Sinopsis The Last Empress Episode 47 Part 3 – Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini.

Tuan Pyo keluar dari kediaman Mak Lampir. Di luar ia berpapasan dengan Ijah. Yu Ra yang melihatnya langsung geram dengan ekspresi sangat membenci. “Aku yakin. Dia orangnya.”

****

Jalang Seo berada di kediamannya dan santai kek dipantai. “Berkat Permaisuri Eun, semuanya akan berjalan dengan baik. Lee Hyuk dan Permaisuri akan hancur karena mereka berjalan masing-masing. aku hanya perlu membawa Ari ke sisiku.”

Seperti orang gila, Jalang Seo mengacak-acak kamarnya. Ia membanting semuanya. Drama kembali dimulai. Seo memangis dan Ari pun datang.

“Apa yang terjadi di kamarmu? Kekacauan apa ini?”

“Yang Mulia, seseorang telah menghancurkan kamarku saat aku baru saja kembali.”

“Siapa yang melakukan ini padamu? Siapa?”

“Siapa lagi yang akan membenciku dan ingin melukaiku di istana ini?”

“Apakah kamu mau mengatakan bahwa Oma mama yang melakukannya?”

“Ini bukan hal baru. aku baik-baik saja. aku minta maaf karena anda harus melihat ini.”

“Ini sering terjadi sebelumnya?”

“Saat anda tidak ada, Permaisuri selalu melecehkanku. Jika kau tidak menjadi wali sah Putri Mahkota, aku akan diusir dari istana segera.”

“Tapi… itu bukan masalah yang bisa aku putuskan.”

“Tetapi kamu punya suara dalam masalah ini. hanya Putri Mahkota yang bisa melindungiku sekarang. dan aku juga satu-satunya yang dapat melindungi anda sampai akhir.”

***

Nona Choi mendatangi Mak Lampir. “Aku telah membawakan pemilik tempat di pulau Chungeum.”

“Benarkah? Biar aku lihat wajah keras kepala itu. bawa dia masuk.”

Pak Pyo membawa Nenek yang ditutupi dengan kain hitam di kepalanya. Nenek itu tidak mau diam, Nona Choi berkata. “Diam. Berani-beraninya kamu melawan? Tunjukkan rasa hormatmu kepada ibu suri sekarang.”

“Apa katamu?” Ucap nenek dengan suara khasnya.

“Kamu berada di istana. Dan di depanmu adalah Mak Lampir.”

Nenek tertawa dan duduk bersila. Mak Lampir ikut tertawa. “Wanita tua ini tidak mengenali langit ketika dia melihatnya. Buka tutup kepalanya.”

Tutup kepala dibuka. Mak Lampir pun kaget.

“LOOOOONGGG TIME NO SEEE…. TEO. EUN RAN.”

“Beraninya kamu menyebut namanya? kamu mau mati?” Ucap Nona Choi.

“Kamu penyihir. Rambutmu bahkan belum memutih. Beraninya kamu berbicara seperti itu. aku akan membuka mulutmu. Sebelum aku merontokkan gigimu dan memakannya, GET OUT!!!!!!!”

Mak Lampir sembunyi di bawah meja seperti tikus. “Suruh orang-orangmu pergi.” Ucap nenek.

“Pergi-pergi.” Mak Lampir masih sembunyi dan memberikan kode dengan tangan.

“Kamu mendekorasi ulang kamarmu sepenuhnya. Yaaa berapa banyak lukisan phoenix itu? itu bagus. Karena kamu, aku tidak bisa menggunakan nama asliku. Aku mengubah namaku, dasar kamu penyihir.”

“Kim Tim Jang. Apa yang membawamu kemari?”

“Mengapa kamu bertanya? Kamu yang memerintahkan orang-orangmu untuk membawaku ke sini.”

“Apa? Lalu kamu adalah pemilik tanah? Kim Tim Jang? Ahhh sialan..”

“Sialan? Kamu belum pernah berubah. Kamu masih memiliki mulut seperti sampah.”

“Apa? Sampah? Beraninya kamu? aku Mak Lampir. Permaisuri kekaisaran korea. kamu dulu melayaniku.”

“Benar. Aku melayanimu dulu. kamu adalah bintang bar.”

***

Kilas balik. Mak Lampir pulang dengan urakan dalam keadaan mabuk berat. Ia mengendap-endap seperti tikus yang mau makan sabun.

“Klub mana yang kamu datangi malam ini? guk guk gukkk…” begitulah Nyonya Kim dulu memarahi Mak Lampir. Ini semacam sensor suara karena ucapannya kasar. Mungkin Mak Lampir dikatain NDASMU AMOHHH.

Nyonya Kim mendekat pada Mak Lampir. “Bangkitlah. Belum lama kamu pergi ajep ajep. Alih-alih menyusui anakmu, bagaimana kamu terus pergi ajep ajep tiap malam? Aku yakin mereka mereka bisa menghirup air susumu.” Wkwkwkwk “Bisa-bisanya kamu bertemu orang di sana? Jika Ibu Suri tahu (nenek maksudnya), permaisuri akan selesai. Ini akan berakhir.”

“Aku tidak minum.”

“Kamu tidak minum? Kamu sudah minum minol yang sangat keras. Aku akan menyalakan ini agar ada api. Aku akan melakukannya. Kamu akan terbakar.” Wkwkwkwk Nenek menyalakan api di dekat Mak Lampir dan seketika api membesar. Mak Lampir pun mematikannya.

“Kenapa kamu mematikannya?”

“Kamu baru saja mengutukku?”

“Kamu pasti salah dengar.”

“Aku permaisuri. Permaisuri.”

“Diammm… diam… harap tenang.” NENEK menepuk mulut Mak Lampir. “Kamu akan membangunkan semua orang dan semuanya akan ke sini. kamu harus menunjukkan martabatmu pada bawahanmu. Baiklah… haruskah aku menggilingmu dan menjadikanmu pangsit?” wwkwkwkkw YOOOHHH SETUUUUUJUHHH…. “Bagaimana kamu bisa begitu vulgar sebagai seorang wanita? Pergi ke kamarmu, cuci muka dan tidur.”

“Ini juga berat untukku.” Mak Lampir mabok dan merengek.

“Berapa banyak yang kamu minum? Kamu bocah sialan!!! Dia pasti sudah meminum seluruh tong.” Nenek pun menyeret Mak Lampir.

Kilas balik berakhir.

***

Kembali ke nenek dan Mak Lampir.

“Kamu takut jika kau memberi tahu orang-orang bahwa kamu bintang bar. Dan menjebakku sebagai pencuri untuk mengusirku dari istana.”

“Aku tidak ingat itu. ceritakan bagaimana Kim Tim Jang berakhir dengan banyak hal di pulau itu. katakan saja padaku.”

“Hari ketika aku dikeluarkan dari istana setelah dijebak, mendiang TETE MAMA diam-diam memberiku akta tanah di pulau Chungeum. Dia tahu bahwa aku dijebak dan diusir secara keliru. Di bilang padaku bahwa akan datang suatu hari aku akan mendapatkan permintaan maaf. Dia mengatakan padaku untuk menjaga hal ini. kemudian, hal itu membawaku ke sini sekarang.”

“Permintaan maaf? Mengapa aku? Ibu suri? Meminta maaf kepadamu? Kamu adalah seorang pencuri karena kamu mencuri. Hentikan omong kosong ini. ambil uangnya dan jualah kepadaku.” Mak Lampir melemparkann uangnya. Uang itu pas kena badan nenek.

“Kamu tidak bermaksud memukulku dengan ini, bukan? Tidak mungkin. Kebiasaanmu sulit hilang!!!” Nenek pun melemparkan uanganya kembali. Mak Lampir melindungi dirinya dengan bantal. “Apa kamu masih berpikir aku bekerja untukmu? Aku lebih tua dari ibu mertuamu. Jaga mulutmu. Itu akan menjadi akhir darimu. Jika kamu terus menggunakan mulutmu seperti itu. aku akan mengiris-irisnya, lalu menggorengnya di kotoran yang mendidih. Setidaknya itu akan dijual seharga 38 dolar di apgujeong. Hati-hati… aku pergi.”

Nenek dengan karismatiknya pergi dan minta pintu dibukakan.

“Sialan. Wanita vulgar katamu?” Ucap Mak Lampir yang marah.

Lanjut ke bagian 4. klik di sini.

Sinopsis The Last Empress Episode 47 Part 3
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat