Sinopsis The Nokdu Flower Episode 1 Part 2

Sinopsis The Nokdu Flower Episode 1 Part 2 – Episode sebelumnya ada di siniiii yaaaaaa guyssssss... mimin masih lihat-lihat. Kalau ada yang buat sinopsis ini lagi. Dihentikan yaaa… mimin yang ngalah aja. Wkwkwkw.

Rupanya, Baek Yi Kang makan di tempat lain. Wkwkkw Mian salah lihat nama yaaaa kemarin nulisnya Yi Yang *deehhh mungkin miminnya merindukan yang-yangan. Hahaha.

Yoo Wol (ini yang dulunya mengasuh Deok Man di Queen Seon Deok) bertanya pada Baek Yi Kang yang sedang makan. “Kamu melihat Tuan Muda??”

“Ya.”

“Ibu dengar orang-orang jepang terkadang sangat jelek. Dia nampak lumayan?”

“Tentu saja. Yi Hyun tidak mudah dibujuk.”

Ibu pun memukul Yi Kang di kepalanya. “beraninya kamu memanggil Tuan Muda dengan namanya.”

“Astaga, dia tidak ada di sini.”

“Aigoo yang benar saja!!!” kemudian Yi Kang menggunakan sumpitnya. “Aigoo, kamu akan menyolok Ibu menggunakan itu?”

Yi Kang pun mengambil daging ayam. “Aku hanya ingin menyuapi Ibu daging lezat ini. Ini….” dan dengan baiknya Yi Kang menyuapi ibunya.

“Bisakah kamu berhenti mengjahar orang?” Tanya Ibu.

“Tentu saja. Aku ini seperti orang suci.”

“Baguslah. Kamu akan dihukum jika menghajar orang.”

Yi Hyun pun datang, ia berkata…. “ada orang? Ini Yi Hyun.”

Ibu langsung berdiri. “Tuan Muda perlu apa di tempat kumuh seperti ini?”

“Aku ingin menyapa karena kini sudah kembali. Tapi sepertinya aku mengganggu.”

“Tidak, kami sudah selesai makan. Baru hendak membereskannya.”….. Ibu berkata pada Yi Yang. “Kenapa diam saja? Cepat bereskan.”

“Apa maksud Ibu? Aku masih ada satu paha ayam? Bagaimana? Apa Tuan Muda mau juga?”

“Tentu.” Jawab Yi Hyun.

***

Jeon Bong Jun yang kemarin dipukuli nampak berkumpul dengan para pendukungnya, ia menulis.

“Cho Byung Gab, sang gubernur daerah dan para bawahannya kini benar-benar tamak. Orang-orang di negara ini ditempatkan di posisi sulit. Maka, para petapa di area ini akan bangkit dan menyingkirkan pria yang seperti racun bagi para warga. Kami akan menghancurkan kastel Gobu dan memenggal Cho Byung Gab.”

****

Para keluarga Baek pun sedang berkumpul.

“Aku benar-benar beruntung….” Ucap ipar Yi Kyung. Yhaaa meraka sedang bermain kartu.

Dan di luarnya ada Yi Kyung dan Yi Kang bicara.

“Sekarang kamu sudah boleh pergi.” Ucap Yi Kyung.

“Tuan Muda. Sebaiknya anda berhenti mendatangi tempat tinggal pelayan karena itu hanya akan menyulitkan kami.”

“Hyung Nim….”

“astaga. Bisakah anda berhenti memanggilku “Hyung “? Bagaimana mungkin pelayan anda menjadi kakak? Anda sudah gila?”

“Siapa yang tidak gila di rumah ini?” sorak sorai para pemain kartu pun terdengar. “Bagaimana denganmu? Kamu melempar pria bersimbah darah ke tanah. Kamu juga menghajar pria tidak bersalah seakan dia binatang. Jika memang tidak gila. Kamu tidak mungkin melakukan itu.” Ucap Tuan Muda.

“Aku tidak gila. Aku tidak tahu aku siapa. Aku Sang Pria dari keluarga Baek yang ditakuti oleh semua orang di Gobu.”

“Tidak ada pria seperti itu di keluarga ini. Namamu Baek Yi Kang…..”

“Astaga… siapa itu? Aku belum pernah mendengar nama itu. Dia siapa? Apa dia hantu? Atau anda yang berhalusinasi.” Yi Kang pun malah tertawa.

“Kamu pikir dunia akan mengasihanimu jika sikapmu seperti ini?”

“Apa?”

“Aku tidak akan mengentikanmu jika kamu memilih hidup seperti itu.”

“Anda juga harus berhenti. Jangan mengasihani aku dan ibuku.

****

Seorang pelayan masuk dan menerobos keluarga Baek yang sedang main kartu. Si tompel.

“Tuan ini gawat. Hakim daerah kita akan dipindahkan ke Iksan. Bagaimana dengan banggongnyeong? Bagaimana jika hakim daerah baru menghapuskannya? Maka semuanya sia-sia.”

Tuan Baek pun marah dan membanting kartunya.

****

Seorang pria tua pun marah-marah. “Aku menghabiskan kekayaan keluargaku untuk menyuap para pejabat tinggi.” Ucap hakim yang mau dipindah.

“Anda mau tetap di sini?” Tanya Baek Man Deuk.

“Kamu punya cara?”

“Sebelum membicarakan itu, aku akan menanyakan sesuatu.”

“Apa? Tanyakan apa saja.” Ucap Hakim.

“Soal banggongnyeong….”

“Ya?”

“Itu akan memberikan keuntungan besar.”

“Ya.”

“Tapi aku tidak bisa mengingat kesepakatan pembagian kita.”

“Astaga, anda sudah pikun? Tujuh banding tiga. Aku setuju mengambil 70 persen….” Hakim kemudian terdiam. “Tunggu… kurasa lima banding lima. Apakah tiga dibanding tujuh?”

“Ya. Begitu pembagiannya bukan? Aku pasti sangat bodoh. Akhirnya aku ingat.” Tuan Baek pun tertawa. Ia dapat lebih banyak bagian.

****

Choi Deok Ki masuk dalam kerumunan Hostel. Nampak nona muda sedang bermain di sana. Choi pun bicara padanya.

“Aku kembali.” Ucap Choi.

“Kamu membawa beras?”

“Masalahnya, beras di sana sangat mahal.”

“Ada banggongnyeong di Gobu. Harga meningkat saat persediaan sedikit. Itu wajar. Kamu membeli beras?” Tanya Song Ja In.

“Harga yang mereka minta tidak masuk akal.”

“Para pedangang jepang di pelabuhan Ganggyeong menunggu 144 ton beras dengan gelisah. Jangan bilang kamu tidak membawa apa-apa.”

“Ya. Aku sungguh minta maaf.”

“Berhenti… suasana hatiku sedang buruk. Berbarislah sebelum kupenggal dan kumainkan seperti kelereng. Sekarang!!!!!” Para pelayan yang tadinya mau bubar pun kembali ke nona muda lagi. “Banggongnyeong sialan itu. Kapan hakim daerah barunya Cho Byung Gab datang?”

***

Nampak serombongan orang melewati sebuah hutan.

“Aku bisa mati kedinginan saat berusaha menjadi hakim daerah. Ahhh berhenti. Apakah tempat peristirahatannya masih jauh?”

“Kita hampir tiba.”

Hakim baru pun turun dari tandu. Saat turun, ia melihat mayat dengan sebuah kertas di tangannya.

Malamnya. Kertas itu dibaca dan bertuliskan.

“Orang terpelajar Donghak dan para warga di Gobu akan bangkit dan memenggal pimpinan politik berserta bawahannya. Orang terpelajar provinsi Jeolla juga diajak berpartisipasi…..”

Hakim baru pun geram. “Astaga. Bagaimana ini?” tak lama seseorang menyusup dan menodongkan pisau pada Hakim baru. “Kamu siapa?”

“Jika kamu membicarakan surat ini  atau melangkahkan kaki di Gobu. Akan kupenggal kepalamu.” Surat diambil dan hakim baru pun ditusuk.

****

Masih pada malam yang sama. Rupanya pelakunya adalah Baek Yi Kang. Ia pun memberikan surat itu pada Tuannya.

“Apakah kini hakim daerah yang baru sudah bangun?” kemudian surat itu pun dibakar.

****

Hari masih subuh. Hakim baru keluar…. “Apa sudah ada orang bangun? Dasar orang-orang malas.” Baru akan menginjakkan kaki. Namun, yang dinjak sepertinya mayat lagi.

****

Adegan beralih pada Kantor Pemerintah Jeolla, Jeonju.

“Hakim daerah Gobu mengundurkan diri lagi?”

“apa? Lagi? Apa alasan pria itu?” Tanya Park Won Myung.

“Penyakit kronisnya memburuk dalam perjalanan ke Gobu.”

“Itu aneh sekali. Lee Eun Yong, Shin Jae Mook, Lee Gyu Baek, Ha Geung Il, dan Park Hee Sung. Bulan ini, lima orang mengundurkan diri  dari posisi itu. Untuk apa pemerintah pusat masih berusaha? Ahhh astaga… ini….” Park Won Myung pun memberikan kotak. “Bisakah kamu meminta izin dari Yang Mulia Raja untuk memperpanjang masa jabatanku sebagai Gubernur Daerah Gobu?”

Setelah dibuka kotak berisi emas.

Lanjut ke bagian 3. klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat