Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 17 Part 4

Sinopsis The Secret Life of My Secretary Episode 17 Part 4 – Episode sebelumnya ada di sini.. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaa guys. Terima kasih sudah mengikuti.

Min Ik keluar dan diikuti oleh Jung Gal Hee yang sudah tidak pakai kardigan. Ternyata Min Ik masuk ke dalam mini market. Min Ik kembali minum kopi seperti Peya.

Ceritanya Min Ik sedang galau dan di sampingnya tbtb hadirlah Jung dalam wujud bayangan Veronica Park.

“Ini sama sekali tidak enak.”

Dari jauh. Jung berkata. “Apa? Dia berpura-pura baik-baik saja.”

****

Kemudian Min Ik pun nonton lagi. Aaahhhh ini semacam menziarahi masa lalu. Dan Jung Gal Hee duduk beda satu bangku kosong saja.

***

Kemudian, Min Ik pergi ke jalan di mana dia janjian dengan Veronica.

“Ini sudah berjam-jam. Dia belum makan apapun sejak tadi. Astagaaa…. bagaimana kalau dia pingsan?”

Gal Hee merogoh bajunya dan menemukan pai cokelat.

Gal Hee pun mendekati Min Ik.

“Siapa kamu?” Tanya Min Ik. Gal Hee kemudian memberikan makanan. “Tidak. Terima kasih. Untukmu saja.

Gal Hee menolak dengan bahasa insyarat dan terus meminta Min Ik untuk makan.

“Baik ahjumma… terima kasih atas makanannya.” Kemudian Gal Hee pun pergi.

“Sungguh wanita yang aneh. Apakah aman memakan makanan dari orang asing?”

Gal Hee bahkan memantau Min Ik untuk makan. “Untuk apa dia menyaksikan aku makan?” Min Ik pun merasa aneh.

Akhirnya dimakanlah… “Kalau dipikir-pikir sejak pagi aku hanya minum kopi.”

****

Mi Ik menelepon Jung….

“Ya… Direktur Do.”

“Hei. Kamu di mana?”

“Aku… aku di rumah.”

“Baguslah. Pagi ini, kamu bilang mau menemaniku makan dan minum kapan saja. Apakah itu masih berlaku?”

“Tentu.”

“Kebetulan, aku berada di dekat rumahmu. Bisakah kamu memasak untukku?”

“Apa?”

“Kamu pernah menanak nasi untukku di hotel. Aku ingin memakannya. Kamu tidak bisa ya?”

“Sebenarnya, aku bisa menanak nasi untukmu? Kalau begitu, datanglah ke rumahku selambat mungkin.” Wkwkwkkw. “Pastikan kamu datang selambat mungkin.”

“Baiklah.”

***

Jung sudah ada di rumahnya. Ia pun melihat rumahnya yang sangat berantakkan. “Kenapa harus hari ini?”

Bel kemudian berbunyi. Do Min Ik datang dengan membawa bunga.

“Bunga…. baru kali ini aku menerima bunga dari seseorang.”

“Jangan salah paham. aku merasa tidak enak kalau datang ke rumah orang bertangan kosong. Dan hanya toko bunga yang buka di dekat sini.”

“Toserba sudah tutup ya?”

“Bolehkah aku masuk?”

“Ya… tapi rumahku agak berantakkan.”

“Itu sangat berantakkan. Seperti inikah kamu hidup?”

“Sebenarnya, rumahku dimasuki pencuri kemarin.”

“Apa?”

“Tapi tidak ada yang dicuri. Maksudku, tidak ada yang bisa dicuri. Tapi dapurnya tidak berantakkan. Ayo ke dapur… lewat sini…”

***

Min Ik pun mulai makan… sumpahhh… lucu banget eskpersi makannya. “Enak.”

“Aku membawakan makanan favoritmu tadi. Kenapa kamu ingin memakan ini?”

“Aku hanya ingin saja. Aku hanya teringat akan hari itu. Nasi yang kamu tanak untukku sebelum rapat pemegang saham.”

“Cobalah ini. Aku sendiri yang memasaknya.” Jung pun memberikan lauk.

“Kurasa kamu sudah lama tinggal di sini?”

“Ya. Kakakku tunanetra. Dia akan keslutian membiasakan diri di tempat baru. Beruntung, tuan tanah kami baik dan kami tinggal di sini 10 tahun dengan biaya sewa yang selalu naik.”

“Kenapa dia dianggap baik? Padahal selalu menaikkan biaya sewanya?”

“Menurutku dia tuan tanah yang baik. Banyak yang menyuruh kami pindah dan bilang harga rumah akan jatuh karena kakakku difabel.”

“Banyak sekali orang yang harus kamu urus. Nasinya masih ada?”

“Tentu saja.”

“Aku memasak semuanya. Aku cukup pandai memasak.”

Lanjut ke bagian 5 yaa…klik di sini,

Advertisements

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!