Sinopsis The Nokdu Flower Episode 1 Part 1

Sinopsis The Nokdu Flower Episode 1 Part 1 – Nyaaaaaaahhh…. kalau keduluan yang lain lagi saya stop di episode 1 yakkk… kalau duluan berarti lanjut. Tapi kalau dramanya nggak sesuai sama hati. Saya hentikan buat sinopsisnya. Haayoollaaah lembur miminnya.

Adegan dimulai dengan pemandangan alam berupa bentang sawah dan hutan kemudian berganti malam. Narasi suara lelaki berkata…

“Pada akhir abad ke 19. Joseon mulai mengalami kemunduran karena pengaruh Jepang dan korupsi pihak berwenang….” nampak seseorang yang sedang duduk di dekat sawah dan mengusir burung gagak.

Seseorang dengan kuda pun lewat.

“Para pejabat provinsi yang korup mengabaikan masalah negara serta memimpin dengan kecurangan dan eksploitasi terus menerus. Tangisan orang-orang yang menderita terdengar di seluruh negeri.”

Mayat-mayat nampak bergelimpangan. Kemudian seseorang yang ada di atas kuda itu menjatuhkan sesuatu pada perempuan yang duduk di dekat mayat anaknya. Ibu itu membuka bungkusan dengan kayu yang ia bawa. Nampak bahwa bungkusan itu berisi makanan.

Narasi melanjutkan bicara, “Orang-orang mengeluhkan bahwa yang masih hidup mendambakan takdir kematian.”

Pria itu pun lanjut pergi dengan kuda dan pengawalnya. Pria  itu adalah Baek Yi Hyun (diperankan oleh Yoon Si Yoon).

***

 

Seorang ahjussi berkata dengan terburu-buru di suatu pasar.

“Dia…. diaaa di sini.”

“Siapa maksudmu?” Tanya yang lain.

“Sang Pria?”

“Sang Pria dari keluarga Baek ada di sini.”

“Tidak!!! Bagaimana ini? Kaburrrrrrr….!!!!” ribet dah mulai.

Kemudian pria itu pun muncul. Adaaaaa oppaaaaaa pacarnya Pyo Nari yaaakk ampun!!!! Munculah Baek Yi Yang. Baek Yi Yang muncul dengan para kroninya. Sementara penduduk malah ngacir kayak tikus dikejar sama kucing.

Baek Yi Yang berhenti pada ahjussi yang sedang memungut barang yang ia jatuhkan. Baek Yi Yang berkata. “Lihat dirimu….. minggir!!!” Yi Yang menendang barang ahjussi.

Dari kejauhan, nampak seseorang yang dengan tajamnya memandang Baek Yi Yang.

“Bos… menurut rumor. Dia pemimpin Donghak. Anda baik-baik saja?” Tanya salah satu komplotan Yi Yang pada bosnya.

“Ayo jalan.” Ucap Yi Yang.

Pria itu nampak memotong sesuatu. Yi Yang pun menyapanya.

“Yak!!!!! Jeon Bong Jun. Berdiri!!!” eehhh malah diem-diem bae. “Kamu budeg ya? Kubilang berdiri!!!”

“Kamu tidak mendengarnya? Harus kupotong pergelangan tanganmu agar kamu mendengar?” salah satu komplotan Yi Yang maju. Namun tangannyalah yang ditempelin Bong Jun di alat pemotong.

“Yak…. Chul Du!!!”

Dari depan, Yi Yang melemparkan pisau dan menancap di tiang kayu. “sebaiknya kamu berhenti sekarang. Jika tidak, selanjutnya mengenai pergelangan tanganmu.”

“Berdiri.” Ucap Bong Jun.

“Apa katamu?” Tanya Chul Du.

“Kataku berdirilah.” Ucap Bong Jun lagi.

“Diam!!! Aku bilang diam!!!” Ucap Chul Du yang malah menantang.

“Jaga sikapmu saat bicara dengan orang yang lebih tua. Jangan lupa!!!” Bong Jun pun akan memotong tangan Chul Du dengan alat pemotongnya.

Karena takut. Akhirnya, Chul Du menghindar dengan panik.

“Chul Du kamu baik-baik saja? Gpp. Tanganmu masih ada kok. Astagaaa…” Ucap teman Chul Du.

Yi Yang kini bangkit dan berkata. “Yak!!! Jeon Bong Jun. Apakah kamu pengikut Donghak? Jangan sampai tertangkap ya? Sayang sekali jika kamu mati sebelum mengadakan peringatan kematian ayahmu yang ketiga.”

“Siapa namamu?” Tanya Bong Jun.

“Kenapa kamu ingin tahu?”

“Aku merasa harus mengetahui namamu. Mungkin aku harus menulis namamu. Di daftar bunuh atau di nisanmu.”

“Sang Pria. Itu namaku, Bodoh.” Yi Yang pun tersenyum.

November 1893, tahun ular, Gobu, Provinsi Jeolla.

****

Seseorang nampak membuka gulungan penguman. Ia pun membaca.

“Sudah menjadi kewajiban warga untuk membayar pajak. Sebagai rasa terima kasih terhadap pemerintah. Jika menggunakan air waduk manseok untuk pertaniannya, dia harus membayar pajak…..”

Nampaklah Bong Jun yang sudah diikat.

“….. namun, si pendosa menganggap itu tidak adil dan menipu pemerintah. Dia mengancam kami dengan mengajukan petisi dan meminta kami berhenti menerima pajak. Dia pantas… dicambuk 100 kali.”

Eeh hakim malah kayak gimana gitu ekspresinya. *mian belum tahu apa profesinya.

***

Pembicaraan empat mata tak terhindarkan atas eksekusi tadi.

“Dia dicambuk 100 kali? Kamu mau membunuhnya?”

“Manusia tidak mati semudah itu. Dia tidak akan mati.” Ucap pria yang juga tentunya punya pengaruh dan kepentingan.

“Bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya sudah mati.”

“Usia ayahnya lebih dari 70 tahun, tapi dia masih muda.”

“Ahhh aku tidak mau mendengar itu. Mari kurung dia beberapa hari, lalu lepaskan.”

“Tuan!!! Jangan lembek sekarang. Anda harus memberikan contoh kepada mereka agar mereka tidak memberontak. Aku akan memberi anda setengah dari keuntungan.”

“Aku mau 70 persen.” Aheeeh maruk juga.

“Anda terlalu kejam. Kita membagi pajak dari waduk Manseok.”

“Yang ini ada risiko tanggung jawabnya. Jika kita melanjutkan kabarnya bukan hanya akan tersebar di Gobu. Tapi juga di seluruh provinsi Jeolla. Aku mau 70 persen.

****

Kemudian pengumuman kembali ditempelkan. “Larangan membawa biji-bijian ke luar wilayah provinsi.”

Si tompel berkata. “Dengarkan baik-baik….mulai hari ini. Kalian tidak boleh membawa biji-bijian ke luar wilayah Gobu. Selain itu, kalian juga dilarang menjualnya kepada orang asing. Jadi, camkan itu.”

“Kenapa tbtb dilarang?” Tanya salah satu warga.

“Kamu tidak tahu orang-orang Jepang telah mengirim pedagang Joseon untuk mencuri beras di provinsi Jeolla? Kita bahkan tidak punya beras yang cukup. Tapi karena mereka terus mengambil beras kita. Kita tidak punya pilihan selain membuat larangan ini!!!” Lanjut si tompel.

Salah satu buibu menjawab. “Kamu pikir kami menjualnya kepada kepada mereka karena ingin? Tahun baru akan dimulai dua hari lagi. Kami harus bagaimana jika tidak punya cukup uang?”

“Kita punya toko beras di kota ini.” Jawab si tompel yang kemudian dia pun ngacir pergi.

***

Usai si tompel pergi. Dua orang ahjussi berbincang.

“Maksud dia toko beras milik Baek Ga?”

“Dia berencana membelinya dengan harga rendah dan menjualnya lebih mahal saat ekuinoks musim semi nanti. Mereka harus mati.”

Tak lama, Bong Jun yang sudah nampak luka-luka pun dikeluarkan.

Tak terima…. para pengikut Bong Jun berkata. “Apa yang kalian lakukan.”

Dan Baek Yi Yang keluar begitu saja. Sambil membawa kayu. Ia pukulkan ke arah Choi Kyung Sun (diperankan Min Sung Wook). Choi Kyung Sun dipukuli seperti binatang.

Baek Yi Yang berkata pada semua orang yang melihat. “Perhatikan baik-baik. Jika kalian menentang pemerintah. Ini yang akan terjadi. Paham????” galak bett daah!

Baek Yi Hyun pun muncul dengan kudanya. Yi Yang pun menatapnya. Yi Yang nampak berkaca-kaca melihatnya.

****

Malam yang sibuk. Rupanya ada makan-makan. Keluarga Baek sedang makan-makan.

“Lupakan masa-masa belajar di luar negeri dan mulailah fokus pada ujian pegawai negeri.” Ucap Ayah Baek.

“Ya.” Jawab Yi Hyun.

“Kamu akan lulus dengan mudah, jadi, jangan belajar terlalu keras. Ayahmu tetap sibuk dan berkeliling menyuap orang-orang yang tepat.” Ucap Ibu.

Anak perempuan bernama Baek Yi Hwa berkata. “Ayah! Orang bilang menantu juga putra. Kenapa tidak memperhatikan suamiku juga?”

“Sebaiknya kamu makan saja.” Ucap Ayah.

Yi Hyun pun masih membagikan hadiah pada salah satu ahjussi pelayan. Iparnya yang melihat kotak di sebelah Yi Hyun berkata. “Yi Hyun. Itu apa?”

Yi Hyun membukanya dan itu hanya korek api. Ia pun menyalakan api. Orang-orang malah terkejut!!! Wkwkwkw.

“Orang jepang menyebutnya korek api. Ini semacam batu api portabel.” Ucap Yi Hyun.

Ayah pun mengambil koreknya. “Kini orang-orang Jepang tidak seperti dulu.”

“Apa yang kamu lakukan? Jangan!!!” Ibu panik melihat ayah memegang korek. Biasa aja bukkk… megang pelakor baru tahu rasa luh!!!

Ayah pun menyalakan koreak. Yi Yang pun muncul. Ia berkata. “Tuan. Aku melihat lampu rumah Jeon Bung Jun mati.” Lohhhh kupikir bapaknya. Manggilnya Tuan cuy.

“Mungkin dia merencanakan sesuatu lagi. Jadi, awasi dia.”

“Baik Tuan.”

Lanjut ke bagian 2 yaaaa… klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat