Sinopsis Drama Korea Encounter Episode 1 Part 3

Sinopsis Drama Korea Encounter Episode 1 Part 3 – Episode sebelumnya bisa kamu baca di sini yaaa…

“Manis? Kedengarannya bagus, tapi…” Soo Hyun pun senyum-senyum sendiri.

Jin Hyuk melihat isi dompetnya. “Syukurlah aku tidak menghabiskan semuanya.”

Dan dari atas sudah mulai pandang-pandangan tuh… Soo Hyun bertanya-tanya. “Kira-kira berapa usianya? Dia seperti anggur hijau.”

***

Minum-minum pun dimulai.

“Kamu akan mabuk jika terus begitu.” Jin Hyuk melihat Soo Hyun yang menenggak birnya.

“Aku pasti lebih kuat minum alkohol daripada kamu.”

“Bagaimana kamu bisa tertidur tanpa uang? itu bisa jadi bencana.”

“Aku datang untuk urusan bisnis. Aku minum pil tidur untuk tidur awal, tapi aku melihat foto tempat ini. hari ini pasti hari yang aneh. Seorang pencopet mencuri semua uangku.”

“Ahh berarti ini hari yang berat. Apa kamu ingat di mana kamu menginap? Kamu bisa naik taxi di pintu Morro Cabana. Aku akan mengantarkanmu ke sana. Kamu mungkin tidak tahu ke mana harus pergi. Maukah kita turun dahulu?”

“Tentu.” Dan Jin Hyuk membantu Soo Hyun turun dengan manis. Melihat Soo Hyun yang kesakitan. Jin Hyuk berkata.

“Kenapa tidak berjalan kaki tanpa alas kaki?”

“Di sini?”

“Ini terlalu jauh bagiku untuk menggendongmu.”

“Aku tidak pernah meminta itu.”

“Kondisi kakimu amat buruk. Ada banyak turis yang berjalan telanjang kaki.”

“Aku belum pernah melihat seorang pun.”

“Pria dan wanita tua di lingkungan rumahku mendaki dengan telanjang kaki.”

“Aku tidak bisa melakukannya.”

Jin Hyuk kemudian melepas sepatunya. “Melakukannya sebagai tim memberikanku keberanian. Selain itu, rasanya tidak begitu sepi.”

“Benarkah itu?”

“Tentang apa?”

“Orang-orang di lingkungan rumahmu mendaki gunung dengan telanjang kaki.”

“100 persen benar.”

“Angaplaha aku di bawah pengaruh mantra. Disihir.”

Mereka kemudian berjalan dengan telanjang kaki.

“Apa kamu pelajar? Atau apa kamu memiliki pekerjaan?”

“Aku menjual buah.”

“Ahhh jadi kamu penjual buah.kameramu terlihat kuno.”

“Usianya 28 tahun sekarang.”

“Apa masih berfungsi?”

“Tentu saja. meskipun aku sudah memperbaikinya beberapa kali. ini masih menghasilkan foto yang luar biasa, tapi hari ini dia terluka.”

“Kamu pasti menyukai model kamera itu. apa mereka tidak membuatnya lagi?”

“Mereka membuatnya. Bukannya aku menyukai model kameranya. Teman ayahku mengelola studio fotografi dan dia memberikan ini kepada ayahku ketika dia menutup tokonya. Waktunya sekitar saat aku lahir. Dia ingin ayahku mengambil banyak fotoku. Kamera ini sebenarnya yang paling disayangi oleh ayahku. Meskipun, dia tidak mengambil banyak fotoku. Katanya dia terlalu sibuk mencari nafkah untuk kami. Begitu aku mulai kuliah, aku memoteret orangtuaku.”

Ketika sampai di lorong yang penuh dengan pedagang. Jin Hyuk membelikan Soo Hyun alas kaki. Ia bahkan memegang tangan Soo Hyun yang langsung ditangkis dingin oleh Soo Hyun.

“Maafkan aku. Aku sungguh tidak sopan. Kakimu sepertinya juga…”

“Tidak. Bukan begitu.”

“Berapa ukuran sepatumu? Apa sekitar 230 mm? Pilih sepasang. Aku yang bayar. Mana yang paling kamu suka.”

“Tidak perlu. Aku akan membayarmu untuk semuanya, termasuk bir dan sepatu.”

“Berarti aku akan mencatat semuanya agar kamu dapat mengembalikan uangku. Mana yang paling kamu suka?”

“Aku hanya perlu berjalan kaki sampai tiba di hotel, jadi mari beli apa saja.”

“Apa saja??? harus memilih dari apa saja adalah hal tersulit untuk dilakukan.” Jin Hyuk memilih satu buah sandal. “Apa yang ini terlihat lucu?”

“Aku meminta apa saja, jadi tidak masalah.”

Sandal akhirnya dipakai. “Kurasa ini terlihat cukup bagus.” Yaaakkk ampun Bo Gum banyak senyum banget sih.

***

Sekertaris Jang sudah panik. “Ke mana perginya.” Padahal Soo Hyun tidak jauh dari keberadaannya.

***

“Apa kamu punya uang lagi?” Tanya Soo Hyun.

“Ya. uangku cukup.”

“Cukup untuk apa?”

“Cukup untuk mengisi perut yang kosong dengan makanan ringan.”

Mereka akhirnya makan malam bersama.

“Makanan di sini lebih enak daripada di hotel.” Ucap Soo Hyun.

“Aku pikir kamu merasa seperti itu karena masih lapar.”

“Cita rasaku tidak sesederhana itu.”

Soo Hyun melihat poster pertunjukkan di dinding. “Kamu punya uang lagi? Cukup untuk membeli dua tiket ke pertunjukkan salsa?”

Jin Hyuk bengong. Ia kemudian melihat uang di dalam tasnya. Soo Hyun kemudian tertawa.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memasukkannya kembali?”

“Kamu tertawa saat aku kurang lucu, dan itu membuatku jengkel.”

“Kamu juga tertawa tadi. Kamu terawa karena berkata aku manis. Aku pun sama. apa itu yang disebut uang saku?”

“Itu uang saku anak muda.”

“Berarti aku ini apa?” wkwkwkw… jangan coba-coba bilang kayak gini ke cewek ya.

“Yang kukatakan lebih lucu daripada ucapanmu. Kamu tidak perlu berwajah serius.”

“Aku pikir itu tidak lucu.”

“Apa kamu tidak ingin menonton pertunjukkan salsa?”

“Jangan lupa untuk menerima tanda terima kasih untuk semuanya.”

“Tentu saja. kamu harus mengembalikan uangku.”

“Bagimana kalau kita minum secangkir kopi lagi?”

“Tentu.”

***

“Kamu tidak salah tempat? Apa tempat ini di adakan pertunjukkan salsa?” Ucap Soo Hyun saat ia masuk ke gedung yang nampak sepi.

Setelah masuk. Ia baru percaya.mereka pun menikmati pertunjukkan salsa.

“Sangat bagus bukan?”

“Ya.”

Para tamu kemudian menari. Jin Hyuk meminta Soo Hyun untuk bergabung.

Bo Gum goyang cuy….

Mereka pun akhirnya menari.

***

Jin Hyuk membawa sepatu Soo Hyun di tasnya.

“Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Soo Hyun.

“Aku juga bersenang-senang berkat kamu.”

“Berikan nomor ponselmu. Begitu kembali ke Korea, akan kubalas kebaikanmu.”

“Tidak perlu. Anggap saja sebagai kebaikan dari sesama orang korea di negeri asing.”

“Kamu seperti orang tua. Istilah seperti itu dipakai oleh ayahku.”

“Benarkah? Orang bilang aku bersikap seperti orang tua.”

“Jangan membuatku memohon, berikan saja nomormu.”

“Sungguh tidak perlu. Aku hanya berbaik hati. Jadi kuberikan nomorku, aku akan terkesan punya motif tersembunyi.”

“Motif tersembunyi?”

“Kamu mengira itu cara mendapatkan nomor wanita cantik.” Ucap Jin Hyuk sambil tertawa.

***

“Hei. Sampai kapan kamu tinggal di sini?”Ucap Jin Hyuk. “Jika kamu senggang besok pagi, traktirlah aku di kafe itu. kurasa traktiran sarapanmu akan menebus semuanya. Aku juga ingin bertanya.”

“Kenapa tidak bertanya sekarang?”

“Aku akan bertanya besok. Aku ingin memperbaiki pertanyaanku lebih dahulu. Kamu bisa pukul 9 pagi?”

“Mungkin aku tidak bisa. Aku belum tahu jadwalku untuk besok.”

“Aku akan menunggumu selama 30 menit. jika tidak datang, berarti memang tidak bisa. Jangan merasa mendesak.”

“Baiklah.” Soo Hyun pun pergi naik taxi. Meninggalkan Ji Hyun. *tanpa tahu nama. Dan sepatu milik Soo Hyun masih tergantung di tas Jin Hyuk.

***

Soo Hyun kembali ke hotel. Sekertaris Jang memarahinya.

“Yakkk… kenapa kamu melakukan ini? kamu ingin melihatku mati karena cemas ya?”

“Kamu mencariku?”

“Kenapa tidak mengangkat telpon?”

“Ponselku hilang.”

“Aku merasa bersalah dan kembali untuk menemanimu, tapi menemukan wadah pil tidur yang terbuka dan kamu tidak ada.”

“Aku juga bersenang-senang sendiri. sekertaris Jang.”

“Aku tidak pernah membayangkan mencari setiap sudut Havana. Apa apa dengan sepatumu?”

“Ahh sepatuku.” Soo Hyun malah tersenyum.

“Bagaimana kamu bisa tersenyum?”

“Mi Jin, sepertinya aku menjadi Cinderellla.”

“Sadarlah bodoh.” Wkwkwkw.

Berlanjut ke bagian 4. klik di sini yaaaa

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat