Sinopsis Hotel del Luna Episode 3 Part 1

Sinopsis Hotel del Luna Episode 3 Part 1 – Haloooooo… sudah minggu lagi ini guysss… saatnya buat sinopsis hotel del luna. Btw, di blog lain sudah buat ini. haruskah saya mundur juga untuk buat sinopsisnya. Hahahahahha??? Gimana? Kamu bisa komen aja di bawah. Saya siap mundur!!! Wkwkwk. Episode kali ini 1 jam 14 menit yak! Oh iya, selamat berhari minggu ya guys. lengkapnya ada di link yang ini.

Begini guys, tempat saya mengunduh drama itu yaakkk ampun. Servernya lama ampun dah, nggak kayak viu. Jadilah saya mengunduh di viu yang masih pakai bahasaa enggreeessssss. Huh. Dan kalian tahu? Udah mau selesai menguduh. Eehh gagal gitu. Malah harus mulai dari awal gitu. Hari ini penuh perjuangan baget.

“Apakah kamu hidup atau mati?” begitulah ucapan Chang Sung yang selalu diingat Man Wol.

“Aku hanya di sini. Aku tidak hidup, juga tidak mati. Aku hanya terjebak. Aku terjebak dalam zona waktu dan tidak bisa kembali.”

***

Kilas balik… nampak para prajurit dengan kuda. Dibawah prajurit yang memantau, ada rombongan dengan tandu.

Saat itu, ada Man Wol yang sedang menaiki kuda.

Di dalam tandu ada dua perempuan. Secara mendadak dan membabi buta. Rombongan bertandu diserang para prajurit berkuda.

Baku hantam terjadi.

Man Wol meniup sesuatu semacam peluit, kemudian, seorang pemuda (Yeon Woo) mengambil buntelan *wkwkw nggak ada istilah lain apa ya? Dari tangan perempuan muda dari dalam tandu.

Layaknya mengambil dot dari mulut bayi, buntelan itu terambil. Eehh belum apa-apa. Pemuda yang mengambil buntelan diserang oleh pemuda lain.

Baku hantam terjadi lagi.

Sementara itu Man Wol melihat dari bukit.

Dua pemuda yang nampak baku hantam adalah Ko Cheong Myung dan Yeon Woo.

Man Wol mulai bertindak. Ia melepaskan busur panahnya mengalahkan Ko Cheong Myung. Namun, Ko berhasil menampik panah yang melesat.

Man Wol meniup lagi. Suaranya seperti siulan panjang ala-ala tukang parkir hajatan. Semua perampok mulai mengambil barang rampokannya dan bersiap untuk kabur.

****

Nggak terima kalah. Ko mengajar Man Wol dengan kudanya. Mereka bedua pun kejar-kejaran hingga keduanya terjatuh dan tinggalkan kuda mereka. Yaaaahhh… kudanya nggak tanggung jawab gitu.

Ko bicara pada Man Wol. “Kamu ketua grup bukan? Kamu pemimpinnya?”

Eehh pas cadar dibuka. Man Wol nampak seperti perempuan yang rajin skincarean. Ko mulai tepanah… *mungkin dalam hatinya bertanya, skincare apa yang dipake.

Dasar cowok yang nggak bisa lihat cewek bening dikit. Melenglah dia. Man Wol yang mencaro batu di sampingnya, langsung memukul Ko dengan batu.

Dua kali pukulan baru. Satu kali tendangan. Ko pun tumbang.

***

Tumbang sih tumbang. Tapi jadi tawanan. Dua-duanya naik kuda.

“Woi…kamu pencuri dari desa Gaori bukan? Itu berarti kamu adalah penduduk pindahan dari Goguryeo. Kamu paham aku bilang apa bukan? Woiiii…. diem-diem baee…”

“Berisik luh.”

“Aku juga dari tempat yang sama. Halooo… saudara. Aahhh aku sebut saudara perempuan UI?”

“ui?”artinya saudara cewek cuy.

“Kenapa kamu nggak membebaskanku?”

Dan ditendang oleh Man Wol. Jatuhlah Ko. IU pun memberikannya minum.

“aku hanya pekerja kelas rendahan yang mengawal majikanku. Kamu tidak akan mendapatkan cukup uang jika menyandraku.”

“Aku nggak tahu bagaimana aku dapat uang.”

“Apa?”

“wanita bangsawan yang tidak peduli kehilangan sutranya, tampaknya dia sangat peduli pada sesuatu yang lain.” Man Wol melihat bahwa agasshi lebih lebih peduli pada keselamatan Ko. “Kelihatannya kamu tidak hanya pengawal perjalanan wanita itu.”

“Aku berbicara dengannya beberapa kali agar dia tidak bosan dalam perjalanan. Tapi karena aku pria tampan,  sepertinya rasa itu datang padahal aku hanya bicara dengannya.”

“Wajahmu pasti menghasilkan banyak uang.”

“Tidak bisakah kamu melepaskan aku saja? Jika tangan dan kakiku bebas. Aku bisa membujuknya dengan baik.”

“Jika kupotong lidahmu karena bicara omong kosong, akankah harga wajahmu itu jatuh?”

“Bisa-bisanya kamu bicara menakutkan?”

Eehhhh kudanya malah lari. Saat kuda lari. Man Wol mengejar kuda ia malah masuk pasir hisap.

Ko datang mendekat. “Tarik aku.” Ucap Man Wol mengulurkan selendang putihnya. “Sedang apa? Kamu tidak mengdengarku?”

“Bagaimana kubantu kamu selagi kamu bicara? Jika tangan dan kakiku tidak diikat, aku bisa membantumu. Lemparkan pedangmu. Jangan bergerak. Jika banyak bergerak. Pasir itu akan menghisapmu lebih cepat. Lemparkan pedangmu.”

Pedang dilempar. Ko pun membebaskan dirinya.

Man Wol yang mengelurkan tangan malah ditinggal. “Mau ke mana kamu? Kembali!!!” teriak Man Wol.

Kemudian, tambang putih diberikan Ko pada Man Wol.

“Tarik. Secapat…”

Man Wol selamat.

Bukan Cuma biskuit aja yang selamat… udahh dehh Min. Nggak lucu! Wkwkw.

****

“Kamu sanderaku sekarang.” Ucap Ko.

“Hargaku jauh lebih tinggi daripada harga wajah prajurit kelas rendah.”

“Sebenarnya, aku bukan prajurit kelas rendah. Wanita yang kukawal adalah putri kastil yeongju. Dan aku adalah kapten prajurit.”

Belum apa-apa. Yeon Woo datang melemparkan sesuatu pada Ko.

Yeon Woo mengingatkan saya pada karakter Bi Dam. Ko tumbang usai dilempar dengan batu.

****

Kembali pada Man Wol yang mendang bulan purnama di hotel del luna. Kemudian Nenek Mago datang.

“Apa kamu lihat bulan yang muncul hari ini? atau bulan yang muncul seribu tahun yang lalu?”

“Mereka adalah satu dan sama.”

“Bunga-bunga di taman berbunga cerah. Kamu pasti merawat tamumu dengan baik di sangraloka del luna.”

“Ahhh aku sudah mengubah nama tempat ini. ini hotel del luna. Berhenti memanggilku pengurus. Aku sajang-nim.”

“Sajang juga sama saja. Rupanya manusia yang melayanimu sudah pergi. Saat dia meninggal, dia akan reinkarnasi kembali.”

“Aku juga mati. Kenapa mereka tidak membawaku?”

“Kamu tidak mati. Aku bilang kamu terikat pada pohon bulan. Dan aliran hidup dan mati sudah berhenti untukmu.”

“Berapa lama kamu membuatku terikat?”

“Kamulah yang tidak mengalah.”

“Aku mati, kering dan layu. Jika kamu potong dan membakar pohon, aku akan mengerti.”

“Daun ranting tumbuh, serta bunga bermekaran dan gugur. Waktu hidup dan mati akan berjalan sekali lagi. Bukankah kamu meninggalkan sesuatu yang secantik ini?”

“Aku tidak punya pernak-pernik yang akan kutinggalkan. Kenapa kamu tidak memilih bunga-bunga cerah dan mengirim semua itu ke arwah-arwah yang malang?” kemudian Man Wol pergi.

Nenek mago bicara sendiri. “Perempuan itu, tidak mengerti. Aku tidak bisa meninggalkan pohon seperti ini selamanya.”

Nenek mago menyentuh ranting. Bunga pun tumbuh.

Lanjut ke bagian 2 guys. klik di sini

Advertisements

2 tanggapan untuk “Sinopsis Hotel del Luna Episode 3 Part 1

  • 21/07/2019 pada 12:44 PM
    Permalink

    Lanjut lanjut lanjut, please

    Balas
  • 21/07/2019 pada 10:17 PM
    Permalink

    Tetap semangat mbak untuk kelanjutan sinopsisnya, saya paling suka membaca sinopsis disini. Pokoknya besoksore.com top abiss…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat