Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 2 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 2 Part 1 – Episode sebelumnya bisa kamu baca di sini yaaa…

Dalam sebuah penjara. Seorang tahanan ditunggu oleh Ji Hun.

“Istri anda ditemukan tewas terbakar di mobilnya. Sudah dengar beritanya bukan? Adakah orang yang membenci Anda? Di antara teman-teman anda…”

“Bukankah seluruh negri membenciku? Semua orang ingin membunuhku dan istriku.”

“Ada dugaan? Anda nampak lumayan marah.”

“Kamu tidak memahami situasi kami. Kamu suka mencampuri urusan keluaga orang lain.”

“Pembunuhan itu urusan keluarga? Setelah membunuh putranya sendiri dan membuang mayatnya, bagaimana istri Anda? Dia tidak terpengaruh sama sekali? Apa dia ingin mati karena merasa bersalah?”

“Istriku tidak akan bunuh diri.”

“Kapan Anda bisa yakin kematiannya bukan bunuh diri?”

“Ji Hye sangat religius.”

“Religius? Agamanya memperbolehkannya membunuh anaknya sendiri?”

“Itu tidak disengaja. Tidak ada orang tua yang sengaja membunuh anaknya.”

“Dia membakar tubuh anaknya. itu tidak disengaja?”

“Temukan pelaku yang membunuh istriku, detektif.”

***

“Berdasarkan hasil autopsi, penyebab kematian Park Ji Hye adalah gas beracun. Selain itu, ditemukan pula obat bius keras dalam darahnya. Kami akan menyelidiki kemungkinan bunuh diri.” Ucap Dekettif Hong saat konferensi pers.

“Obat bius keras apa yang ditemukan?”

“Tergantung dosisnya. Obat bius kedokteran yang lansung bekerja begitu disuntikkan. Itu dilarang disitribusikan atau diresepkan.”

***

“Dia tidak bersosialisasi dengan siapapun. Tahanan lainnya juga tidak mau bicara dengannya.” Ucap sipir penjara pada Ji Hun.

“Dia semacam diasingkan?”

“Semua orang di sini bersalah.tapi ada beberapa dosa yang tidak terampuni. Perbuatannya itu salah satunya.”

Sipir membuka semacam gudang peyimpanan. “Penting  memeriksa barang pribadi bagi yang dipenjara bertahun-tahun. tapi ada beberapa orang meninggalkan barang mereka. Kami tidak bisa membuaangnya, jadi menyimpannya untuk sememtara.”

Ji Hun memerksa surat-surat. “Luar biasa bukan? Dia menyimpan semuanya. Tiap hari, ada ratusan surat yang datang dari seluruh negri.”

“Akan aku bawa ini sebagai bukti.”

“Aku mendengar rumor, seseorang mengurus sesuatu yang tidak bisa dibereskan hukum. Dengan kata lain, dia memang pantas mati. Kamu juga tidak termotivasi menangkap pelakunya bukan?”

“Meski dia penjahat. Sudah tugasku menangkap pembunuhnya. Aku termotivasi untuk menangkap pelakunya.”

***

Dan yak. Suami Woo Kyung selingkuh dengan Yeon Joo.

***

Suami Woo Kyung dan Woo Kyung datang menemui pengacara.

“Mereka menimbang situasinya bukan?” Tanya Suami Woo Kyung.

“Itu bukan jalan biasa. Peristiwa terjadi di jalanan tol. Tidak benar jika hanya melimpahkan seluruh tanggung jawab ke pengemudi. Wali anaknya juga belum datang. polisi pun sudah menyerah.”

“Lantas bagaimana?”

“Begini. Korban tidak punya keluarga, sejujurnya kita beruntung. Meski menjalani persidangan, itu akan mudah bagi kita. Kemungkinan besar kamu akan dinyatakan tidak bersalah.” Ucap pengacara.

“Anaknya bagaimana?” Tanya Woo Kyung. “Jika aku tidak bersalah. Lantas anak itu bagaimana?”

“Woo Kyung. Kita bicara itu nanti ya?

***

Di dalam mobil. Saat perjalanan pulang. Woo Kyung meminta suaminya menepi karena dia mengatakan “bersyukur” kalau anak itu tidak dicari oleh walinya. Dengan begitu ia tidak kerepotan.

“seorang anak tewas di jalanan, tapi tidak ada seorangpun yang mencarinya. Orangtuanya pun tidak. Tapi baguslah katamu?”

“Tentu saja maksudku bukan begitu.”

“Bagaimana jika ini terjadi pada Eun Seo? Bagaimana?”

“Hentikan.”

“Mengerikan. Situasi ini membuatku takut!” Woo Kyung teriak seperti orang gila.

“Lantas kamu mau aku bagaimana? Ini juga mengerikan bagiku!!!” Suaminya jadi marah. “Memang kamu memikirkanku atau Eun Seo sejak hari itu? Eun Seo menelponku dan menangis tiap malam. Dia merindukan kita. Lalu bagaimana dengan anak di dalam perutmu? Aku sangat mengkhawatirkan bayinya. Semua ini membuatku risau. Ya. baguslah orangtuanya tidak muncul. Aku sangat bersyukur bisa menyelesaikan ini diam-diam. Kelargaku diambang kehancuran. Tidak ada waktu mencemaskan anak yang sudah mati.”

Woo Kyung keluar. Suaminya berusaha menenangkannya. Sementara Woo Kyung terus mengatakan bahwa dia telah membunuh seorang anak.

“Dengarkan baik-baik. Itu hanya kecelakaan. Mendiang anak itu, kamu juga. Kalian berdua mengalami kecelakaan yang mengerikan.”

***

“Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi nampaknya orang tua ini tidak datang.” Ucap dokter saat Woo Kyung melihat jenazah anak itu.

“Bagaimana dengannya?”

“Pertama-tama, dia akan ditaruh di ruang jenazah sebagai jasad tidak diakui. Setelah beberapa waktu, dia akan dikubur bersama yang lain.”

Tak lama. Ada adegan kremasi yang disaksikan Woo Kyung.

“Bagaimana bisa ada anak yang tidak diakui?”

“Tidak semua anak memiliki wali.” Ucap polisi wanita.

“Bagaimana aku pergi mengantar anak itu?”

***

“Itu namanya karma. Saat kudengar dia tewas, aku tidak kasihan sama sekali.” Ucap salah satu ahjumma yang mengenal Ibu Park dan diwawancarai Ji Hun.

“Mungkin memang Anda menantikannya. Anda orang yang gigih. Anda mengatakan hal yang sama. bahkan menambahkan caci maki.” Ji Hun memberikan setumpuk surat yang pernah dikirim ajumma saat Ibu Park di penjara.

“Memang apa salahnya itu?”

“Park Ji Hye dibebaskan, Anda turut andil dalam protes.”

“Aku datang ke sana dengan anggota klub.”

“Mungkinkah Anda mengenal seseorang di sini?” Ji Hun memberikan foto.

“Mereka tidak seperti anggota di web komunitas kami. Semua orang ini tersangka?”

“Mereka menghadiri protes itu, tapi kami tidak tahu siapa mereka. Aku hanya ingin tahu apa anda mengenal mereka.”

“Aigooo… anda sudah jauh-jauh ke mari, tapi aku tidak banyak membantu.”

“Lee Jung Won-sshi, apa yang anda lakukan pada tanggal 29 maret antara pukul 17.00 sampai 7.00 keesokan harinya.”

“Anda mencurugaiku?”

“Tidak. Sekarang semua warga korea adalah tersangka.”

***

Ji Hun membacakan laporan pada sesama detektif.

“Selama 3 hari keluar dari pejara, tidak ada tanda-tanda kontak dengan dunia luar. Dia tidak mengontak keluarganya, memakai ponsel atau surelnya, atau pergi menemui dokter. Tidak ada catatan apapun. Hal menarik kedua adalah obatnya, fentanil adalah obat bius yang tidak banyak diketahui orang. Hampir tidak mungkin Park yang telah dipenjara selama 2 tahun tahu obat ini.”

“Maksudmu, ini pembunuhan?”

“Banyak yang ingin membunuh Ibu Park. Tapi benarkah itu niat membunuh atau hanya ancaman? Orang-orang yang berkontak dengan Park sebelum dia tewas adalah mereka.” Mununjuk pada gerombolan pendemo.

“Sudah ada berapa pemrotes yang kamu identifikasi?”

“Sekitar 80 persen. Tapi tidak ada yang berkaitan dengan bidang kedokteran. Aku sedang memeriksa alibi mereka. Masalahnya adalah 7 orang ini. mereka tidak berkaitan dengan klub atau grup apapun. Kami sulit mengindentifikasi mereka.”

“Kurasa kita berlebihan dengan mencurigai pendemo.”

“hanya mereka yang berkontak dengan Park Ji Hye. Jika bukan mereka, kasus ini tidak akan terselesaikan.

Setelah rapat. Ada detektif lainnya yang memberikan info tentang pendemo 2 tahun lalu yang mungkin berkaitan. Ji Hun langsung bergegas mencari orang yang bersangkutan.

Lanjut ke bagian 2 ya. klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat