Sinopsis The Nokdu Flower Episode 3 Part 2

Sinopsis The Nokdu Flower Episode 3 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaaaaaaaa guys. Hiyoooo dan nyatanya belum ada yang buat sinopsisnya lagi. Jadi, ayokkkk lanjut sajah.

Para pemberontak sudah mendatangi Waduk Manseok.

“Waduk Manseok, namanya cukup mewah jika menimbang fakta tempatnya dibuat untuk mengumpulkan pajak.”

Jeon Bong Jun berkata. “Para petani bilang, isi waduk itu bukan air. Tapi air mata yang mereka seka saat waduk dibuat.”

Bendera dikibarkan. Waduk siap diledakkan. Dan apa yang terjadi? Air sudah tidak terbendung lagi. Para warga sangat bahagia karena tanahnya sudah mulai diair secara gratis.

***

Usai masalah waduk yang dijebol. Warga kini mendapatkan beras yang mereka ambil.

***

Sebuah tempat bernama Jangducheong….

Seorang pria keluar menyapa tamunya. “Kenapa kamu ke sini?”

“Ahh yaa. Pemimpin organisasi Donghak di Taein mengirimkan beberapa barang untuk Tuan.

Wwwwhhhh apaan lagi nihhh guys. Yang main makin banyak aja. Wkwkwkw.

Salah satu tamu berbisik pada yang lainnya. “Apakah kita terlalu gegabah?”

“Semua orang akan menyerah begitu kita membunuh tuannya.”

Tak lama, Jeon Bong Jun muncul dan menyambut para tamu. “Selamat datang. Apa ini hadiah?”

“Ya. Pemimpin organisasi Donghak di Taein merasa harus mengirimkan hadiah untuk membantu pemberontakkan. Maukah anda melihatnya sendiri?”

“Ya. Biar aku lihat.” Ucap Jeon Bong Jun. “Setahuku Gubernur cukup pelit. Aku penasaran hadiah yang dikirimkan pria sepertinya.”

Choi Kyung Sun menambahkan “Apa terjadi sesuatu yang disepakati pemimpin demi menangkap orang sepertimu?” Choi Kyung Sun kemudian mengambil tangan salah satu tamu dan ada semacam pita. Eeeehhh terjadilah adegan bak bik buk. Antara tamu dan pihak pemberontak.

Pihak tamu akhirnya berkata dan menyerah. “Tolong selamatkan aku.”

“Kembalikan dan sampaikan kepada Gubernur bahwa kami akan segera mengunjunginya.” Ucap Jeong Bong Jun.

****

Kini masalah terjadi di dalam kubu para pemberontak.

“Kamu menyuruh orang ke Gunung Baek dan menyerang gudang persenjataan?” Tanya Hwang Seok Joo pada Jeon Bong Jun.

“Bisa tinggalkan kamu?” Ucap Jeon pada para sekutunya saat rapat. Akhrinya perbincangan 4 mata.

“Apa itu benar?” Tanya Hwang Seok Joo.

“Astaga kamu mudah marah.” Ucap Jeon Bong Jun. “Ya, itu benar.”

“Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu membuat keadaan tidak terkendali?”

“serang kastel gobu dan curi persenjataan. Lalu lanjutkan dan ambil alih jeonju. Terakhir, serang Hanyang. Aku hanya mengikuti yang tertulis di manifesto.”

“Itu hanya manifesto. Manifesto untuk menghasut warga dan menakuti pejabat korup.” Ucap Hwang Seok Joo.

“Itu yang kamu pikirkan. Aku tidak membual saat menulis manifesto.”

“Maksudmu, kamu mau menyerang kastel Jeonju atau semacamnya dengan tentara tidak disiplin itu?”

“Aku sudah meminta pengikut Donghak di wilayah lain untuk menyiapkan tentara juga. Jika berjalan lancar, mendapatkan Kastel Jeonju tidak akan sulit.”

“Hentikan omong kosongmu, Nokdu. Sadarlah bahwa begitu kamu menyerang ke luar daerah, kamu bukan hanya memberontak kepada hakim daerah. Tapi juga Yang Mulia Raja. Itu berarti pengkhianatan.”

Jeon Bong Jun menjawab. “Bagaimana bisa menuntun Raja ke jalan yang benar dianggap pengkhianatan?”

“Apa?”

“Reformasi yang dinantikan oleh rakyat hanya bisa dicapai bukan melalui bantuan kerajaan. Tapi kekuatan rakyat. Kamu tidak memahami itu?” wwwwwhhh ini pemberontakkan kelas berat.

“Pemerintah akan segera mengirim petugas untuk mengatasi kerusuhan. Yang perlu kita lakukan hanya menunggu itu.”

Jeon Bong Jun menggebrak meja. “ada banyak kerusuhan di seluruh provinsi. Banyak pejabat korup yang dibunuh. Tapi apakah ada yang berubah? Pejabat baru yang diangkat akan membalas dendam dan terus mengeksploitasi rakyat. Makin banyak kerusuhan, makin banyak pejabat yang dibunuh. Ini harus berakhir sekarang.”

“Tidak akan. Aku tidak akan keluar dari Gobu.” Jawab Hwang Seok Joo.

“Jangan takut melewati batas. Jika belum pernah ke suatu tempat. Bukan berarti tidak bisa.”

“Jika kamu menginjakkan kakimu di luar Gobu lagi. Akulah yang akan memenggal kepalamu.”

****

Kini kita pindah ke kantor Gubernur Jeolla di Jeonju.

“Ada konflik internal di Jangduccheong?”

“Jeon Bong Jun ingin kerusuhan makin besar. Tapi guru bernama Hwang Seok Joo menahannya. Tampaknya yang lain juga mengajukan banyak komplain.”

“Benarkah begitu?”

“Astaga. Rumor dari para pedagang selalu benar. Teman dekatku melihat dan mendengarnya sendiri. Kamu bisa memercayainya.”

“Karena kini ada perseteruan di antara mereka, kita hanya perlu menangani pemimpinnya.”

****

Beralih ke penginapan pedagang di Gobu.

Ada yan mendatangi Choi Deok Ki dan memberikan pesan di kertas kecil. Choi Deok Ki membacanya. Wajahnya nampak masam.

Nona Song sudah penasaran. Tapi Deok Ki malah memakan kertasnya. Wkwkwk. Karena Nona Song meminta kertas itu kembali. Deok Ki pun kemudian memuntahkannya. Hihhhh jijik.

“Astaga menjijikan.” Ucap Nona Song. Dan pesan itu berisi tulisan bunuh pemimpinnya.

Lanjut ke bagian 3 ya. KLIK DI SINI.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *