Sinopsis Hotel del Luna Episode 4 Part 3

Sinopsis Hotel del Luna Episode 4 Part 3 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini… terima kasih yaaa sudah mau baca sinopsisnya di marihhh… biar saya cemunguthhh gituhh..

Man Wol memandang pohonnya yang sudah nggak gundul lagi. Man Wol ingat kalimat Chan Sung yang memimpikannya juga Nenek Mago tentang waktu yang akan mengalir sekali lagi.

“Nenek edan itu nipu aku.” Man Wol kok kzl gini yaa…

***

Kembali ke kisah lama dulu… jadi drakor sageuk dulu.

Man Wol ada di dalam gudang.

“Ada satu budak kabur….”

“Apa kamu serius?”

“Temukan dia!” teriak prajurit dari luar.

****

Seseorang nampak mengendap-endap. Man Wol bersiaga dengan pisau di tangannya. Kemudian, saat mendekat. Man Wol menyerang.

Udah kayak film silat di indosiar dengan tendangan-tendangan dan putaran-putaran ajaib.

Setelah bak bik buk belalang kuncup. Ehhh malah pengan tangan. *haihhhh…. ternyata pria itu adalah Ko Choeng Myung *asem namanya susah, kenapa nggak bambang aja.

Suara hening. Dari arah luar, para prajurit hendak masuk ke gudang.

Ko malah keluar duluan. Menenagkan kondisi.

“Dia tidak ada di dalam. Cari di luar.”

****

Ko mengobati Man Wol di gudang. “Aku dengar pasar tempat perdagangan budak di Goguryeo diserang. Sepertinya mungkin kamu dan orang-orangmu, akan datang untuk memastikan. Syukurlah aku gercep bukan? Aku hampir terbunuh oleh belatimu.”

“Tidak… akulah yang menyelamatkanmu karena aku emang gercep.”

“Aku sangat berterima kasih. Tapi mau bagaimana dengan ini.” Ko menunjukkan codet di wajah gantengnya. “Wajahku sangat berharga. Bagaimana kamu akan menebus untuk ini?”

“Tidak boleh begini… putri dari kastil yeongju itu pasti menyukaimu. Dengan apa kamu merayunya kini?”

“Kamu pikir agasshi hanya mengagumi wajahku?”

Kemudian dari arah luar, nampak para prajurit menyeret seseorang.

“Diam!!! Cepat bawa dia ke sini!! Apa yang kamu tunggu.”

“Ahhh berandalan lu kampret…” Ucap Yeon Woo. Sohib dari Man Wol.

Melihat dari lubang gudang. Man Wol melihat semuanya. Ia sempat panik. “Yeon Woo Ya….”

Ko mencegah Man Wol pergi… “Lepaskan… Yeon Woo… Yeon Woo…” kalau rang sini pasti dia yono namanya.

Ko membekap mulut Man Wol. “Jika kamu bersuara. Kamu akan tertangkap. Aku berjanji. Aku pasti akan menyelamatkannya dan membawakannya padamu. Aku janji.”

****

Di sebuah pinggir sungai. Man Wol menunggu. Kemudian Ko nampak mengendarai kuda supaya baik jalannya dan Yeon Woo ia bawa di belakang.

Langsunglah Yeon Woo dipeluk IU.

“Yeon Woo… gwencana???”

“Aku baik-baik aja.”

Ko tersenyum……..

***

Kilas balik berakhir. Balik ke IU yang mandengin pohon…

“Kamu sangat hijau dan mencolok. Tampak menakutkan.”

Ngambeklah IU dan melemparkan gelas. Tapi, sebelum gelas mengenai batang pohon, gelas sudah hancur lebih dahulu menjadi debu.

****

Chan Sung balik ke rumah naik kereta seperti biasa… “Yeon Woo… dia berada di komplotan Jang Man Wol.” *bobo di kereta aja mimpi gitu?

Tbtb muncul nenek mago.

“Anda menjual bunga itu? Berapa harganya? Berikan satu.” Ucap Chan Sung.”

“Tidak.. nggak usah. Aku sudah memberikan milikmu.” *inget nggak waktu Chan Sung tidur di sofa? Bunganya ditaro di dada Chan Sung.

Nenek Mago kini duduk di sebelah Chan Sung. “Ayahmu hampir mati karena mencoba memetik bunga untukmu. Berkat itu, dia tidak pernah mecuri dan menjalani kehidupan dengan rajin.. dan dia juga membesarkan putra hebat seperti dirimu.”

Chan Sung mengingat nenek mago…

“Anda yaangggg….”

“Jadi bagaimana? Bagaimana kerja di hotel?”

“Apa anda yang mengatur hal ini?”

“Yang kulakukan hanya membukakan jalan.”

“Maksudmu, ayahku tidak kebetulan pergi ke hotel?”

“Aku yang menanam pohon. Aigo…. pohon itu sudah menumbuhkan cabang yang runcing dan tidak ramah terhadap orang lain. Aku ingin merawat pohon itu dengan baik. Ohh yaa… jika kamu kesulitan, kamu bisa menghungiku.”

Nenek mago memberikan kartu nama. Kemudian ilang gitu aja.

Bingunglah Chan Sung.

****

Kereta berhenti, Chan Sung mencari nenek mago tapi nggak ketemu. Hingga ia berjalan terus sampai ke taman.

Ehhh ketemu kakek dengan bunga yang sama persis dibawa oleh nenek mago.

Kakek itu masuk ke dalam mobil dan akan segera menuju alam baka.

Anjingnya menggonggong… lari mengejar kakek yang sudah masuk mobil tapi belum berangkat.

“Tunggu…” Chan Sung membuka pintu mobil. “Pak tua…” Chan Sung menunjuk pada ajing sundel.

“Ahh anak nakal, kamu nggak boleh ada di sini. Ini bukan tempat di mana kamu bisa bersama denganku. Mengerti? Tempat tujuanku, bukan tempat yang bisa kamu ikuti.”

***

*udah berkaca-kaca nih akika…

Di dalam kamar kakek. Detektif dan tim forensik datang.

Ada kakek yang jelas udah mati.

Begitu pula…. anjingnya.

“Dia meninggal sendirian, sepertinya sudah beberapa hari.” Ucap Detektif pada ahjumma tetangga.

“Pintunya terbuka. Kenapa anjing itu tidak keluar? Aneh.”

****

“Kamu tidak harus ikut denganku….” Ucap kakek pada sundel. *udah nangis sayaahh… “Aigooo… malangnya kamu… baik. Ayo kita pergi bersama. Kita pergi bersama.”

Kakek masuk mobil. Ia pun pergi dengan damai. Biasa guys, naik mobil dengan plat nomor heaven.

Berlanjut ke bagain 4 yee… klik di sini.

Advertisements

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!