Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 6 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 6 Part 1 – Episode sebelumnya bisa kamu baca di sini. untuk selengkapnya ada di tulisan yang ini.

Woo Kyung menyetir mobilnya dengan kecepatatan tinggi. adegan ini adalah adegan Woo Kyung yang mengejar gadis kecil di tempat parkir. namun diselingin dengan dialog Woo Kyung dan temannya sesama konsultan.

“Kenapa kamu berpikir dia adik mendiang lelaki itu?”

“Jika bukan. Kenapa dia muncul.” Ucap Woo Kyung.

“Menurutmu itu mungkin?”

“Mana mungkin aku tidak memercayai penglihatanku.”

“Sebenarnya, menilai hal itu dan hal yang kamu lihat adalah hal yang berbeda.”

“Menurutmu penilaianku salah? Jika bukan adik mendiang anak lelaki itu, lantas dia siapa?”

Adegan berpindah-pindah dari percakapan Woo Kyung dengan sunbaenya. Beserta Woo Kyung yang melihat anak kecil dengan baju hijau di dalam parkiran.

“Ada banyak informasi yang didapat saat berada di alam bawah sadar. Beberapa mimpi terjadi. Tapi ada juga yang delusi. Anak itu bukanlah adik dari mendiang. Itu hal yang kamu ciptakan. Sebuah delusi. Dia tidak nyata karena hanya hidup dalam pikiranmu.”

Anak kecil itu lari sampai ke lantai atas. Woo Kyung tetap mengejarnya. Hingga di paling atas gedung. Mereka bertatapan.

***

Malam hari. Hari pun hujan. Jeon Soo Young masuk ke dalam mobil Ji Hun sambil membawa makanan.

“Apa mereka akan datang?” Tanya Ji Hun. “Entah sudah berapa lama kita menunggu.”

“Sudah lima jam lebih 45 menit.” Soo Young pun memakan rotinya.

“Kamu orang yang pintar. Kamu ingat kasus Park Ji Hye? Kamu tahu, aku menginterogasimu sebagai tersangka.”

“Aku ingat.”

“Setelah kasus ditutup. Kamu menanyaiku sesuatu. Bagaimana si penjahat bisa membuat Park Ji Hye keluar saat larut malam begitu padahal wanita itu amat tertutup?”

“Lalu?”

“Kamu pernah memikirkan cara penjahat membujuknya?”

“Katamu kita polisi, bukan novelis.”

“Jadi kamu tidak memikirkannya? Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik.” Soo Young pun dijewer. Wkwkw…

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku memeriksa apakah kamu manusia atau robot.”

Seseorang nampak keluar. “Dia orangnya bukan?” Tanya Ji Hun.

“kita perlu memastikan.” Mereka berdua pun keluar mengejar pria tersebut.

“Permisi, di mana stasiun metro terdekat?” Tanya Soo Young. Pria itu terdiam.

Kemudian Soo Young dipukul dan pria tersebut pun lari. Saat terkejar, Soo Young memukul pria ini sampai babak belur. Ji Hyun sampai turun tangan melerainya.

***

Pria tersebut diobati dengan kasar oleh Ji Hyun di kantor polisi. “Kenapa kamu memukulku?”

“Kamu sungguh mau kupukul?” Tanya Ji Hun.

“Lagi pula kamu akan tertangkap. Kenapa repot-repot kabur?”

“Cobalah menjadi buron. Kamu pasti hanya bisa kabur. Masalahnya, aku hanya mau mencuri uang. tapi wanita tua itu muncul.”

“Tanggal 24 oktober pukul 11.00 kamu menerima telpon dari An Seok Won bukan?”

“Apa?”

“An Seok Won. kamu tidak mengenalnya?”

“Bukankah kamu menangkapku atas pencurian di karauke?”

“Itu akan ditanyakan orang lain.”

“Apa-apaan ini?”

“Menurutmu apa? Jawab saja yang benar. Hukumanmu bisa dikurangi nanti.”

“Kamu akan memberikanku hukuman ringan?”

“Kamu menerima telepon darinya?”

“Ya.”

“Dia bilang apa?”

“Dia mau bermain kartu.”

“Kartu? Maksudmu berjudi?”

“Dia kencanduan.”

“Dia mengatakan hal lain?”

“Tidak. Apa dia berbuat salah?”

“Kamu orang terakhir yang dia telpon sebelum mati, tapi tidak ada pesan?”

“Dia sudah mati?”

“Dia mati di mobilnya dan meninggalkan arang serta sebuah wasiat.”

“Dia bunuh diri? Mustahil.”

“Memangnya kenapa?”

“Dia sangat melarat. Tapi akhirnya menemukan cara mendapatkan uang.”

“Dengan cara apa?”

“Entahlah. Dia sangat senang karena bisa mendapatkan uang dengan mudah.”

“Berapa banyak? Berapa yang akan dia dapatkan?”

“Aku tidak tahu. Katanya untuk sementara waktu, dia tidak perlu cemas soal berjudi. Katanya dia akan bisa bersantai sembari bermain kartu. Dia sungguh bunuh diri?”

***

Soo Young sedang serius melihat rekaman CCTV kemudian Ji Hun pun datang. “Kamu sedang apa?” Tanya Ji Hun.

“Aku sedang melihat video saat pembelian arang.”

“Kamu bilang sudah mendatangi semua toko tersebut, bukan?”

“Aku memperluas area pencarian sampai lingkungan rumah An Seok Won…. Maaf.”

“Kusadari kamu pernah melakukan kesalahan besar. Aku tidak peduli jika cara bicaramu seperti robot atau kamu punya motor mahal. Kenapa? karena tidak ada kaitannya denganku. Tapi lain hal jika kamu gila. Kenapa?karena itu berbahaya.”

“Kejadian itu sudah lama sekali.”

“kamu akan melakukan hal serupa jika tidak kuhentikan tadi. Akan aku abaikan kali ini, tapi jika aku melihatmu berbuat aneh lagi. Kamu keluar. Kenapa? karena petugas polisi gila adalah musuh semua orang.”

***

“Awalnya mereka menolak. Tapi akhirnya mengirimkan yang baru. Astagaa…” Ucap sekertaris Woo Kyung pada Woo Kyung saat masuk ke ruangan kerja. “Ahh kapan mereka membetulkan ini? *Atap bocor.”

“Min Ju. Apa itu?” Tanya Woo Kyung.

“Ahhh… Si Wan meninggalkannya sebagai hadiah untuk Anda. Kurasa dia sedih karena konselornya diganti.”

Woo Kyung melihat miniaturnya. “Dia membuatnya dengan baik.” Woo Kyung melihatnya dan di dalamnya ada sebuah surat.

“Adik kecilku ada di sini.” Woo Kyung mencari dan gambarnya ada di bawah tangga rumah-rumahan. Ia mengingat ucapan Si Wan yang mengatakan adiknya sudah meninggal.

Dan Woo Kyung melihat sosok anak kecil itu lagi. Woo Kyung pun mendekatinya.

“Buktikan kepadaku, kamu nyata. Jika kamu benar-benar nyata, aku akan menyelamatkanmu.” Gadis kecil melihat ke atas. ia pun menunjuk. Air mulai melebar di atap. Kemudian terjadi retatakan. Air pun dengan sangat deras turun.

Woo Kyung pun terbangun.

***

Ji Hun dan Soo Young mendatangi sebuah rumah. Rumah ahjumma.

“Kenapa repot-repot datang ke tempat kumuh ini? aku malu.” Ucap ahjumma.

“Kamu berhenti kerja. Kami tidak bisa menghubungimu, jadi terpaksa datang.” Ucap Ji Hun.

“Hasil autopsinya sudah keluar?”

“Belum. Belum keluar.” Ucap Soo Young.

“Kenapa lama sekali?”

“Kenapa kamu berbohong?” Ucap Ji Hun.

“Apa?”

“Katamu suamimu tidak punya ponsel. Sebelum tewas, dia bahkan bicara dengan konselor putri kalian.”

“Benarkah? Mungkin ponselnya sudah diperbaiki.aku tidak tahu. Sungguh.”

“Omong-omong, kami sudah melacak keberadaannya. Katamu dia meninggalkan rumah sudah lebih dari dua pekan. Tapi ponselnya selalu di dekat sini. sampai di hari kematiannya. Kenapa?”

“Mana aku tahu. Kurasa dia berada di sekitar sini.”

“Kenapa kamu tidak bilang dia pecandu judi?”

“Itu bukan sesuatu untuk dipamerkan.”

“btw, kamu makin cantik dari sebelumnya. bahkan kamu memakai riasan.”

“Apa pedulimu?”

“Kamu bahagia suamimu sudah mati? Berapa bayaran asuransinya? 100.000 sampai 200.000 dolar? Satu juta? Satu juta dolar? Kamu pasti tidak akan mau mencuci piring di air kotor jika memikirkan uang itu. pikirkan kesulitan macam apa yang diberikan suami jahatmu. Kamu harus berdandan, menikmati hidup dan tidur nyenyak bukan? Kamu tahu apa kata orang? Saat seorang suami tewas, pembunuhnya adalah sang istri. Saat suamimu ditemukan. Kamu bolos bekerja. apa yang kamu lakukan? Kamu sibuk membunuh suamimu.”

“Aku tidak membunuhnya. Aku tidak membunuhnya.”

“Apa yang kamu lakukan hari itu?”

Malam itu…

Sang anak menangis karena ayah memukuli ahjumma. Anaknya melihat semuanya.

“Semalaman dia bertindak seperti monster. Dia terus-terusan memukuliku seperti mau menghancurkanku. Sampai dunia kiamat. Saat aku membuka mata, hari sudah pagi. Aku tidak bisa bergerak. Aku hampir tidak bisa mengantar putriku ke sekolah dan berbaring di kasur seharian.”

“Itu artinya, tidak ada yang bisa memastikan alibimu. Kapan suamimu pergi?”

“Dia sudah tidak ada saat aku bangun.”

“Kenapa kamu berbohong dan bilang dia ke Jeonju?”

“Dia yang menyuruhku. Katanya jika ada yang bertanya, aku harus bilang dia ada di lokasi konstruksi di Jeonju.”

“Kenapa?”

“Menurutmu kenapa? karena para kreditur. Mereka mengerubungi kami seperti tikus. Saat kami pertama melihat kalian, aku juga berpikir kalian kreditur.” Ahjumma menangis. “Aku tidak membunuhnya. Aku tidak membunuhnya. Sungguh.”

Ji Hun mengambil kertas dan pulpen.

“Bisakah kamu menuliskan ucapanku?” ahjumma pun mulai menulis. “Tawa layaknya binatang. Yang semanis tangisan.”

Berlanjut ke bagian 2 klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat