Sinopsis Hotel del Luna Episode 4 Part 6

Sinopsis Hotel del Luna Episode 4 Part 6 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaa… terima kasih sudah mampir di sini.. heheheh..

“Luangkan waktu di sini dan kembalilah ke hotel.” Ucap Chan Sung pada Mbak Buta.

***

Di luar toko. Man Wol sudah menunggu dengan mobil merahnya. “Kamu merasa senang?”

“Ini sepadan. Apa ini mobil baru?”

“Ya… bukankah maniss… warna coklat norak tidak cocok untuk mobil. Yang cerah lebih bagus.”

“Jadi, kamu membelinya?”

“Kedepannya, aku akan membeli lagi. Ini menyenangkan.” IU menjilat jarinya. Kemudian jarinya ditempel ke mobil.

“Aku akan pergi, kalau kamu mau membeli yang baru. Aku lebih suka tidur aja.”

“Baik. Ayo bobo.”

“Apa?”

“Ayo bobo bareng, aku akan melihat mimpimu saat ini.”

“Mengatakan kamu ingin bobo denganku, adalah sesuatu yang tidak pantas dikatakan oleh atasan. Aku tidak akan membiarkannya.”

“Apa kamu lebih suka makan?”

“Aku tidak pernah bilang aku akan tidur. Aku hanya bilang tidak mau bobo denganmu.”

“Bukan itu yang ingin kukatakan. Aku mengajakmu makan.” Wkwkwkwkkw ribuuuutt terus. “Aku hanya mau makan.”

“Kamu sadar perkataanmu itu konyol bukan?”

“Kamu bilang akan menjagaku. Melihat aku tidur dan makan dengan baik adalah caramu melakukannya. Koo Chan Sung!!! Lihat aku!”

“apa yang ingin kamu makan?”

Dan akhirnya mereka pergi. Chan Sung yang bawa mobil.

***

Tuhhh kan drama ini setengahnya acara kuliner.

“Tempat ini terkenal di SNS, aku ingin mencicipi makanannya.”

“Kamu tahu kan? Kamu tahu tempat ini adalah milik temanku.”

“Apa kamu akan percaya kalau aku bilang tidak? Kenapa tanya? Apakah ini enak?” Man Wol menunjuk pada menu.

“Kenapa bertanya dan tidak memesan saja?”

“Kamu kenal aku dengan baik. Aku mau keduanya…”

Kemudian sancez mendekati mereka berdua.

“Sancez adalah teman serumahku. Dia mudah takut, jadi, jangan menyebut apapun soal hantu.”

“Kamu pasti berbohong besar pada sancez soal bekerja di hotel normal.”

Sancez kini di dekat mereka. “Apa kamu menemukan orang yang kamu cari?”

“Ya. Berkat kamu. Ini rekanku….”

“Ahhh dia juga pasti pengusaha perhotelan. Ahhh senang bertemu denganmu.”

“Kami akan memesan menu no 2 dan 15.” Ucap Chan Sung.

“Baiklah. Bekerja di hotel sulit bukan?” tanya sancez pada Man Wol. “Chan Sung sudah gila semenjak dia bekerja di sana. Bosnya adalah orang gila, bukan? Bosnya itu… siapa namanya….”

“Jang Man Wol.” Ucap Man Wol.

“Ya. Jang Man Wol. Aku mengingat namanya karena namanya jelek. Pokoknya, dari yang kudengar, karywan harus mengutuk bos mereka agar kerjanya nyaman. Aku akan membuat pizza sebagai ganti kepala bosnya. Nikmati makanan sambil merobeknya.” Wkwkwkkwk. “Robek dan gigit… mengerti?” Ucap sancez yang kemudian pergi.

***

“Butuh lebih dari datu pizza untuk melampiaskan amarahmu.” Ucap Man Wol. “Pesan lagi.”

“Aku tidak pernah menyebutmu orang gila. Aku hanya bilang kamu sangat menyulitkan.”

“Apa salahnya dengan itu? Bukankah kadang-kadang kita semua sedikit gila? Aaaahh ini mengingatkanku pada roti yang kamu janjikan. Bagaimana kisah di toko roti?”

“Semuanya berjalan dengan baik. Tangannya membawa dia ke orang yang tepat.”

“Begitukah? Kenangan hantu itu bisa salah. Bergentangan begitu lama membuat mereka lupa yang sebenarnya penting.”

***

Mbak hantu masih melihat pemuda itu.

Tapi yang ada malah suara Man Wol. “Terkadang, mereka hanya ingat apa yang ingin mereka ingat.”

Pemuda tadi selesai bekerja dan naik motor. Saat memakai helm, ngegas-ngegas…… ponselnya berbunyi. Bunyi ini mulai mengubah mimik mbak hantu.

***

“Katamu dia hanya mengingat tangannya. Betapa indahnya sebuah kenangan. Namun, itu tidak ada apa-apanya. Dia hidup dengan usia yang sebentar, jadi, dia hanya ingat sepasang tangan yang membuat potongan roti untuknya.”

“Apa maksudmu?”

“Kenangan penting bagi hantu. Sebagaian besar adalah kenangan saat mereka mati.”

****

Kilas balik.

Sebuah kecelakaan terjadi. Mbak kacamata tergeletak di jalanan saat malam. Pelakunya menabrak dengan membawa sepeda motor. Helmnya sudah dilepas. Pelaku mendekat pada Mbak yang mengulurkan tangan.

“Tolong….” ucap Mbak.

Tapi suara dering ponsel membuat pemuda kabur begitu saja.

****

Kini, Mbak Hantu sudah bonceng. Yang tadinya kayak wajah mbak skincarean. Kini kayak hantu serem. Mbak hantu bonceng masnya.

Karena panik. Chan Sung lari keluar….

Chan Sung mencari keberadaan mereka berdua.

Hingga bertemulah di jalanan.

Chan Sung tbtb merentangkan tangan kayak mau olahraga. Motor kebut….

Mau nabrak….

***

Di dalam resto. Man Wol menggulung-gulung pastanya.

“Koo Chan Sung… datanglah ke hotelku sesudah kamu mati.”

****

Chan Sung menghadang. Harusnya nabrak…. tapi malah belok. Motor tetap jatuh…

Pemuda tadi melepas helmnya dan marah… “Kampret apa masalahmu?”

Eehh Chan Sung malah memukul mas tadi. Di belakang Chan Sung sudah ada mbak hantu dengan wajah seram.

“Jika kamu melakukan ini. kamu akan menjadi abu dan menghilang. Jangan pergi seperti itu. Aku akan memastikan dia dihukum atas apa yang ia perbuat. Aku berjanji.”

Kemudian wajah mbak berubah lagi.

Dan Chan Sung melihat Man Wol sedang ada di tepi jalan kemudian Man Wol ngacir pergi.

Lanjut ke bagian 7 yaa.. klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat