Sinopsis Hotel del Luna Episode 10 Part 1

Sinopsis Hotel del Luna Episode 10 Part 1 – Hai guyssss, selamat hari senin dan selamat bekerja kembali. Dan langsung aja, buat kamu yang ketinggalan atau mau tahu episode sebelumnya ada di tulisan yang ini. kalau mau tahu link lengkapnya yang dari besoksore ada di link yang ini.

Naaahhhh lanjutan nih, kemarin wajah Yeon Woo udah Mago yang fungsinya untuk menghilangkan pegal-pegal, eehh maksudnya menghilangkan penglihatannya terhadap makhluk halus?

Bagaimana setelah kenaksiran dan ketakutan Chan Sung terlihat kemarin… hiyooohhhh mari dilanjut sajaaahhhhh yaaahhh. Episode kali 1 jam 17 menit ya.

Tiba-tiba dewa sumur muncul disela-sela percakapan Chan Sung dan Man Wol. “Apa obat ini milikmu?” Obat ditangan dewa sumur, “Ini obatmu bukan?”

“Bagaimana kamu mengambilnya dan mengembalikannya kepadaku?”

“Aku kira kamu menjatuhkannya, jadi, aku mengembalikannya dan mendapatkan ucapan terima kasih.”

“Terima kasih.” Ucap Man Wol yang mengambil obatnya. “Kamu mengembalikan sesuatu yang sangat berharga. Silakan lanjutakn istrirahatmu.”

“Bukankah obat ini akan membantumu menghilangkan ketakutanmu?” tanya dewa.

“Benar. Benar begitu.”

“Maka aku berharap kamu memakannya dan merasa nyaman.” Dewa menghilang kembali.

***

Obat di tangan Man Wol. “Lihat? Bahkan roh bilang kamu harus minum obat.”

“Dia sangat tidak mengerti.”

“Dia memberimu nasihat sebagai orang yang melarikan diri dan menemukan kedamaian. Makan… kamu pasti sudah lupa, jika kamu diserang oleh arwah pendendam, kamu bahkan bisa mati. Kamu hampir meninggal baru-baru ini gara-gara aku. Jangan repot-repot membuat dirimu dalam masalah dan hiduplah dengan damai. Makan…” Man Wol memberikan kembali.

“Jika aku memakannya, aku tidak akan bisa melihatmu lagi. Kamu juga pasti lupa sesuatu. Aku bisa melihat masa lalumu,”

*saat Man Wol melihat Yeon Woo meninggal digantung.

“Jika aku tidak menjagamu, kamu hanya akan lebih mendendam. Aku lebih suka dalam masalah, dan menghentikanmu berakhir begitu saja. Kamu… aku tidak boleh membiarkan itu…terjadi padamu.

*maksudnya, Man Wol yang ilang jadi serbuk nutrisari.

“Jadi, aku akan tinggal di sampingmu dan mengawasimu.”

Ada suara mantan pengelola hotel Chan Sung. “Ku Chan Sung Sshi….”

“Apa lagi ini?” Chan Sung tbtb nengok dalam keadaan marah.

“Apa yang membawamu ke villa ayahku?”

***

Akhirnya, anak Pimpinan dan satu lagi karakter baru bicara dengan Chan Sung.

“Kamu meminta bantuan ayahku saat dia masih hidup?”

“Ya, dia membiarkanku meminjam kolam di rumah kaca.”

“Apa kamu membebaskan ikan perliharaan atau semacamnya?” wkwkwkw. Gara-gara harimau nih keknya.

“Itu sesuatu yang sangat istimewa. Seseuatu yang bisa memberikan energi baik.”

“Sebelum ayahku meninggal, dia banyak bercerita tentangmu. Kata dia, kamu banyak membantunya. Kami di sini untuk mengurus barang-barangnya.”

“Begitu rupanya.” Chan Sung pun melihat buku yang dibawa oleh anak gadis di samping Ahjumma mantan bos Chan Sung.

“Ahhh ini milikku. Aku menghabiskan banyak waktu bersama kakek di sini, saat masih kecil. Omma… lihatlah buku yang aku temukan ini.” ada foto di dalamnya.

“kapan ini? ayah terlihat muda di dalam foto ini. aku sangat merindukannya.” Ucap ahjumma.

“Kamu bisa menulis surat padanya. Jika kamu menginginkan bicara sesuatu. Hotel tempat kerjaku, ada layanan istimewa di mana kamu bisa mengirimkan surat pada orang yang sudah meninggal.”

Ibu dan anak ini pun tersenyum.

***

Chan Sung keluar sambil membawa sepucuk surat. Di luar, sudah ada Man Wol yang menunggu. “Aku pikir kamu sudah pergi, tapi sepertinya kamu menungguku.”

“Aku tidak suka mengemudi.” Man Wol pun melemparkan kunci.

“Jika tidak suka mengemudi, kenapa kamu membeli begitu banyak mobil?”

“Karena mereka cantik. Aku akan membeli kembali setiap mobil yang kamu jual.”

“Uang dari mana?”

“Katamu, kamu bersedia untuk melalui masalah. Jadi, aku sedang bermurah hari. Berikan aku lukisan gunung baekdu.”

“Pikirmu aku akan memberikannya? Itu adalah uang pesangonku.”

“aku hanya menjatuhkannya di tempatmu. Itu punyaku, kembalikan.”

“Ada restoran terkenal di sekitar yang pernah tayang di TV. Ayo pergi ke sana.”

“Restoran terkenal?”

Chan Sung tersenyum. “Pasti membingungkan mendengarku berbicara soal makanan dalam situasi seperti ini. kamu pasti sangat kesal. Persis seperti yang aku rasakan. Ayo pergi…” Chan Sung baru melangkah 2 langkah. “Jika kita tidak sampai ke restoran sebelum tutup gara-gara kamu…lukisan gunung bakdu itu tidaaakk akan pernah menjadi milikmu.” Chan Sung mengikuti cara bicara Man Wol. Wkwkwkwk.

Lanjut ke bagian 2. Ke acara kulineran. Klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *