Sinopsis Drama Beautiful World Episode 1 Part 3

Sinopsis Drama Beautiful World Episode 1 Part 3

Episode sebelumnya ada di tulisan yang ini yaaaaa guysss..

Paginya, Ibu, Ayah, dan adik Sun Ho pulang dengan bersedih.

***

Seorang Ibu bernama Seo Eun Joo sedang memotong tomat. Karena melamun saat memotong tomat dan terdengar bunyi bel. Pisau pun menggores tangannya.

“Omma…” Ucap putranya dari belakang yang juga mengagetkannya. “Siapa itu?”

“Ayahmu. Dia bilang akan datang malam.”

Sang ayah bernama Oh Jin Pyo, dari rumahnya. Mereka nampak seperti keluarga kaya. dan yaaa emang kaya. Jin Pyo masuk ke dalam rumah sambil menelpon seseorang. “Oleh karena itu, dinas pendidikan seharusnya tidak tahu persoalan ini. astagaaa kamu tidak mengerti? Sulit dipercaya kamu menyebutnya, “kecelakaan sial”….”

“Minumlah susumu. Ibu akan mengambilkan salad untukmu.” Ucap Eun Joo pada putranya.

“Kamu akan pensiun tahun ini. apa kamu ingin menodai reputasimu selama ini? itu sebabnya kamu harus mengendalikan semuanya sejak awal. Demi kebaikan dirimu sendiri. hilangkan semuanya secara diam-diam, bersih dan yang penting, cepat. Demi kebaikan semua pihak. Khususnya saat kita menghadapi audit gabungan ini… polisi akan menyebutnya “mengobrol dengan anak-anak”. Tapi itu cara mereka saat melakukan investigasi. Pastikan anak-anak ini terarah. Kamu tahu bagaimana anak-anak belakangan ini. mereka bercoteh soal banyak hal yang tidak mereka pahami. Mereka akan bicara hal yang tidak benar. Orang tidak akan peduli selama anak-anak mereka aman. Untung saja dia tidak mati. Bayangkan apa yang terjadi jika dia mati? Para wartawan itu mendesak kita dan mengarang berita seenaknya. Adapun kondisi dia, yang penting dia masih hidup. jadi, kejadian ini tidak akan mencolok. Ini hanya usaha bunuh diri. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Dan anehnya. Keluarga macam apa ini? anaknya diam dan minum susu dengan tenang. Ibunya mondar mandir sambil nguping dan mencoba tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa.

“Ibu akan mengambilkan salad untukmu.” Ucap Ibu.

Jin Pyo masih melanjutkan bicara di telpon. “Kita bicarakan besok di kantor.”

“Sun Ho. Bagaimana keadaan dia?” Tanya Oh Joon Seok ada Ibunya.

“Yang Ibu tahu dia sedang dioperasi.”

“Omma…”

“Joon Seok, jangan sekarang. kita ngobrol nanti.”

“Apa Park Sun Ho ini akrab denganmu?” Tanya ayah yang mulai bicara pada Joon Seok.

“Ya.”

“Kamu harus pulang lebih awal dari dinas karena masalah ini?” Tanya Ibu Joon Seok.

“Ini??? apa ini maksudmu?” ayah Joon Seok meninggikan suaranya.

“Soal Sun Ho. Kudengar dia kecelakaan.”

“Sepertinya kamu lebih dahulu tahu soal ini ketimbang aku.”

“Aku punya teman yang tinggal satu apartemen dengan keluarga Sun Ho.”

“Hari ini akan ada detektif yang ingin berbincang denganmu.” Ucap ayah pada Joon Seok.

“Denganku?”

“Mereka mau apa?” Tanya Ibu.

“Mereka juga akan berbincang dengan anak-anak lain. ini bagain dari prosedur. Jangan gugup. Bilang saja kamu tidak tahu apa pun. Jangan mengatakan hal yang tidak perlu yang bisa jadi masalah.”

“Baiklah.”

“Ini bukan investigasi resmi. Lagi pula, kamu masih di bawah umur. segera telpon ayah jika mereka memaksamu atau bersikap menginterogasimu.”

“Baik.”

“Bersiaplah untuk ke sekolah.” Ucap Ibu. Kemudian Joon Seok pun pergi ke kamarnya.

***

“Bagaimana keadaan Sun Ho?” Tanya Ibu Joon Seok pada suaminya.

“Kenapa kamu tanya kepadaku? Sepertinya kamu yang lebih tahu lebih dulu daripada orang lain.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu satu SMA dengan Ibunya Sun Ho, bukan?”

“Kurasa dia tidak akan menelponku untuk mengabari soal ini. pasti keadaannya sangat kacau.”

“Keadaannya memang sedang kacau. Putranya menjadi zombie dalam semalam.” Ucap ayah.

***

Ibu Sun Ho berada di kamar putranya. Ia masih sangat kacau dan menangis. Ia masih mengingat putranya yang mampir ke toko roti di sela-sela lesnya.

Begini…

“Omma…”

“Kenapa kamu di sini? kamu tidak les?”

“Aku punya waktu luang. Jadi, aku mampir.”

“Seharusnya kamu belajar jika ada waktu luang.”

“Di mana Bibi?”

“Membeli bahan makanan. Ibu sedang sibuk. Bawalah roti ini untukmu.”

“Tidak usah.tapi, Omma, aku ingin….”

Ibunya malah memedulikan pelanggan. “Nona… roti isimu sudah siap….” “apa” tanya Ibu pada Sun Ho.

“Soal les…..”

“Kenapa soal les?”

“Sepertinya Ibu sedang sibuk. Bagaimana jika aku membolos dan membantu Ibu?”

“Kamu tidak mau les ya? kenapa? apa ada sesuatu?”

“Tidak, semua baik-baik saja.”

“Lalu kenapa? kamu tidak suka?”

“Bukan begitu. kulihat Ibu sangat sibuk.”

“Dasar anak ni. Jika kamu mencemaskan Ibu, kamu harus belajar dengan keras. Dengan begitu, Ibu akan senang. Yakkk… kamu tidak enak badan?”

“Tidak… aku pergi.”

“Sun Ho. Kamu stres dengan nilai-nilai pelajaranmu?”

“sama sekali bukan itu.”

“Jangan terlalu dipikirkan. Terkadang nilaimu bagus, terkadang tidak. Percaya dirilah dan jangan sedih.”

“Baiklah.”

Kilas balik selesai.

***

Ibu Sun Ho masih menangis kemudian suaminya datang.

“Yeobo.”

“Yeobo. Sun Ho bilang tidak ingin les. Tapi aku memaksanya untuk les.”

“Ini bukan salahmu.”

“Seharusnya aku tidak menyuruhnya pergi. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi. Ini salahku. Yeobo, dia begini karena ku. Aku harus bagaimana? Kenapa aku memaksanya les? Kenapa?” Ibu Sun Ho histeris lagi.

“Sun Ho akan siuman. Dia anak yang kuat.”

“Yeobo. Aku tidak bisa hidup tanpa Sun Ho. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak sanggup hidup. aku tidak bisa hidup tanpa dia.”

Sementara Soo Ho melihat ini di pintu.

***

“Kenapa anak itu ke atap gedung? Kita sudah mengunci pintunya. Aku tidak tahu… lalu apa yang kamu tahu??? Untung saja dia selamat. Kejadian ini bisa membahayakan semua. Mulai hari ini, prioritas utamamu memastikan anak-anak tidak mengatakan hal yang tidak perlu.” Ucap mungkin sih kepsek.

Nahh lelaki yang datang ke RS ternyata gurunya Sun Ho. Kepsek ngomel lagi. “Saat hal seperti ini terjadi, pasti ada anak-anak yang mengarang cerita untuk mendapatkan perhatian. Sampai masalah ini mereda, tutup semua kegiatan klub dan jangan biarkan anak-anak berkumpul.”

“Baik, Pak.”

“Reputasi sekolah kita di ujung tanduk. Kita baru saja diakui sebagai sekolah anti kekerasan. Polisi yang menyerahkan mendali pada kita, menghubungi kita. Dia bilang kejadian seperti ini bisa menyusahkan kita. Apa ada yang terjadi pada anak-anak ini?”

“Aku belum bicara pada mereka.”

“Kamu harus bicara dengan mereka untuk tahu persoalan ini.”

“Sejauh yang aku tahu, tidak ada yang terjadi. Tapi jika ada yang terlewat….”

“Maka, tidak terjadi apa pun!!! Kamu sudah kirim surat kepada para orang tua bukan?”

“Ya.”

“Awasi semua murid baik-baik. Juga, perhatikan cara bicaramu pada mereka.”

“Baik.”

“Kamu membawa rapor Park Sun Ho?”

“Ini…”Pak Lee memberikannya pada Pak Baek.

“Kudengar adiknya juga bersekolah di sini.”

“Bu Ham Young Joo adalah wali kelasnya.”

“Begitu rupanya.”

“Omong-omong… Nyonya menelpon.”

“Nyonya???” Pak Lee bingung.

“Tentu saja istri Dirut. Siapa lagi memangnya?”

“Lalu?”

“Joon Seok syok dengan hal yang menimpa Sun Ho. Kamu harus lebih memperhatikan dia.”

Pak Lee pun undur diri. Pak Baek kemudian memberikan pengumuman pada semuanya. “kirim surat pada semua orang tua murid. Semua guru harus berusaha keras menjaga para murid agar tidak keluar dari batas. Dan bantu para murid untuk kembali fokus pada pelajaran, ruang obrolan kelas sementara ini ditutup.”

Lanjut ke bagian 4 y. klik di sini.

Advertisements

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!