Sinopsis Hotel del Luna Episode 5 Part 5

Sinopsis Hotel del Luna Episode 5 Part 5 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini. Man Wol melihat dengan menggunkan teropongnya, nampak Sancez yang sedang naik sepeda. Normal-normal saja. Sampai Sancez jatuh di rumput.

Dan taraaa…. bungkusan merah sudah diambil.

“Aku menemukannya.” Ucap Man Wol masih menggunakan teropong.

“Chan Sung, apa kamu mau makan di upacara pernikahan temanmu?” Tanya Man Wol.

Chan Sung pun panik. Ikut melihat dengan teropong dan melongo… “sanceseeee…”

****

Hari hujan. Sancez pun pulang. Di rumahnya, ia membuka kantung yang isinya adalah rambut. Tbtb jarinya sudah diikat dengan benang merah. Sancez melihat hantu pengantin wanita dan pingsan.

***

Chan Sung pulang, ia bertemu hantu pengantin di pintu. “Di mana dia?”

Hantu menunjuk tangannya yang sudah diikat benang merah dan ada sancez di pojokkan sedang ketakutan.

“Hyung, kamu baik-baik saja?”

“Aku tidak tahu apa karena hujan, tapi sangat dingin. Dan aku melihat sesuatu yang sangat aneh. Seorang perempuan. Chan Sung, kupikir dia masih di sini. Aku sangat takut. Aku harus bagaimana?”

“Masuk ke dalam dan tidurlah. Aku akan mengurusnya.”

Ponsel Chan Sung berbunyi.

“Kamu Ku Chan Sung manager umum hotel del luna?” suara seorang bapak-bapak.

“Ya benar.”

“Aku mendapat telepon dari hotel, katanya mereka ingin mengadakan pesta pernikahan untuk putri kami.”

****

Chan Sung bertemu Ibu Bapak di depan del luna versi yang dilihat manusia biasa.

“Maksudmu, anda mendapat telepon dari pemilik hotel kami?”

“Ya.”

Chan Sung mengeluarkan kantung merah. “Kalian datang untuk ini?”

***

Bapak dan Ibu ini masuk dibawa ke lobi.

“Aku tidak tahu ada hotel seperti ini di Seoul.”

Man Wol dan Ahjumma pun langsung menyapa.

“Selamat datang. Aku lihat, manager umum hotel kami dengan aman membawamu ke sini. Ayo kita mulai membahas pernikahan putrimu. Lewat sini…”

****

Ahjumma menjelaskan. “Di sinilah pernikahan akan berlangsung. Kami akan menyiapkan jamuan, dan menyediakan suite room untuknya seperti pernikahan normal.”

“maka, putri kami tidak akan berakhir dengan mati kesepian.” Ucap Ibu.

“Mohon berikan yang terbaik.” Ucap Ayah. “Kami akan melakukan yang terbaik. Kamu akan membayar kalian sepantasnya.”

“Siapa mempelai lelakinya?” tanya Ibu

“Kalian memaksanya untuk menikah dengan melawan kemauan putri kalian sendiri.. bukankah kalian merasa tidak nyaman bertemu dengan mempelai pria?” Tanya Man Wol. “Apa kalian akan memberikan selamat padanya?”

“Maka kukira kami tidak seharusnya bertemu dengannya. Kami akan mempercayakan semuanya pada kalian.” Ucap ayah pada Man Wol.

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan pernikahan supaya bisa memuaskan semua orang.”

***

Man Wol bicara dengan Chan Sung di ruangannya. “Sudah kuduga, mereka sangat kaya. Ini adalah kartu hitam yang tidak memiliki batas. Orangtua benar-benar tidak memiliki batas dalam mencintai anak-anak mereka. Aku menyukainya.” Man Wol memandang kartu kredit.

“Apa yang kamu rencanakan?”

“Aku akan menyiapkan pernikahan.”

“Sancez sangat terkejut. Dia langsung semaput.”

“Itu karena hatinya lemah. Itu sebabnya kita harus mengadakan pernikahan dan membuatnya pergi secapat mungkin.”

“Apa sancez sungguh akan baik-baik saja sesudah pernikahan?”

“Ya. Lagipula, ini bukan pernikahan resmi. Anggap saja sebagai mempi buruk singkat. Aaaahhh ada begitu banyak yang harus disiapkan. Kita sibuk. Chan Sung, ayo cepat.”

*****

“Ahhh aku penasaran apa sungguh akan baik-baik saja?” Ucap Chan Sung seorang diri.

*****

Sancez masih di rumahnya. “Aku harus ke kamar mandi. Hampir keluar, tapi aku takut ke kamar mandi. Kenapa Chan Sung tidak pulang? Tidak…. tidak masalah… aku bisaa….”

Chan Sung pun pipis di kendi. Yang ada di sebelahnya. Wkwkkw.

***

Yang senang malah Man Wol yang ada di toko perhiasan.

“Situasinya darurat untuk berbelanja?” Tanya Chan Sung.

“Bagaimanapun, ini adalah pernikahan. Seharusnya terlihat gemerlapan.” Man Wol memberikan kopi yang ia bawa pada Chan Sung dan masuk toko.

***

“Apa kita di sini untuk membeli hadiah pernikahan mereka? Apa perlu hal ini untuk pernikahan?”

Sepuluh cincin ada di jari. “Yang ini bagus juga. Kenapa kita hanya punya 10 jari? aku berharap bisa memakai lebih dari 10.”

“Apa kita di sini untuk membeli cincinmu? Kamu bilang ini darurat yang berkaitan dengan Sancez? Ini bukan waktunya untuk membeli perhiasan.”

“Aku mendapat kartu kredit tanpa batas. Jika kamu mengomel. Kamu tunggu di luar saja. Tunggu sambil makan roti.”

****

Kini nyobain kalung. “Aku hanya punya 1 leher. Jadi hanya bisa memakai satu kalung.”

“Akhir-akhir ini sedang tren memakai kalung lebih dari satu.” Ucap yang jualan.

“Aku suka itu. Bawakan lagi.”

“Orangtuanya tidak memberimu kartu kerdit untuk dibelanjakan dirimu sendiri. Itu untuk digunakan kebutuhan pernikahan.”

“Benar. Aku menggunakan uang mereka untuk menikahkan anak mereka. Semakin banyak uang yang kugunakan, orangtuanya akan lebih lega.”

“Apa kamu mengatur pernikahan hanya untuk melakukan ini bukan? Aku akan mengembalikan kartu kredit dan membakar kantong.”

“Lanjutkan! Jika kamu melakukan itu, temanmu, harus menjalani sisa hidupnya dengan hantu. Kantong merah memuat keinginan yang kuat, keinginan itu mengikat keduanya dengan benang merah. Sehingga mereka dipaksa untuk bersama. Jika kamu membakar kantong merah, mempelai wanita tidak akan pernah bisa ke alam baka.”

“Tidak bisa kamu putuskan ikatannya?”

“aku bukan Dewa, apa kamu tahu betapa sulitnya itu? Kita hanya bisa membiarkan mereka menikah., dan mengirim pengantin perempuan ke alam baka. Itu yang bisa dilakukan di hotel kita.”

Lanjut ke bagian 6 klik di sini.

Advertisements

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!