Advertisements

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 9 Part 2

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 9 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Ahjussi sangat marah dan membuang kaleng bir. Ia pun pergi ke luar. Saat inilah Ji Hun mengambil kaleng bekasnya. Untuk tes DNA.

Tak lama, ahjussi keluar dengan membawa buku.

“Lihatlah. Entahlah kamu menganggapku apa. Tapi aku mempelajari tekhnik selama empat tahun. lihat. Aku sangat mendekatil. Aku sangat teliti.”

Ji Hun pun membaca bukunya. “Kamu hobi memancing? Selama 3 hari berturut-turut? Bukankah itu membosankan?”

Ahjussi bertepuk tangan. “Salut. Aku menghormatimu. Kamu sangat berbakat menyia-nyiakan waktumu.”

“Tidak apa-apa. Terkadang aku menangkap ikan besar.”

***

“Dia pria keji. Bahkan tidak berkedip saat melihat video itu.”

“Bagaimana jika dia benar ayahnya?”

“Kita bisa memenjarakannya atas pengabaian dan kekerasan anak. Serta penghambatan penyidikan. Akan kutuntut atas semua hal yang terpikirkan olehku.” Ucap Ji Hun pada Soo Yong. “Apa?”

“Hanya karena meniadakan anaknya dan tidak mendaftarkan kelahirannya, dia tidak akan dihukum seberat itu.”

“Kamu menceramahiku?” Lift terbuka. Mereka lanjut ngobrol di dalam lift. “Bagaimana dengan panti asuhan?”

“Kami sedang menanyai dua pegawai dan tiga orang pekerja sukarela. Belum ada hal penting dari pertanyaan mereka.”

***

Ji Hun dan Soo Young pun datang ke detektif lainnya.

“Anak itu ditemukan di panti asuhan berjarak 68 km dari pusat hanul. Ada tiga gerbang tol dan ratusan CCTV di sepanjang jarak itu. kami sedang mencari kendaraan yang ditemukan di kedua lokasi antara pukul 4.00 sampai 7.00 pada tanggal 5 oktober. Entah ada berapa banyak, tapi jika terus menguranginya, pasti akan tersisa satu. Kendaraan yang dipakai untuk memindahkan si anak. Itu intinya.”

“Terdengar mudah.”

“Ya. tapi entah ada berapa CCTV yang masih menyimpan rekaman terkait.”

“Setidaknya ada beberapa.”

“CCTV di dekat Hanul atau panti asuhan tidak akan ada banyak. Jalan dan gangnya sempit. Jangan terlalu berharap. Keakuratannya tidak bisa kujamin.”

“Kamu boleh memborgol pelaku jika kita menemukannya.” Ucap Ji Hun pada hobaenya.

“Sungguh?”

“Jamin saja keakuratannya.”

***

Woo Kyung mengantar Eun Seo ke sekolah. Hana ada di dalam mobil dan hanya memperhatikan. Saat Woo Kyung masuk kembali ke dalam mobil. Hana tiba-tiba saja keluar. Hana langsung berlari ke tempat sampah. Hana mengambil kertas dan krayon dalam tong sampah.

“Hana kamu sudah pernah kemari ya?”

“Ya.”

“Ibumu bilang kepadamu jika mencari di sini, kamu akan menemukan sesuatu?”

Melihat hana yang suka menggambar. Akhirnya Woo Kyung pergi ke Toko ATK.

***

“Dia sangat aktif dan rasa ingin tahunya tinggi.” Ucap Woo Kyung pada Ji Hun.

“Selain hambatan kemampuan verbal. Dia tidak jauh berbeda dengan anak lainnya.”

“Aku mengerti keadaannya. Sudah bisa membuatnya bicara soal hari itu?”

“Tiap kali kusinggung ibunya, dia langsung diam dan berpura-pura tidak mendengarkanku.”

“Artinya, banyak yang bisa dia katakan soal ibunya. Kita perlu peryataan soal kejadian itu.”

“Anak kecil tidak bisa diinterogasi.”

“Maksudnya bukan interogasi, kita akan membujuknya. Meski dia masih kecil, dia pasti mau tahu siapa pembunuh ibunya. Maaaf. Aku terbawa suasana. Aku tidak memaksa…”

“Saat pertama kali melihat jasad di ruangan itu. bagaimana perasaanmu?” Tanya Woo Kyung.

“Tampaknya semua itu sudah diatur.”

“Untuk menghakimi seseorang. Perkembangan vebalnya lambat karena ibunya tidak mengajak dia bicara. Wanita itu, tidak mengurus anaknya sama sekali. Dia malah membawa anak itu berkeluyuran ke sana kemari dan membuatnya merogoh tong sampah.”

“Maksudmu,karena dia tidak memedulikan anak itu, maka dia membunuh sebagai hukuman?”

“Tindakan amoral dengan tujuan mulia. Setelah Ibunya tewas,lingkungannya menjadi lebih baik. Jika itu tujuan pelaku, maka itu kebaikan. Pembunuhan adalah tindakan amoral.”

Woo Kyung mendekati Hana, ia membersihkan tangan hana yang kotor. Kemudian ada Eun Ho (ahjussi supir truk) yang lewat. Hana melihatnya tanpa berkedip. Ji Hun pun sedikit menyadari ini.

***

Ji Hun memikirkan tentang apa yang dikatakan Woo Kyung. Kemudian Soo Young datang untuk melapor.

“Aku sudah memeriksa alibi Pak Go di area memancing. Tapi rekaman CCTVnya sudah dihapus. Mustahil mengetahui apa dia sungguh menginap dua malam di sana. Kami akan melacak lokasi telponnya selama periode itu…”

“Hentikan, sudah cukup. Bukan dia. kaleng birnya bagaimana?”

“Aku mengurus kasus lain juga. Jadi akan butuh waktu.”

“Berdasarkan pola itu, di lebih mungkin dibunuh daripada membunuh.” *maksudnya Pak Go.

“Menurutmu semua kasus ini berkaitan?” Tanya Soo Young.

“Cha Woo Kyung bilang, jasadnya dipertunjukkan seakan-akan dia menghakimi. Jika melihat semua kasus ini dari sudut pandang itu…”

“Tidak. Tersangka kasus pembunuhan Park Ji Hye sudah ditangkap. Kasusnya sudah ditutup.”

“Bagaimana jika dia punya komplotan? Kenapa Park Ji Hye bisa terbujuk padahal dia sangat tertutup? Itu pertanyaanmu. Kita belum menemukan jawabannya.”

“Pada kasus An Seok Won, dia membeli arang sendiri.autopsi memastikan itu bunuh diri.”

“Hanya diasumsikan bunuh diri. Seorang pecandu bunuh diri padahal ada uang di sampingnya? Tidak masuk akal. Kasus itu mungkin belum usai.”

“Dua kasus pertama sudah beres. Yang perlu kita lakukan hanyalah menemukan pembunuh Lee Hye Sun. Itu hanya asumis berdasarkan bukti tidak pasti. Kapten Hong bisa marah.” Soo Young melepas foto di papan.

***

“Ada detektif Kang Ji Hun? Dia tidak menjawab ponselnya.” Seseorang kakek mendatangi kantor polisi.

“Tunggu sebenar. Dia sedang tidak ada di kantor, ada perlu apa?”

“Ahhh aku harus bicara langsung padanya.”

“Ada pesan untuknya?”

“Bukankah ada orang mati di sana beberapa hari lalu? Bukan bunuh diri. Aku punya bukti.”

***

Ahjumma Ibu So Ra datang ke kantor asuransi dengan tergesa.

“Uang asuransi. Kamu berjanji akan membayarku, tapi mana uangnya? Suamiku sudah meninggal. Kamu berjanji akan memberikan uang asuransi jiwanya. Di mana itu???” Ahjumma berteriak pada petugas.

Ahjumma mengamuk untuk segera diberikan uang.

***

Hana sedang menempel-nempelkan stiker bayi dan lain-lain di buku.

“Bayinya suka makan. Siapa yang akan memasak untuk bayinya?” Tanya Woo Kyung.

Hana mengambil boneka singa ehh tapi kayak anjing. “Singa tidak bisa memasak. Ibu bayinya bisa memasak bukan?”

Stiker Ibu yang diberikan Woo Kyung hanya ditaruh di pinggir oleh hana.

“Hana. Mau satukan ibu dengan bayinya?” Tanya Ji Hun. Dan tangan Ji Hun lah dipukul oleh Hana.

“Hana. Bayinya lapar. Mari tanya si ibu…”

“Awan…. kucing….kupu-kupu…”

“Hana mau ikut sertakan ayah juga?” Tanya Ji Hun sambil membawa stiker ayah.

“Si ayah juga merindukan bayinya.” Ucap Woo Kyung. “Mau taruh ayahnya di kamar si bayi?” Woo Kyung meletakkan stikernya di sebelah bayi.

“Hustttttt…  jangan berani-berani memberitahunya. Atau aku cekik lehermu dan kubunuh kamu” Ucap Hana.

“Hana, siapa yang bilang begitu? ayahmu?”

“Hussssttt….”

Woo Kyung pun melihat bayangan gadis dengan gaun hijau lagi.

Bersambung. klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *