Sinopsis Hotel del Luna Episode 3 Part 6

Sinopsis Hotel del Luna Episode 3 Part 6 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih guysss sudah baca sinopsisnya dimarihh…

Kalung sudah dibakar ayah. “Yang mati biarlah mati. Yoona harus terus memiliki kehidupan yang baik.”

“Ya. Semua ini harusnya tidak terjadi.”

“Tapi apa artinya perkataan terakhir wanita itu?”

***

Ceritanya, Man Wol bilang begini. “ahhh yaa… kamu harus tahu bahwa pilihan yang kamu buat akan membunuh arwah putrimu.”

***

Arwah Yoona teriak… “Tidak… bagaimana ini? ommaa… keluarkan…. ommmaaa kumohon…” sayangnya karena beda tempat. Manusia tidak mendengar.

Arwah Yoona pun hancur.

***

“kamu harus hidup dalam tubuh itu sekarang.” Ucap man wol pada Jung. “Meski kamu parasati dalam tubuh itu. Cobalah yang terbaik untuk hidup lagi.”

***

“Dia sudah menjadi parasit sejati.” Man Wol membuka koper berisi emas batangan. “Tapi, dia menjadikan dirinya orang kaya. Aku yakin mereka akan memanjakannya tanpa mengetahuinya. Putri mereka hanyalah kulitnya.”

“Gadis itu akan kesulitan sambil melihat wajahnya sendiri. Tidak boleh.”

“Dia hanya membayar atas apa yang ia perbuat.”

“Kamu juga membayar atas apa yang kamu perbuat?” tanya Chan Sung yang ingat Man Wol dapat hukuman dari nenek. “Aku dengar kamu dihukum.”

“Benar. Seseorang bilang aku sombong dan bodoh. Meskipun aku tidak setuju dengan itu,”

“OHH…”

“Apa itu? Kamu baru saja bilang oh… apa kamu meremehkanku?”

“Tidak. Terkadang, tidak… sangat jarang…. aku merasa kasihan kepadamu.”

Kemudian Man Wol dapat sms. “Apa? Mobil yang aku pesan dibatalkan? Hhhhaaah situasi macam apa ini?” ngamuk lagi. Wkwkwk. “Bagaimana ini mungkin? Apa mereka meremehkanku?”

Man Wol menelepon. “Kamu anggap aku bego? Lupakan…. aku yang bertanggung jawab. Aku bilang kirimkan!!!”

***

Ji dan Chan Sung ke ruang penyimpanan anggur.

“saat sajang-nim marah, dia banyak meminum champanye. Manager No selalu menyiapkannya.”

“Aku tidak tahu posisiku harus melayani alkohol sajang-nim.”

“Kamu sangat sial. Kamu ada di urutan ke3, tapi akhirnya kamu menjadi manager kami. Kami tidak tahu kamu akan datang.”

“Apa maksud kamu urutan ketiga?”

“Mereka bilang untuk tidak bicarakan mengenai kamu di urutan ke tiga.”

“Maksudmu, aku berada di urutan ke3 untuk pekerjaan? Artinya ada 2 orang di depanku.”

“Kini kamu di sini. Jadi kamu adalah pemenangnya.”

“Ini adalah hal yang tidak kusukai.”

“Ini….” Ji mengambil sebuah kotak dengan simbol.

“Apa ini?”

“Tanda ini menunjukkan milik sajang-nim.”

Eehhh inget kejadian di mimpi…. “Bulan. Ini untuk menunjukkan milikku.” Sebuah tanda ada di kendi.

Chan Sung terdiam.

***

Chan Sung membawa kotak dan menyapa Choi. “Choi Siljang nim… kamu tahu seperti apa sajang-nim saat masih hidup? Apa maksudnya dia diikat untuk sebuah hukuman?”

“Kamu hanya orang yang lewat. Seperti orang yang singgah selama bertahun-tahun. Pertimbanga bahwa kamu hanya berkunjung sebentar… dan akan meninggalkan tempat ini mungkin sesuai dengan keinginan.” Cukup bijak. Bahasa sederhananya. Siape lu?kepo!

****

Chan Sung melihat-lihat foto Man Wol.

“Kenapa kamu habiskan waktu yang lama seperti ini?”

“Apa ini pohon itu?”

****

Chan Sung berjalan di taman. Taman yang sangat besar. Hingga ia menemukan pohon.

“Tidak berdaun.”

Kemudian Man Wol datang.

“Sedang apa di sini?”

“Kamu tidak menunjukkan kebun padaku, jadi kuputuskan untuk mampir melihat-lihat.”

“Para tamu tidak boleh datang ke sini. Kamu tidak perlu lihat ini.”

“Apa ini pohon itu? Pohon yang disentuh ayahku. Alasan kenapa aku ada di sini.”

“Benar. Kamu menerima konsekuensinya juga.”

“Tapi tidak harus aku bukan? Kudengar aku urutan ke 3 dalam daftar. Kenapa harus aku? Kamu bilang kamu menyukaiku, jadi kubuat keputusan besar untuk datang ke sini. Tapi aku ada di urutan ke tiga.”

Lanjut ke bagian terakhir. Bagian ke 7 yaaa… klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat