Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 5 Part 2

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 5 Part 2 – Episode sebelumnya kamu bisa baca di sini. Untuk selengkapnya ada di sini yaaa….

Si Wan kembali membuat rumah-rumahan. Dari dekat konsultan Woo Kyung berbicara dengan seorang ahjussi yang konsultan juga.

“Dia mahir dan sangat fokus.dia dibesarkn di keluarga kaya dan dekat dengan orangtuanya. Dia menyaksikan adiknya tewas dalam kecelakaan mobil. Pasti dia syok, tapi kondisinya perlahan membaik. Sejak awal ini bukan kasus serius.” Ucap Lelaki.

“Tidak serius sampai dia mendorong temannya dari tangga?”

“Itu terjadi saat anak-anak bertengkar. Kelarga korban mencabut tuntutannya. Semua sudah berakhir. Bu Cha, kenapa kamu begitu pesimis?” ahjussi mengeluarkan file. “Dia butuh perawatan khusus dan spesial? Orang tua anak itu marah besar jika kamu memperlalukannya seperti orang gila.”

“Aku hanya membuat keputusan objektif sebagai konselornya.”

“Bu Cha, kurasa kamu belum pulih sepenuhnya. Kamu kehilangan bayimu yang sudah hampir lahir. Itu bukan masalah kecil.”

“Tidak… aku, aku baik-baik saja dan…”

“Orang tua Si Wan bersikeras meminta konselor baru. Sampai mentalmu siap, tangani saja masalah-masalah biasa untuk sementara. Bisakah kita mengambil jalan mudah saja mulai sekarang?”

***

Saat akan masuk ke pusat anak tempat kerja Woo Kyung. Ji Hun berkata pada Soo Young.

“Yak… aku akan menelpon dulu. kamu masuk saja duluan.”

“Kamu tidak nyaman karena dia istri dari kekasih mantan pacarmu?” wkwkwkkw…. akhirnya Ji Hun yang disindir pun ikut masuk bersama dengan Soo Young.

Dua detektif ini sementara menunggu Woo Kyung di dalam kantornya.

“Dia konselor dari anak pria yang tewas itu.” Ucap Soo Young.

“Apa?”

“Aku diberi tahu istrinya saat wanita itu memukul mobil suaminya.”

“Yakkk… kenapa baru bilang sekarang?”

“Aku baru ingat.”

Soo Young juga menemukan buku Seo Jeong Ju. Dan Ji Hun melihat ada atap yang bocor di atas. saat melihat-lihat pula, JI Hun melihat gambar yang di belakanganya ada tulisan saat bulan ada di atas ladang jelai.

Woo Kyung pun masuk ke ruangannya.

***

“Apa ini pembunuhan?” Tanya Woo Kyung.

“Kenapa kamu berpikir begitu?” Tanya Soo Young.

“Jika ini kematian biasa, polisi tidak perlu mendatangiku.”

“Cha Woo Kyung Sshi, kamu orang terakhir yang bicara dengan An Seok Won.” Ucap Ji Hun.

“Sungguh?”

“Kenapa kamu menghubunginya?” Tanya Soo Young.

“Aku menghubungi Ibunya So Ra, tapi nomornya sudah tidak aktif, jadi aku menghubungi ayahnya. So Ra, adalah nama anak mereka.”

“Kalian membicarakan apa?”

“Kondisi sang anak.”

“Kamu memang baisa memeriksa keadaan anak-anak itu?”

“Ya. apalagi jika kasusnya mengusikku.”

“Kenapa masalah anak mereka mengusikmu?”

“Sebelum So Ra belajar berjalan,ayahnya menyakiti dia. Ibunya juga menderita.”

“Ayahnya bilang apa?”

“Katanya So Ra baik-baik saja.”

“Tentu saja dia akan bilang begitu. dia tidak akan bilang, aku memukul kepalanya pagi ini saat di telpon. Kamu menanyakan keadaan kepada ayahnya yang kasar? Itu tidak masuk akal bagiku.”

“Menanyakan keadaan anak kepada ayahnya yang kasar bisa mengurangi sikap kasarnya. Itu menjadi pengingat bahwa ada yang mengawasi.”

Kini Soo Young yang bertanya. “Pada saat kalian bicara, sejak pukul 14.00 sampai keesokan harinya, di mana kamu dan apa yang kamu lakukan?”

“Sekitar pukul 14.30 aku pergi ke pasaraya dan belanja dengan putriku. Pukul 16.00 aku menemui direktur pusat anak dan memulihkan posisiku.”

“Pemulihan posisi.” Tanya Ji Hun.

“Aku mengambil cuti hamil. Satu jam kemudian, aku berbelanja untuk makan malam di swalayan dekat rumah. Aku memasak sup boga bahari. Suamiku pulang kantor dan kami makan malam bersama. Lalu menonton kartun dengan putriku. Keesokan harinya, aku berdiam di rumah.”

“Kamu mengingat hari itu sampai ke detailnya?”

“Itu hari istimewa. Hari itu aku menyadari suamiku berselingkuh.”

***

Ji Hun masih saja berpikir di dalam kantornya.

“Saat bulan terbit di atas ladang jelai. Yakkk… bukankah itu terdengar familiar?”

“Itu dari “pengidap lepra” karya Seo Jeong Ju.” Ucap Soo Young. Sedih karena matahari serta birunya langit, saat bulan terbit di atas ladang jelai, pengidap lepra itu memangsa seorang anak.”

“Seorang anak?”

“Lepra adalah istilah lain penyakit kusta. Karena ada kepercayaan umm memakan anak bisa menjadi obat, dahulu sekali, ada rumor bahwa pengidap lepra memakan anak-anak.”

“Mengerikan.”

“Penganiyayan terhadap anak. Memakan anak. Ini penganiyayaan anak.”

Ji Hun nampak mengingan sesuatu. Ia mencari di tumpukkan file. Berkas kasus Park Ji Hye. Puisi yang sama ada di belakang foto milik Ji Hye.

***

Lee Eun Ho membagikan mainan kincir pada anak-anak di TK. Saat itu, anak Woo Kyung baru dijemput oleh Ibunya.

“Bagus bukan? Supir Truk membuatnya. Supir truk ada di sana.” Eun Seo menunjuk pada Eun Ho.

Eun Ho pun memberi salam pada Woo Kyung.

Eun Seo pun pulang dan masih ada di dalam mobil.

“Tutup jendelanya. Kamu bisa terkena salesma. Ahhh hati-hati tanganmu.”

“Ommma… kenapa kincir angin berubah warna ketika berputar?”

“Karena campuran warnanya.”

“Kenapa warnanya tercampur?”

“Karena… tanyakan pada gurumu lain kali.” wkwkwk

“Berapa malam lagi sampai ayah kembali?”

“Ayahmu pergi dinas ke tempat jauh. Dia akan lama.”

“Aku merindukannya. Aku ingin menghubunginya.”

“Dia sibuk sekali.”

Eun Seo terus merengek sampai Woo Kyung tak sadar di depannya lampu merah. Beruntung tidak ada hal buruk terjadi.

***

Woo Kyung dan Kim Min Seok mengurus berkas perceraian.

“Ada verifikasi penyelesaian tiga bulan lagi.kalian berdua harus hadir.” Ucap petugas yang bekerja pada keduanya.

Meraka berada di pengadilan keluarga dan akan pergi.

namun akhirnya makan bersama. Woo Kyung pun makan dengan lahap.

“Aku sangat lega melihatmu makan dengan lahap. Terima kasih, aku juga sungguh minta maaf.”

“Semoga kamu tidak bahagia. Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Karena aku berharap kamu tidak bahagia.”

“Aku akan berusaha semampuku. Aku akan melakukan apapun untuk kamu dan Eun Seo.”

“Ibuku tidak tahu. Eun Seo masih terlalu kecil untuk mengerti. Aku ingin memberitahunya perlahan dan membuat mereka mengerti.”

Woo Kyung mendadak mendapat telpon. Ia tak sengaja menjatuhkan tasnya. Saat mantan suaminya membantunya membereskan tasnya. Ia melihat ada brosur anak hilang.

“Berikan kepadaku.” Ucap Woo Kyung.

“Jelaskan dahulu. Apa yang kamu lakukan?”

“Persis seperti yang kamu lihat. Aku mencari keluarga anak itu.”

“Ini semua sudah berlalu. Semua sudah berakhir.”

“Mungkin menurutmu begitu.”

“Apa?”

“Usai kejadian yang menimpa Cahaya Matahari, aku merasa itu ganjaran akibat membunuh seorang anak. Karena itu aku kehilangan anakku. Begitulah aku membayar perbuatanku. Itu yang aku pikirkan.”

“Apa hubungannya dengan hal lain?”

“Kamu juga meninggalkanku. Aku belum membayar dosaku. Aku kehilangan anakku. Aku kehilangan suamiku. aku punya apa lagi? Aku takut dan marah. Selagi aku menanganinya seperti wanita gila, anak itu muncul. Yang harus aku lakukan adalah menyelamatkan anak itu. begitulah aku menebus dosaku.”

“Jangan bilang kamu melihat anak itu lagi. Kamu tidak bisa melihatnya lagi. Dia muncul lagi? Bagaimana dengan rumah sakit? Kamu sudah menemui dokter? Kamu minum obat?”

“Aku tidak gila. Selain itu, dia nyata.”

Woo Kyung pergi ke tempat parkir. Dari kaca spion, ia melihat gadis dengan gaun hijau berlari.”

Bersambung. Klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat