Sinopsis Hotel del Luna Episode 6 Part 2

Sinopsis Hotel del Luna Episode 6 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini yaa.. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih ya. Sudah mengikuti sinopsis di besoksore.com.

Kemudian mereka jalan. “Kamu yakin tidak ingin melihat Kim Joon Hyun?”

“Kim Joon Hyun? Bagaimana bisa aku melihatnya?”

“Kamu tidak datang ke sini untuk melihatnya? Dia syuting di sana.”

“Sialan kenapa nggak bilang dari tadi!!!” ekekekke. Berantem tiada akhir gitu yak!!!

Man Wol pun lari…

***

Mereka tiba direstoran dan ternyata telat. “Itu seberapa banyak sup pereda mabuk yang dia makan hari ini.” ada tumpukkan mangkok gitu. Nggak… nggak ada mangkok gambarnya ayam jago. “Aku dengar, dia terpilih lagi hari ini di segmen “satu gigitan”. Aku tidak percaya telah melewatkannya.”

“Di situlah dia duduk. Jadi, makan dan puaskan dirimu. Makan selagi hangat.”

“Kalau gitu. Coba makan satu gigitan. Dengan kimci lobak. Makan semuanya.”

“Tolong jangan memaksaku. Aku akan menikmati ini dalam banyak gigitan. Resto ini akan jadi bagus karena Kim pernah makan di sini.”

“Resto ini bakalan baik-baik saja tanpanya. Itu karena dia.”

Ada Ibu yang bekerja sambil menggendong anak.

“Kenapa dengan bayi itu?”

“Dia dilahirkan dengan keberuntungan luar biasa. Karena semua karma baik yang dia lakukan di masa lalu. Setiap keluarha yang melahirkan anak seperti itu akan sukses dalam waktu singkat.”

“Manusia dapat dilahirkan dengan banyak keberuntungan saat melakukan banyak perbuatan baik. Lalu, dalam kasus sebaliknya…”

“Entah kamu terlahir miskin atau sebagai babi atau anjing.”

“Lalu, jika kamu bereinkarnasi…”

“Kamu mikir nanti aku jadi babi atau anjing?”

“Maksudku, aku nnggak yakin. Tapi aku khawatir. Mungkin aja kan?” wkwkwkkw.

“Aku sudah membayar semua dosaku dengan menjalankan hotel selama lebih dari 100 tahun.”

“Tapi kamu tidak memperlakukan pelanggan dengan baik.”

“Bagaimana kuperlakukan mereka dengan baik?”

“Kamu mengabaikan semuanya. Dan kamu mengambi uang dari mereka untuk membeli alkohol. Bahkan mobil untuk dirimu sendiri. Aku mengkhawatirkanmu.”

“Itu bukan urusanmu.”

“Tidak. Aku harus khawatir. Aku tidak mau kamu terlahir sebagai anjing atau babi. Kalau kamu jadi babi, kamu bakal masuk dalam sup. Bersikaplah baik.” Wkwkw.

“Aku nggak mau makan. Aku kehilangan selera makan karenamu.”

“Aku tadi melihat hantu gentayangan di sekitar sini. Aku menyuruhnya pergi ke hotel. Tapi kamu harus membawanya selagi ada di sini. Baik padanya yaaa…”

“Chan Sung. Jangan memulai percakapan dengan hantu yang bahkan nggak kamu kenal. Atau mendekatinya. Nggak boleh. Biar saja. Mereka arwah jahat. Bahaya….!”

“Hantu yang bergentayangan itu arwah jahat?”

“Setiap arwah menjadi jahat setiap kali membayakan manusia. Dan hantu seperti itu bisa melahap semua hantu lain. Apalagi manusia. Jika ditangkap oleh malaikat maut, dia pasti tidak akan bereinkarnasi sebagai anak yang beruntung. Atau bahkan babi.”

***

Malaikat maut, Choi dan Kim berada di kamar no 13. Di depan lemari.

“Kenapa kamu tidak lapor tamu kamar ini meninggalkan hotel?”

“Semua karena kesalahan manager umum kami.” Ucap Kim. “Apa yang bisa kami perbuat. Tamu sudah meninggalkan hotel.”

“Jiwanya dipenuhi kebencian terhadap manusia. Jika menyebabkan masalah di dunia manusia,  aku akan meminta pertanggungjawaban hotel.” Ucap malaikat maut. Ia pun pergi.

***

Choi mengeluh. “Memusingkan.”

“Malaikat maut akan berhasil menangkapnya dan membawanya kembali.”

“Jika dia menyebabkan masalah sebelum tertangkap, berbuat buruk. Dia akan jadi roh jahat. Dia jahat, tapi aku merasa kasihan kepadanya. Aku harap dia bisa kembali dengan selamat.”

****

Pemuda. Nampak bekerja di depan komputer. Ia mengecek email. Ada pesan dan menonton video. Di dalam video ada seorang perempuan dengan baju putih. Jadi, yaaaaa nonton video dewasa gitu.

Perempuan itu berbalik… “Kamu suka? Menyenangkan? Aku se ksi bukan?” eeeehh jd kunti.

Tangannya bisa keluar dari monitor dan melukai pria tadi. Dicolok matanya hingga tidak sadarkan diri. Apa mati? Mbuh sih.

***

Yoona ada di sekolahnya dan kesal karena Ji mengabaikan pesan yang ia kirimkan. Teman-teman Yoona akan mengerjai Yoona dengan melemparkan sampah. Sayangnya, Ji mengerjai mereka dengan suara ponsel yang berbunyi tapi nggak ada orangnya.

Teman-teman Yoona pun kabur ketakutan.

Ji pun membalas pesan Yoona bahwa ia ada di belakangnya. *bakalan ada cerita romance nih. Mereka pun ngobrol di ruangan yang ada pianonya.

“Aku mendapatkan izin kamu bisa datang ke hotel.”

“Baik. Ayo pergi ke sana sekarang.”

“Sekarang? Bagaimana dengan kelasmu?”

“Tidak lihat tadi? Aku tidak bisa menyesuaikan diri. Berhenti sekolah pun tidak masalah.”

“Itu karena teman2mu mengganggumu?”

“Mereka menyebalkan, tapi tidak apa-apa. Kim Yoona yang asli adalah gadis yang jahat. Aku menukmati gadis ini dibenci orang lain. Hanya saja sekolah itu membosankan.”

“Kenapa bosan? Aku senang saat masih sekolah. Aku main, berolahraga. Aku selalu pulang terlambat dari sekolah. Sampai pelayan menjempuku.”

“Kepala pelayan?”

“Ya. Dia tinggal di rumah kami. Dia menjalin hubungan dengan Un, pengasuh adikku. Tapi berantem terus dengan supir, mereka ada dalam cinta segitiga.”

“Kepala pelayan, pengasuh, supir juga. Sepertinya kamu putra bangsawan sebelum meninggal? Kamu dilahirkan dengan sendok emas di mulutmu.”

“Tidak. Sendok perak. Semua sendok di rumahku berwarna perak.”

“Kamu kaya. Pasti kecewa karena hidupmu singkat.”

“Ya. Aku kecewa. Aku bahkan tidak bisa sekolah karena aku mau, jadi bersenang-senanglah di sekolah. Sekolah sekarang bagus, seragammnya bagus, ada piano juga. Piano ini lebih bagus daripada yang dulu di rumahku.”

“Kelihatannya kamu tuan muda yang bisa main piano.” Btw… saya pikir sub indo dari drakor id suka nggak pas. Jadi saya kadang bikin beda sesuai sepemahaman saya ttng bahasa korea ya. “Mainkan. Aku tidak bisa main piano,”

“Aku mungkin sudah lupa.”

“Tuan muda. Mainkan pianonya,”

Kemudian teman-teman Yoona datang. “Kamu bicara dengan siapa?”

“Apa yang kalian bicarakan? Aku sedang main piano.”

“Baik. Mainkan.”

“Benar Kim Yoona. Kamu kan pandai main piano. Mainkan.”

Yoona gugup….. dan Ji memainkan piano dengan memegang jari-jari Yoona. Eeaaakkkk manisnya.

Merasa gagal mempermalukan Yoona. Anak-anak itu pergi.

“Tuan muda cukup andal. Lihat? Kamu tidak lupa.”

“Benar. Sepertinya aku tidak lupa.”

*ingatan melayang jauh pada Ji dan adik kecilnya, ada para pembantunya juga. Nampak bahagiaa…. hingga Ji menitihkan air mata di tangan Yoona.

Lanjut ke bagian 3 klik di sini.

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *