Advertisements

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 3 Part 2

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 3 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini yak.

Pewarta berita membacakan berita.

“Park Ji Hye adalah kaki tangan kasus penyiksaan anak Kim Han Sol. Polisi menyelidiki kematian karena terbakarnya hanya berselang tiga hari semenjak kebebasannya. Kasus ditutup. Karena kematian Park Yong Tae. Polisi mengungkapkan mereka menemukan bukti bahwa tersangka menguntit korban sejak korban bebas dari penjara. Ada surat wasiat ditemukan yang mengakui pembunuhannya, jadi polisi menyimpulkan tidak ada kaki tangan dan menutup kasusnya karena tersangka bunuh diri.”

***

“Bukankah melegakan menutup kasus ini dengan cepat? Jika kita terus lama-lama, para reporter akan mencecarku sampai mati.” Detektif Hong menyerahkan berkas dan menyerahkan pada Ji Hun.

Jin Hun terdiam. “Apa?”

“Hyung… pria itu punya rasa tanggung jawab yang kuat dan cukup berani untuk membakar orang sampai mati. Bukankah itu aneh dia menyatakan misinya berakhir setelah membunuh satu wanita saja?”

“Apa maksudmu?”

“Apakah Park Ji Hye satu-satunya iblis yang membunuh anaknya?”

“Maksudmu, dia seharusnya melakukan serangkaian pembunuhan?”

“Bukankah itu terlalu lemah untuk rasa tanggung jawabnya? Ini tidak seimbang. Ini sedikit aneh. Rasanya tidak benar.”

“Seperti yang selalu kukatakan, kamu terlalu banyak berpikir. Itu tidak ada gunanya.kita tidak bisa membaca pikiran panjahat 100 persen dan tidak perlu melakukannya. Kisah dan kesimpulannya tidak pernah seimbang. Kita polisi, bukan novelis.”

“Aku harus terus bekerja dengan bocah yang hampir membunuhku itu?”

“Tentu saja.”

“Aku merinding setiap kali melihatnya. Kenapa dia duduk berhadapan denganku?”

“Itu sempurna. Kamu tidak akan pernah tertidur saat melakukan pengintaian. Karena merinding. Selamat.” Wkwkwk.

“Terima kasih. Sempurna sekali.”

***

Ji Hun kembali ke mejanya. Hobaenya bertanya, “Bagaimana pelaku menyeret Ibu Park ke TKP? Dia sangat tertutup. Tidak mudah membuatnya pergi sejauh 20 km di malam hari. Dari sudut pandang Paek Ji Hye. Park Yong Tae penguntitnya dan dia mengikutinya.”

“Lalu.apakah itu mengubah fakta bahwa dia membunuhnya?”

“Tidak… tapi…”

“Kita tidak bisa membaca pikiran penjahat 100 persen dan tidak perlu. Kisah dan kesimpulannya tidak pernah seimbang. Kenapa?kita polisi, bukan novelis.” Wkwkwkw kalimatnya dicopy. “Kata Timjang-Nim.”

Soo Young dipanggil untuk melihat rekaman CCTV. Di monitornya semacam ada komentar nari Knet. “Red Cry, Misi yang kamu selesaikan. Hebat dan mulia. Semoga beristirahat dalam damai.”

***

Woo Kyung menyerahkan gambar pada seseorang. *dokter?

“Dia cukup pandai menggambar. Gajah, buaya dan jerapah. Bahkan detail kecilnya akurat. Anting Ibu, dasi Ayah dan jam tangan.”

“Tapi bocah itu sendiri digambar dengan buruk. Dia bahkan tidak punya mulut.” Ucap Woo Kyung.

“Seolah-olah dia tidak benar-benar ada. bagi orang tuanya atau dunia. Dia bahkan tidak peduli pada dirinya sendiri.”

“Apakah Sunbae juga setuju?”

“Seperti katamu, dia mungkin anak terlantar. Kamu tepaisnya?”

“Bukan.”

“Sepertinya ini kasus yang cukup serius. Kita harus memisahkannya dengan orangtuanya. Juga saudaranya.”

“Apa? Suudara?”

“Kamu tidak melihatnya? Ada seorang gadis kecil dalam gambar. Lihat. Di pohon. Ada anak kecil lain yang terabaikan. Dia lebih kecil dari bocah iu. Anak itu lebih muda. Adik perempuan.”

Woo Kyung mengingat anak kecil dengan gaun hijau. Ia melamun. “Woo Kyung?”

“Itu dia. adik perempun.”

***

Woo Kyung menghubungi polisi perempuan lagi.

“Baik ada adik laki-laki atau perempuan, sama saja. sejak saat itu sampai sekarang, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menemukan keluarga anak laki-laki itu.”

“Aku tahu kamu sangat ingin menemukan mereka sama sepertiku. Bukankah akan membantu jika kamu memiliki petunjuk?”

“Baik. Kalau begitu. apa pertunjuknya?”

Woo Kyung menyerahkan gambarnya.

***

“Kamu mau menemukan keluarga anak itu dengan ini?” Woo Kyung membicarakannya dengan suaminya.

“Ya. itu stempel yang tidak biasa, mungkin bisa saja. polisi  akan menanyai layanan pengasuhan anak. Akan lebih efisien jika mencari daring dan memakai media sosial. Itu keahlianmu.”

“Perusahaan kami tidak melakukan ini.”

“Jagiyaaa….”

“Kamu sudah berusaha keras untuk mencari keluarga itu. ini berlebihan.”

“Mendiang anak lelaki itu memiliki adik yang terabaikan. Kita harus menemukannya dan menyelamatkannya.”

“Kenapa kita harus melakukan itu? polisi sedang mencarinya. Hentikan. Aku ada rapat.”

“Aku melihat gadis itu lagi.”

“Apa?”

“Di rumah pemakaman tempat bocah laki-laki itu berada.”

“Apa maksudmu?”

“Ada adik bocah yang tewas itu. karena itulah dia memintaku untuk membantu.”

“Yeobo…”

“Jangan melihatku seperti itu.”

“Mari pergi ke dokter.”

“Tidak bisakah kamu membantuku?”

“Saat diumumkan adikmu dalam kondisi vegetatif, kamu terbaring di tempat tidur selama sebulan lebih. kamu berada dalam kondisi separah adikmu. Kamu ingat?”

“Kenapa kamu mengungkit Se Kyung?”

“Karena rasa bersalahmu, kamu sama sekali tidak peduli kepada aku atau Eun Seo.”

“Aku bisa apa lagi? Aku bisa berbuat apa lagi?”

“Ada orang lain di dunia ini juga. Woo Kyung…sadarlah. sekali sudah cukup. Jangan seperti itu lagi. Jangan pernah.”

***

Eun Seo pulang sekolah. Saat keluar, ia tengak-tengok dan tersenyum atas kehadiran seseorang.

***

Woo Kyung mengunjungi adiknya. Ia menyapa ahjumma yang merawatnya.

“Se Kyung sepertinya lebih sehat.”

“Aku membiarkannya terkena sinar matahari setiap hari.”

“Terima kasih.” Ahjumma pun pergi.

Woo Kyung menapatkan telpon dari Ibunya. “Ya, Omma…”

“Kamu menjemput Eun Soo?”

“Apa? Maksud ibu? Seharusnya Ibu yang menjemputnya.”

“Ibu datang tepat waktu. Tapi dia tidak ada di sini. apa yang terjadi pada Eun Seo?”

“Apa? Ibu bilang apa?” Woo Kyung kesakitan perutnya. Ia langsung pergi dengan taxi ke TK. Suaminya pun datang menyusul.

Eun Seo dicari kemana-mana.

Akhirnya pergi ke CCTV.

“Di CCTV, Eun Seo terlihat meninggalkan gerbang. Tidak terlihat jelas ke mana dia pergi karena kerumunan. Kamu sudah menghubungi orang tua lainnya?”

Gurunya menjawab. “Ibu Hee Joon dan Tae Kyung melihat Eun Seo. Dia sedang menunggu Ibunya.tidak ada yang aneh.”

“Kami akan menganalisis rekaman CCTV di sana. Kami akan melanjutkan pencarian kami.” Ucap Polisi. “Belum dua jam sejak anakmu hilang. Kami akan menemukannya. Jangan khawatir.”

***

“Jagiya… Eun Seo akan baik-baik saja bukan?” Tanya Woo Kyung pada suaminya.

Kim Min Seok malah pergi begitu saja.

Ibu guru mendatangi Woo Kyung yang masih di TK. “Ibu Eun Seo, kami menghubungi semua Ibu. Aku akan memberitahu anda jika mendengar…”

Tiba-tiba Woo Kyung mendengkan suara anak kecil tertawa. Ia pergi mengikuti suara tersebut. Woo Kyung mendatangi rumah kaca. Ia masuk.

Di dalamnya ada Eun Seo yang bermain dengan Lee Eun Ho.

“Eun Seo…”

“Ommaaa…” Eun Seo berlari ke arah Ibunya.

“Eun Seo kamu baik-baik saja?”

“Omma… supir truk itu menggendongku seperti pesawat ruang angkasa. Itu sangat menyenangkan.”

“Ada apa denganmu ahjussi? Kamu tidak tahu kami mencarinya?” Ibu Guru Eun Seo mengomel.

“Eun Seo memintaku bermain dengannya. Maafkan aku.”

Woo Kyung langsung menampar ahjussi supir truk. Eun Seo yang melihatnya pun memangis. Woo Kyung kemudian kesakitan perutnya. Saat kesakitan, ia melihat gadis kecil itu lagi.

Klik di sini untuk kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *