Sinopsis Hotel del Luna Episode 11 Part 2

Sinopsis Hotel del Luna Episode 11 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaa.. terima kasih guysss…

Man Wol sedang sibuk dengan belanjaan barang mewahnya. Kemudian Chan Sung datang. “Kenapa kamu tidak memakainya? Aku sangat menantikan melihatmu mengenakan jas motif harimau.”

“Ini tempat kerja.”

“Jika pemilik bilang tidak masalah. Maka tidak masalah. Lihat, aku membeli ini agar serasi kalau-kalau kamu datang berpakaian seperti harimau.” Man Wol membeli syal motif belang. Wkwkkw.

“Itu motif kuda. Kuda zebra.”

“Bagaimana? Cantik kan?”

“Itu mengganggu.”

“Kamu tidak suka? Kamu sangat pemilih. Baik, jika kau tidak suka motif harimau, atau motif zebra. Ayo pergi, aku akan memberimu sesuatu yang akan kamu sukai.”

“Kita tidak punya banyak waktu. ada banyak permintaan khusus dari para tamu. Kamu harus mengurus ini.”

***

Chan Sung memberikan pesawat telepon.

“Panggilan mimpi hanya ditawarkan kepada mereka yang membayar harga khusus.”

“Kamu sudah dibayar. Kuda, kamu dapat kuda.”

“Ahhh sancez sialan.”

“Aku tidak akan ikut campur dengan uangmu, tapi kamu harus membantu para tamu lainnya.”

“Ku Chan Sung, menurutmu hantu hanya akan mengatakan hal baik saat muncul di alam mimpi? Aku mati gara-gara kamu, matilah bersamaku. Bagaimana jika mereka membenci dan mengumpat manusia?”

“Kebencian dan umpatan.”

“Itu sebabnya aku melihat mereka dan setiap kasus. Serta mengambil harga khusus hanya saat situasinya terlihat benar. Bukan hanya soal uang!”

“Kamu benar. Aku salah paham padamu. Bukan hanya uang, tapi kamu khawatir.”

“Ya… mereka semua tamuku. Kamu anggap aku apa?”

“Dalam hal lain, aku akan membuat aturan untuk mereka yang bisa melakukan layanan panggilan ini.” Chan Sung pun pergi.

Man Wol kesel dan menarik-narik syalnya. “Aku yang dapat kudaa… kenapa dia?”

***

Seorang koki melakukan panggilan. “Aku akan memberitahu rahasia stik mie dingin. Itu karena kamu yang paling rajin diantara stafku. Dengarkan baik-baik.”

“Mie dingin. Aku juga suka mie dingin.” Ucap Man Wol.

Koki pun bisik-bisik.

***

Perempuan melakukan panggilan. “Oppa. Terima kasih banyak atas semuanya. Musik oppa-oppa memberiku semangat untuk napas terakhirku.”

Man Wol nguping. “Oppa-oppa?”

“Pasti oppanya banyak.”

“Aku percaya musik dan tarian kalian akan berakhir menyentuh hati dunia.”

Man Wol marah. “Itu bukan Oppa kandungnya.”

Panggilan diputus Man Wol.

Anjirrrrrr,,,, nelpon idol.

***

Chan Sung tertawa.

“Itu lucu? Sadarlah, sadarlah….”

“Ya.”

Seorang ayah datang dengan anaknya. “Dia meninggal hari ini dan dia ingin bicara dengan istrinya sebelum dia meninggal.” *taeekkk aku lihat orang ini udah lama di del luna. Penulis gimana sih. Apa terjemahannya?

“Bolehkan aku menelepon satu panggilan saja?”

“Ya. Satu panggilan saja.”

“Kalau begitu, aku ingin menelepon orang lain. Aku mengalami kecelakaan mobil dengan putraku. Aku ingin bicara dengan supir truk yang menabrak kami.”

“Kamu tidak dapat membuat panggilan untuk menyalahkan atau mengumpat. Silakan pergi.”

“Bukan untuk menyalahkan atau mengumpatnya. Aku ingin minta maaf.”

***

Ganti tempat…

“Syukurlah kamu hanya mendapatkan masa percobaan.”

“Syukur? Dua orang meninggal karena aku. Aku tidak bisa bekerja lagi.”

“Jika kamu berhenti mengemudi. Bagaimana kamu hidup?”

Supir keluar ruangan. Ia bertemu ayah dan anak yang ia tabrak.

“Kalian adalah orang yang kubunuh. Maafkan aku.” Supir menangis. “Aku tidak bisa dimaafkan atas apa yang sudah kuperbuat.”

“Kami meminta maaf. Salah kami tbtb melompat ke jalan. Itu sebuah kesalahan. Kami memang bernasib buruk, tapi kami memberimu banyak sekali rasa sakit. Maaf. Aku harap hidupmu tidak hancur karena kami.”

“Maaf. Terima kasih.”

Telepon ditutup.

***

“Perasanku lebih baik sekarang.” Ucap ayah. Kemudian mereka berdua pun pergi.

***

“Hari ini kita sudahi sampai di sini.” Ucap Chan Sung.

“Hanya ada sisa beberapa. Ayo kita selesaikan hari ini. suruh mereka masuk.”

***

Trio del luna memandang pohon bulan.

“Bunga-bunga bermekaran penuh.” Ucap Kim.

Ji menggandeng dua seniornya. “Jangan terlalu khawatir. Bunga-bunga itu akhirnya mekar. Akan tetap cantik seperti ini untuk waktu yang lama.”

“Mago berusaha mengambil Sajang-nim. Bunga bermekaran untuk layu.”

“Kita harus pergi sebelum Jang Sajang.” Ucap Kim. “Mari bersiap.”

Lanjut ke bagian 3 klik di sini.

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat