Sinopsis My Absolute Boyfriend Episode 4 Part 1

Sinopsis My Absolute Boyfriend Episode 4 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini yaaaa, buat yang tanya episode 1 dan 2, akan dibuat setelah episode 4 ini selesai dibuat yaaaaa….

Zero Nine melihat-lihat rumah Da Da. “Rumah seorang lajang. Tidak ada teman sekamar. Terletak di area terpencil.”

Kemudian mulailah Zero Nine melihat ruangan kerja Do Do sebagai make up efek. “lantai pertamanya dipakai sebagai bengekel.”

Zero Nine menyentuh salah satu barang dan melihat debunya. “Tingkat kebersihan. Sangat buruk.”

Kemudian melihat potongan-potongan artikel di dinding. “Tempat ini nampaknya sudah lama.”

Kini ia naik ke lantai 2. Melihat dapur dan membuka penanak nasi yang isinya malah obat. “Penuh dengan benda yang sulit dipercaya. Pacarku diduga mengidap demensia alias pikun.” Wkwkwkkwkwkw anjay…. ni robot kocak juga njir.

Ketika kulkas dibuka… isinya sepatu.

“Tampaknya kemari berbentuk kulkas yang tidak ada di pusat data seperti ini. Pertumbuhan mikroba terjadi.” Hahahhahahha kuman… kumannn!!!

“Perabotan listrik rusak. Mustahil menganggap ini sebagai rumah modern.” Disket pun berserakan di gudang. “Kurasa ini butuh dibersihkan.”

****

Da Da sendiri ada di kamarnya sedang menggambar. Kemudian Da Da melihat koper berisi buku manual Zero Nine. Da Da pun membukanya. Berisi tablet yang bening banget kayak apa. Mungkinkah ini teknologi masa depan?

“Apa ini?” ketika disentuh, tabletnya pun nyala. “Kenapa begitu canggih?”

Terdengar suara. “Manual pengoperasian. Terima kasih atas pembeliannya. Silakan dekati produk dan cium bibirnya. Dia akan menjadi pacar romantismu. Tolong perhatikan, jika dia mencium manusia lain, produk mungkin segera gagal dan mengenalinya sebagai pacar barunya.”

Da Da berkata. “Hah? Mereka pikir ini apa? Semacam putri tidur? Siapa yang terpikirkan hal ini? Mereka harus dipecat!” Tabletnya pun ditaruh kembali. “Aku masih tidak percaya. Itu robot dan bukan manusia asli? Itu robot yang harus dipakai dalam syuting kami? Kenapa sunyi sekali? Firasatku buruk.”

****

Da Da akhirnya keluar kamar. Tak jauh dari kamarnya ada Zero Nine yang sedang mengamati ruangan.

“Permisi.”

“Heii pacar.”

“Pacar apanya?”

“Aku mengumpulkan data.”

“Data?”

“Data pribadimu. Kepribadian, lingkunganmu.” Kemudian Zero Nine mengambil beha yang ada dicucian. “Bahkan seleramu.” Wkwkwkkwkw.

Da Da langsung lari mengambilnya. “Astaga… apa kamu sudah gila? Aku tidak tahu siapa yang kamu panggil dengan pacar. Tapi kamu tidak akan tinggal lama, jadi, bisa hentikan omong kosongmu? Jangan memegang barang milikku.” Da Da menaruhnya kembali ke tempat jemuran.

“Pacar… akan kubantu ya.”

“Ahh lupakan saja. Aku tidak butuh bantuanmu. Serta,  bisakah kamu berhenti memanggilku begitu? Itu agak menghina.”

“Lalu, apa yang kamu inginkan? Jagiyaaa???? Yeobo???? Manisku… ratuku…. atau majikan?” wkwkwkkw. “Aku tidak tahu kamu suka itu.”

“Apa yang kuharapkan? Terserah. Lagi pula, kamu tidak akan lama di sini. Lakukan sesukamu.”

Mereka kini duduk di sofa.

“Pacar, bisa minta bantuan?” Ucap Zero Nine.

“Tidak. Apapun. Tidak bisa.” Zero Nine pun nampak teridam.

“Bantuan apa?”

Zero Nine pun tersenyum. Sumpah nggak kuat lihatnya. “Aku mau punya nama.”

“nama?”

“Ya. Aku belum punya nama. Aku ingin kamu menamaiku.”

“Tapi, kamu hanya akan di sini selama sepekan. Buat apa kamu butuh nama?”

“Tapi aku akan sangat senang jika kamu memanggil namaku.”

“Ahhh kamu sangat menyebalkan. Ketua Tim bilang kamu adalah Zero Nine atau apalah itu.”

“Bukan. Itu hanya nomor seriku.”

“Zerooo…. Nine….Young Gu…. Young Gu? Baiklah, bagaimana jika Young Gu?”

“Young Gu?”

“ya. Young Gu. Sudah senang?”

“Aku suka… aku sangat menyukainya. Kedengarannya sangat cerdas, Young Gu. Terima kasih, pacar.”

“Aku senang kamu menyukainya. Astagaaaa…. bisa jangan melebarkan kakimu begitu?”

Young Gu pun menutup kakinya.

Da Da kaget…. “Tunggu… di mana barang-barangku?  Di mana piring pemutarnya?”

“Aku membuangnya.”

“Apa maksudmu?”

“Itu sudah rusak. Aku membuangnya bersama barang lain dalam gudang. Apa kerjaku bagus?”

****

Da Da lari ke tempat pembuangan sampah.

“Pacar. Apa ada masalah?” Tanya Young Gu.

Da Da mulai berkaca-kaca. “Siapa yang bilang kamu boleh membuang barangku tanpa izin?”

“Maaf. Kupikir tidak masalah. Karena semua itu sudah rusak.”

“Lalu kenapa jika sudah rusak? Apa boleh membuang barang jika rusak? Kamu sungguh berpikir tidak masalah membuang barang seperti ini?”

“Jika sudah tua dan rusak, harus dibuang. Kurasa tidak berguna. Itu perbuatan wajar.”

Da Da mengambil barangnya lagi…. “Yeoja Chinggu….”

“Jangan ikuti aku. Jangan ikuti aku, mengerti? Jika membuang barang itu wajar hanya karena tidak berguna, tetap di sinilah kamu semestinya.”

Da Da membawa barangnya pergi.

*****

Da Da mulai membersihkan barangnya. “Barang yang rusak harus dibuang? Kenapa tidak berguna?? Dia tidak perlu mengatakannya seperti itu.” Da Da menaruh barangnya kembali ke tempat semula. “Apa aku terlalu kasar? Dia bukannya sengaja melakukannya. Sebentar…. jika kebetulan dia hilang, apa aku harus membayar sepuluh juta dolar?”

****

Ada anak bayi yang main dengan ibunya di dekat tempat pembuangan barang. Young Gu masih berdiri di sana. sang ibu membawa anak bayi itu pulang.

Young Gu kemudian melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“Oppa. Aku sudah fustasi selama 10 tahun. Kubilang aku mengencani pria lain dan kamu masih mau mengencaniku? Kamu pria brengesek.”

“Ji Young, kamu tidak pernah seperti ini.”

“Aku selalu seperti ini!!! Bagaimana bisa kamu tetap mau mengencaniku? Jangan halangi aku!!!! Enyah dari hidupku!!!” sang perempuan memukuli lelaki dengan tasnya.

Lanjut ke bagian 2 yaaa… klik di sini.

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat