Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 10 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 10 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk tahu selengkapnya episode kamu bisa cek di tulisan yang ini.

“Jika melapor kamu akan mati. Kalimat yang bisa digunakan saat anak-anak menjadi target kejahatan. Aku khawatir. Pak Go tidak akan didakwa. “

“Dia melarang hana bilang apa?”

“Mungkin dia melakukan hal kejam kepada anak ini. tapi Hana enggan membahas Ibunya.”

“Aku rasa kita butuh waktu.” Ucap Woo Kyung.

“Dia tidak mengatakan apapun. Mungkin saja hal yang amat penting. Seperti wajah pelaku. Itu intuisiku sebagai detektif.jarang sekali salah.”

“Berdasarkan intuisi detektifmu, bisa jelaskan soal gadis kecil bergaun hijau yang aku lihat?”

“Tunggu sebentar. Kamu melihatnya lagi?”

“Aku hanya penasaran. Aku ingin tahu opinimu sebagai seorang detektif.”

“Kamu sungguh ingin tahu?”

“Ya.”

“Pertama, dia bukan adik lelaku yang kecelakaan itu.”

“Lantas?”

“Saat hatimu terasa kosong, kamu mungkin berhalusinasi.”

“Kenapa harus dia yang aku lihat?”

“Pasti ada alasannya. Dia pasti berkaitan denganmu.”

“Maksdumu, aku mengenal anak itu?”

“Katamu kamu mengingat bentuk jepitan rambut dan pola stoking anak itu. tampak terlalu mendetail untuk sesuatu yang kamu ciptakan di kepalamu.”

“Aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu anak itu.”

“Kamu ingat teman TK-mu? Namun, informasi itu tertumpuk di alam bawah sadarmu. Lalu, saat ada kebetulan serupa terjadi, hal itu pun lenyap. Ini bukan intuisiku sebagai detektif. Tapi pernyataan logis.”

********

Woo Kyung melihat album lamanya . “Sedang apa kamu di sana?” Tanya Ibu pada Woo Kyung.

“aku hanya mencari sesuatu.”

“Anak-anak sudah tidur. Ibu juga harus pulang.”

“Baiklah.” Namun, Woo Kyung akhirnya menemukan satu buah foto.

***

“Kamu terlalu mencampuri urusan orang lain dengan membawa anak itu kemari.” Ucap Ibu. “Seluruh tubuh ibu nyeri karena menjaga dua anak.”

“Karena itulah kutambah sedikit untuk bulan ini.” Woo Kyung memberikan sejumlah uang.

“Kamu mampu? Suamimu sudah tidak ada.”

“Aku punya cukup uang untuk diberikan kepada Ibu.”

“Apa yang kamu lakukan di gudang?”

“Aku mencari album foto lama. Aku teringat ayah. Aku rindu mengobrol dengannya.”

“Dia pria yang manis.”

“Ahh iya. Apa Ibu ingat seorang anak bergaun hijau dengan potongan rambut bob. Ingatkah temanku yang seperti itu? ibu pernah melihatnya?”

“Teman apa?”

“Mungkin aku berumur enam atau tujuh tahun.”

“Mana mungkin ibu ingat temanmu pada masa itu? Ibu baru menikah dengan ayahmu setelah itu. ibu pindah saat kamu masuk SD.”

“Ahh benar.”

“Ibu harus pulang.”

“Ah kenapa aku selalu lupa Ibu adalah Ibu tiriku?”

“Mungkin karena ibu membesarkanmu dengan baik seperti Ibu kandungmu. Ibu pergi…”

***

Woo Kyung mendapatkan telpon. Ia enggan mengangkatnya. “Halo.”

“Ini aku. Ibunya So Ra. Bu Cha, mereka bilang aku tidak bisa mengklaim uang asuransinya. Mereka tidak mau membayarnya karena suamiku bunuh diri. Bu Cha, aku sangat butuh uang itu. adakah cara untuk mendapatkanya? Begitu mendapat uang itu, aku hendak pindah ke rumah bersih dan menyewa tutor untuk So Ra.”

“Bu, kenapa anda menelponku soal ini? aku paham anda sedang kesulitan, tapi jika anda menelponku begini, itu sangat membuatku tidak nyaman.”

“Bu Cha andalah yang bilang akan lebih baik jika suamiku tidak ada.”

“Tidak. Kubilang akan lebih baik jika anda terbebas dari KDRT dan hidup mandiri. Selain itu, aku tidak tahu apapun soal asuransi. Silakan tanya orang lain.”

****

Ibunya So Ra mendatangi Soo Young di kantor polisi.

“Suamiku tidak bunuh diri. Seseorang membunuhnya!!!”

***

Ibu So Ra pun masuk kembali ke ruangan bersama Woo Kyung dan Detektif Hong.

“Meski hanya punya 3 dolar, dia akan lari ke meja judi. Dia tidak akan bunuh diri jika punya 3000 dolar. Tidak akan ada yang memercayainya.” Ucap ahjumma.

“Tempo hari kamu tidak bilang begitu.” Ucap Hong.

“Saat polisi bilang bunuh diri, aku menganggapnya begitu. mana bisa aku berpikir jernih saat suamiku tewas? Bukan itu saja. suart wasiat yang kalian serahkan, itu palsu.”

“Maksudmu barang temuan kami?” Tanya Soo Young.

“Ya. hanya itu yang tersisa setelah kertas bertulisan nomor ponselnya dirobek.”

“Apa maksudmu?”

“Astagaaa…ini. kalian menulis sesuatu saat memarkir mobil. Setelah itu. ini yang tersisa setelah robek di bawahnya.” *maksudnya ada potongan kertas yang hilang, potongan sebelumnya tidak ada.

“Kenapa baru membahasnya sekarang?”

“Sudah aku bilang. Saat itu aku kalut. Kini kalian memercayaiku? Suamiku tidak bunuh diri.”

“Ahjumma…perusahaan asuransi bilang bahwa mereka tidak mau membayar? Asuransi jiwa atau ganti rugi? Tidak akan dihitung jika mati bunuh diri. Itu alasanmu menjadikannya kasus pembunuhan?”

“Apa maksudmu?”

“Ahjumma, kebanyakan orang akan menyangkal itu bunuh diri meski sudah jelas bunuh diri. Mereka bilang suami mereka tidak akan melakukan itu. tapi bagaimana reaksimu saat itu? kamu setuju. Katamu suamimu orang yang berpotensi melakukan bunuh diri. Kamu bilang dia memang mau mati. Tapi kamu bilang dia dibunuh? Aku tahu uang amat penting. Tapi kamu menelan ludahmu sendiri tentang kematian suamimu. Ahjumma, tidak boleh begitu. kamu salah.” Ucap Detektif Hong.

“Aku sungguh-sungguh. Dia tidak bunuh diri.”

“Ahjumma, tahukah kamu sedang mengganggu pekerjaan kami? Menghambat penyidikan, dan mengacau di depan pejabat publik? Kamu juga berusaha mengubah bunuh diri menjadi pembunuhan demi uang asuransi. Itu namanya penipuan asuransi. Kamu melakukan 1, 2, 3, 4. Kamu melakukan 4 kejahatan. Mau dipenjara????” Hong marah tiba-tiba.

“Tidak.”

Usai kejadian ini, Hong meminta Soo Young untuk tidak mengatakannya pada Ji Hun.

Karena penasaran, Soo Young pun melihat robekan kertas dari foto barang bukti.

***

Kini kasus membawa Ji Hun dan Soo Young mencari mobil yang membawa Hana ke panti. Namun, tanya sana sini dan hasilnya adalah nihil.

“Kamu yakin kasus ini berkaitan dengan kasus lainnya?” Tanya Soo Young pada Jihun.

“Kamu bilang dua kasus sebelumnya sudah ditutup. Kita hanya perlu menangkap pembunuh Lee Hye Sun. Ada apa? Tidak sesuai dengan maumu?”

“Bukan begitu.”

“Saat pembunuhnya ditemukan, kita akan mendapat jawaban. Aku akan sabar menunggu.”

“Kita tidak menemukan petunjuk apapun dari panti asuhan. Jika kini juga begitu…”

“Kita harus terus mencari. Itulah namanya penyelidikan.” Ucap Ji Hun.

***

Kali ini Woo Kyung sedang bekerja. ia bersama dengan seorang anak. Anak itu bernama Se Jin. Saat melihat gambar milik Se Jin. Woo Kyung merasa ada sesuatu.

“Se Jin, kamu mendapat cap ini dari mana?”

“Itu bukan cap. Tapi sebuah gambar.”

“Gambar?”

***

“Memang benar ini mobilku. Tapi bukan aku yang mengemudi. Temanku meminjamnya selama beberapa hari.” Ucap seseorang yang diselidiki Ji Hun dengan menunjukkan foto mobil dari CCTV.

“Apa pekerjaan temanmu?”

“Dia bekerja di tempat pusat anak-anak.”

“Tolong beri aku nama dan nomor ponselnya.”

“Namanya Lee Eun Ho… 010…”

“Dia bekerja di pusat anak hanul?” Tanya Soo Young.

“Ya, itu tempatnya.

***

Woo Kyung mengetuk tempat pemeliharaan di kantornya. Ada kakek yang membuka pintu.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku mau menemui pria yang bekerja di sini.”

“Eun Ho? Dia sedang keluar. Sebentar lagi kembali. Tunggulah di dalam.”

Woo Kyung pun masuk. Tak lama, ada telpon yang meminta kakek untuk datang. kakek pun pergi. Woo Kyung menunggu sendirian.

Di dalam lorong sempit. Anak dengan baju hijau itu muncul lagi.

Anak itu masuk ke kamar Eun Ho. Woo Kyung kini ada di kamar Eun Ho. Ada beberapa gambar yang membuatnya penasaran.

Namun, tak lama,Eun Ho pun datang.

“sedang apa di sini?” Tanya Eun Ho.

***

Di sisi lain, Soo Young dan Ji Hun mulai mencari profil Eun Ho.

“Dia sangat kooperatif saat pengumpulan bukti. Aku tidak melihat ada hal mencurigakan.” Ucap Soo Young pada Ji Hun.

“Siapa yang akan mencurigai pria seperti ini? dia tampak sangat lembut.” Ji Hun melihat profilnya dari ponsel.

“Kamu mengenalnya?”

“Penah sekali kehilangan penjahat gara-gara dia…. ahh dia tumbuh di panti asuhan di mana kita menemukan hana. Kamu tidak memeriksa itu?”

“Aku tidak berpikir untuk mengecek sekolahnya. Maaf.”

“Pasang sabuk pengamanmu.” Mereka pun bergegas pergi.

***

“Di mana Pak Lee?” Tanya Eun Ho.

“Dia pergi ke lantai atas untuk mengganti bohlam.”

“Anda sedanga apa di sini?”

“Aku mau menanyaimu sesuatu.” Woo Kyung mengambil lukisan anak yang ia tabrak. “Kamu menggambar cap ini?”

“Aku yang menggambarnya.”

“aku pikir itu cap.”

“kugambar agar mirip seperti itu.” Eun Ho mengambil buku yang berisi gambarnya. “anak-anak menyukai gambar ini.”

“Anak yang menggambar ini tewas dalam kecelakaan mobil. Mereka tidak bisa mengidentifikasinya. Ini orangnya.” Woo Kyung menunjukkan fotonya. “Kamu mengingatnya?”

“Tidak. Aku menggambar itu unuk banyak anak. Sulit mengingat semuanya jika jarang melihat mereka.”

Eun Ho pun melihat ada puisi di balik gambar.

Tak lama, Ji Hun dan Soo Young datang.

“Lee Eun Ho. Lama tidak jumpa.”

Lanjut ke bagian 2 klik di sini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat