aku sangat alergi pada kacang. Ibu tampak tidak mengetahui itu saat kita makan siang tempo hari.”

“Kenapa kamu tbtb membahas kacang? Jika itu penting, kamu seharusnya memberi tahu ibu.”

“Aku sudah memberitahu Ibu. Aku pingsan di piknik sekolah saat SD gara-gara itu. Dae Joo membawaku ke UGS semasa aku SMA gara-gara itu juga. Tahun lalu, saat kita punya pembantu baru. Sekretaris Jung harus berlari ke rumah kita sambil membawa obat. Semua itu grgr kacang. Dan setiap kali itu terjadi. Aku memberitahu Ibu.”

“Kamu sedang menceramahi ibu untuk menjadi ibu yang lebih baik?”

“Tidak. Ibu tidak perlu menghiraukan itu, seperti biasanya. Beruntung, masih ada orang-orang di sekitarku yang mengurus dan membantu hidupku. Tapi, ibu yang selalu bilang. Jika ingin berpura-pura. Lakukan dengan becus. Tidak masalah jika ibu tidak mengetahui ulang tahunku. Tapi kurasa setidaknya ibu harus mengetahui ini. Maafkan aku telah mengecewakan ibu.”

Min Ik memeluk Ibunya. “Bagaimana pun, aku menyayangi ibu, sejak dahulu hingga kini.”

Tapi Min Ik nggak dipeluk balik.

***

Min Ik mengecek ruamnya. Sudah sembuh. Ia juga mengingat saat Jung memberikan obat di saku jasnya.

Min Ik memegang ponselnya. “Bagaimana mungkin aku memaafkannya jika dia tidak mengirim sms yang berisi permohonan maaf?”

***

Jung pergi ke dokter. Melepaskan gipsnya. Ia pun mengingat saat emotikon love itu dibuat.

“Jangan…” Ucap Jung saat gips akan dipotong.

“Apa?”

“Aku tidak ingin memotongnya. Pokoknya ini tidak boleh dipotong. Bisakah memotong di bagian ini?” *potong di bagian lain yang nggak ada lovenya.

****

Jung masih di rumah sakit dan melihat Do Min Ik melintas. Ia senang. Tapi Min Ik tidak mampu mengenalinya.

“Dia pasti datang untuk pemeriksaan rutin. Apa dia jarang makan? Kenapa dia kurus sekali? Rapat dewan akan diadakan besok. Apakah dia bisa menghadapinya sendirian? Maafkan aku. Maafkan aku Direktur Do.” Ucapnya dalam hati.

Bersambung… klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *