Sinopsis Drama Korea Parfume Episode 7 Part 2

Sinopsis Drama Korea Parfume Episode 7 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini yaaa… terima kasih sudah membaca dan menunggu updatenannya.

“Tolong selamatkan aku.” Ucap Suneo. “Aku demam. Seluruh tubuhku terasa seperti meleleh.”

****

“Keluarkan ingusmu. Keluarkan.” Ucap Ye Rin pada suneo.

“Menjijikan. Ingusmu sangat kental.” Njirrrr kayak bocahh yang idungnya dipegangain.

“Diam. Aku tidak pernah ingusan.”

“Ahhh yeee… kurasa demammu sudah turun.”

“Semua ini salahmu. Salahmulah pria dewasa sepertiku tidak bisa menjaga kesehatanku sebelum acara besar. Salahmu jugalah bahwa seseorang secermat aku minum alkohol secara berlebihan di balkon yang dingin. Semua ini karena aku membawa kotak pandora yang terkunci itu. Kamu tahu itu? Kamu roh jahat yang penuh dengan dosa.”

“Pandora atau bukan. Bangunlah sebelum aku menjerumuskanmu ke akhirat.”

***

Ye Rin masuk kamarnya dengan lemas. Ehhh alarm itu berbunyi kembali.

“Aku tidak bisa tidur tapi mataku sakit. Bacalah sesuatu untukku.” Ucap Suneo. “Bacalah jilid 2 halaman satu.”

“Biayanya 50 dolar per jam. Tidak ada diskon. Bayar secara tunai.”

“Baik. Bacalah. Baca dengan jelas.”

“Hari ketika florentine ariza melihat fermina daza di dalam atrium katedral. Pada kehamilannya yang berusia enam bulan, dan sepenuhnya mampu menghadapi kondisi barunya sebagai wanita di dunia ini, dia membuat keputusan tegas untuk meraih popularitas dan kekayaan agar layak mendapatkannya.”……. “Kurasa Fermina adalah mantan kekasih Florentine? Kurasa mantan pacarnya menikahi pria kaya.”

“Dia bukan mantan pacarnya. Tapi cinta pertamanya.”

***

*Visualnya malah Suneo yang menaruh sketsa di kursi.

Tapi suara Ye Rin masih membacakan cerita. “Dia bahkan tidak berhenti memikirkan tentang halangan status pernikahannya. Karena di saat bersamaan dia memutuskan seakan-akan itu bergantung pada dirinya saja. Bahwa dokter juvenal Urbino harus mati.”

Eehh Ye Rin nanya lagi. “Jadi, apakah pria ini mencoba membunuh suami mantan pacarnya? Aneh sekali.”

“Bukan mantan pacar. Cinta pertama!!! Dan dia tidak berniat melakukannya.”

“Itu yang dikatakan di sini. Bahwa dokter juvenal urbino harus mati.”

“Artinya dia akan menunggu sampai suami cinta pertamanya mati.”

“Tapi kapan itu akan terjadi? Berapa lama dia harus menunggu?”

“53 tahun tujuh bulan 11 hari.”

“aku pikir penulis ini memenangkan penghargaan nobel perdamaian. Aku tahu ini fiksi, tapi agak berlebihan. Ini sangat tidak realistis.”

“Masalahnya bukan menunggu. Sang protagonis mampu menunggu karena orang satunya mampu mempertahankan harga dirinya dan keelegannya sambil terus hidup. Sebagaimana dia hidup ketika sang pria jatuh cinta kepadanya. Pada kenyataannya, orang-orang tidak seperti itu. Kamu hanya menjadi lemah, tunduk dan bodoh saat menjadi tua.”

“Kamu tidak bisa melindungi harga diri dan keelegananmu hanya karena berusaha. Kita, manusia, terluka dan hancur seiring waktu. Bagaimana denganmu? Apa kamu melindungi harga diri dan keelegananmu selagi terus hidup dengan kuat?”

“Seperti yang kamu lihat. Aku juga sudah benar-benar hancur.”

****

Pemilik agensi sedang bertama Yoon  Min Seok.

“Rapat dengan Seo Yi Do ditunda. Dirut Seo sakit.”

“Apa? Dia sakit? Bagaimana?”

“Entahlah. Mereka pikir dia sakit flu.”

“Kudengar Seo Yi Do brbr ini pindah dari hotel dan kembali ke rumahnya. Hyung, ayo ke rumah Seo Yi Do.”

“Yak.. apa yang kamu rencankan?”

“mengganggu Seo Yi Do saat dia sakit adalah hal yang paling menyenangkan.”

****

Ye Rin sedang bersih-bersih. Ia kaget melihat dari monitor bahwa Min Seok datang. “Kenapa Min Seok ada di sini? Apa yang harus aku lakukan? Astagaa…”

****

Ye Rin membukakan pintu. “Min Ye Rin. Kenapa kamu ada di rumah Seo Yi Do?”

“Sebenarnya, aku bekerja di sini.”

“Kamu benar-benar gadis makanan? Maksudku, kamu benar-benar pelayannya?”

***

“Bagaimana dengan Seo Yi Do?” Tanya Min Seok yang duduk di ruang tamu.

“Dia baru saja tertidur setelah meminum obatnya.”

“Oomong-omong kenapa kamu melakukan pekerjaan ini?”

“Begini…ekonomi tengah mengalami resesi berkepanjangan. Untuk menyeimbangkan pengeluaranku dalm masa pertumbuhan negatif ini. Aku harus melakukan dua pekerjaan.”

“Tapi tetap saja. Kenapa kamu sendirian dengan seorang pria?”

“Kamu tahu seperti apa Seo Yi Do. Akulah masalahnya.”

“Kenapa?”

“Begini, aku memberikan banyak panas tubuh. Aku juga romantis. Aku tidak tahu kapan harus berhenti.”

Min Seok tertawa. “Kamu benar-benar lucu. Semua yang kamu katakan benar-benar tepat. Kurasa kita memiliki selera humor yang sama. Apa kamu mau berteman?”

“Berteman? Tentu saja. Sudah lama aku tidak mendengar sesuatu sehangat itu. Aku benar-benar tidak punya teman.”

“Mulai sekarang. Aku akan menjadi teman. Kawan.”

“Senang bertemu denganmu, teman…” mereka pun salaman. “Tapi apa hubungan antara dirimu dengan Dirut Seo? Aku tahu dia membenci semua makhluk hidup lain selain dirinya. Tapi dia sangat kesal kepadamu.”

Suneo muncul, “Kami musuh bebututan yang tidak bisa hidup di bawah langit yang sama.” Kemudian Min Seok ditendang sampai jatuh. “Minggir. Ini kursiku.”

“Apa kamu serius? Kenapa kamu sangat kasar padalah aku menjengukmu?”

“Apa? Kasar? Beraninya kamu melawan seseorang yang lebih tua darimu!!! Jangan lancan dan pergi dari sini. Keluar dari rumahku.”

“Tidak. Mau apa kamu?” dan Min Seok disemprot matanya. Wkwkkw.

***

“Minggir. Aku akan bekerja di sini.” Ucap Suneo pada Ye Rin yang sedang menjahit.

“Bukankah kamu sedang membuat sketsa? Kenapa harus melakukannya di sini? Kamu punya tempat di sana.”

“Ini rumahku, aku bisa melakukan apa pun sesukaku.”

“aku harus menyelesaikan ini dalam dua hari ke depan.”

“Apa itu? Dari mana kamu mendapatkan lap menjijikan itu?”

“Aku menemukannya di toko pakaian bekas. Apa desainnya benar-benar buruk?”

“Itu sangat buruk sampai membuatku hampir muntah.”

“Tugas kitalah untuk menginterpretasikan ulang dongeng dan untuk mengolah dan memotret sesuai tema. Seperti yang kamu tahu, aku tidak punya pakaian. Aku pikir aku bisa membuat Putri Salju dari ini.”

“Apakah ayah putri salji membuat negerinya bangkrut???” geeeelaaa sadis sindirannya. “Walaupun sebuah negeri bangkrut, seorang yang waras tidak akan pernah memakai sesuatu seburuk itu.”

“Aku tidak punya uang maupun pakaian. Berhentilah mengejekku.”

“Tarik tirai itu.”

Tirai pun ditarik Ye Rin. “Maukah kamu meminjamkan ini untukku?”

“Kamu mau membayarnya jika aku meminjamkannya? Tahukah kamu berapa harganya itu? Serta, apakah kamu tahu caranya menggunakan mesin jahit?”

“Tentu saja aku tahu, aku memakai beberapa mesin jahit di pusat budaya sebelumnya.”

Lanjut ke bagian 3 yaaa… klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat